6/30/13

Surga itu Roma: Ada Banyak Jalan Menujunya

Seorang calon mahasiswa (A) mempertanyakan idealisme orang yang sebentar lagi meninggalkan kemahasiswaannya (B). “Lo mau ikut Indonesia Mengajar?”

Yang ditanya dengan tegas mengangguk. “Memang kenapa?” tanyanya setelah melihat lawan bicaranya cengengesan meremehkan. Mungkin maksudnya bukan meremehkan, tapi ia tidak tahu lagi ekspresi apa itu: senyam-senyum menyembunyikan tawa.

Sebulanan ini B selalu mantengin televisi swasta baru yang menayangkan kegiatan Pengajar Muda yang tergabung dalam Indonesia Mengajar. Ia yang juga aktif mengajar walau tidak terikat dalam organisasi manapun itu belajar banyak tentang metode-metode pengajaran kreatif para Pengajar Muda. Selain itu, keteguhan para Pengajar Muda menghadapi segala kondisi yang tidak biasa juga menjadi oase bagi padang gurun yang selama ini harus ia lewati.

Tulisan ini dibuat bukan untuk promosi program televisi ataupun gerakan non-profit. Apabila ingin lebih kenal dengan Indonesia Mengajar, silahkan berkunjung ke sini. Mungkin ada yang mau menelurkan idealismenya disana.

Tidak ada habis-habisnya A mencecar, “Lo yakin anak-anak itu bakal memajukan bangsa?”

Kalau sudah mengeluarkan pertanyaan goal ini, jawaban yang keluar pasti terdengar biasa, “Yang penting itu proses, bukan hasil.” Klise? Memang. Tapi semoga itu termasuk jawaban orang-orang optimis, bahwa proses yang baik pasti memberikan hasil yang baik. Izinkan saya meminjam pepatah Jawa: Sopo nandur bakal ngundhuh. Seseorang akan menuai hasil sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

“Kayak lo nggak kenal anak zaman sekarang saja.”

Tentu saja kenal. Bahkan tanpa perlu kenalan. Media saat ini begitu telanjang menggambarkan wajah-wajah yang katanya penerus (kini sedang up date kata pengubah) bangsa. Wajah anak zaman sekarang itu sama. Meski tidak semua, tapi kebanyakan: sama. Beraninya play safe. Penganut ideologi hedonisme ulung. Hobi banget ngikut-ngikut. Dan menurut si A, inilah yang membuat bangsa kita hanya berlari di tempat, tidak maju-maju, bahkan mundur karena lelah sendiri (kilahnya sih mau istirahat, tapi kesenangan istirahat, soalnya dikipasin terus sama orang asing, ujung-ujungnya menjadi asing di negeri sendiri, edan!).

“Mereka yang di pelosok nggak terkontaminasi kayak kamu, Cak!

Menurut B, globalisasi telah mengontaminasi otak anak-anak kota. Perubahan ini memang telah masuk ke urat nadi negara, tapi nilai negatifnya bisa dihentikan dengan kearifan lokal yang masih mendarah daging dalam setiap perbuatan anak ndeso. Karena kearifan lokal ini bentuknya abstrak di kota-kota, maka desa harus menjadi tameng dan vitamin tubuh bangsa. Desa bisa mengembalikan kita yang kita. Segala yang besar ada karena ada yang kecil.

“Halah, dasar mahasiswa, sok idealis. Nanti kalo sudah kerja juga bakal kontam. Lo nggak bisa berbuat apa-apa karena terikat perusahaan yang memberi makan keluarga lo. Waktu mahasiswa aktif banget menyuarakan safe our forest, let’s go green, dan segala tetek bengek slogan-slogan semu yang lo koarkan di hidung publik sampai berbusa-busa. Tapi setelah harus kerja, dan karena memang cuman dapat kerja disitu, lo harus membuka hutan jadi kebun kelapa sawit atau karet, membunuh milyaran bakteri, makin memiskinkan orang miskin dengan memberi uang demi menggusur suku-suku pedalaman. Melakukan kejahatan halus itu atas nama memajukan perekonomian bangsa. Bangsa sopo? Bangsa rai’mu!” celetuk A sambil sesekali menyesap kopinya.

Kenapa obrolan ini menjadi jauh? Si B menilai bahwa A juga termasuk anak zaman sekarang: play safe. Meskipun rada-rada kritis, tapi yang dia lakukan ya hanya itu, duduk-duduk ayu sambil ngopi, mempertanyakan idealisme, menghancurkan benteng keteguhan dengan mengakarkan sifat ekstrimis: udah santai aja, hidup sudah ada Tuhan yang mengatur, yang penting lo jadi anak baik-baik aja. Ekstrim? Iya, menurut si B itu tuh ekstrim banget.

“Yang penting kita baik tanpa perlu orang lain menjadi baik? Hahaha, mungkin lawan kata idealis adalah egois ya, Cak?”

Mask
Sebetulnya si B juga pernah seperti si A, menertawai idealisme teman SMP-nya dulu. “Saya mau jadi guru TK, mengajarkan yang baik-baik kepada yang masih suci, biar kalau sudah gede nggak kotor kayak kita-kita.” Si B tertawa keras saat itu, sampai seluruh anak yang memilih menghabiskan jam istirahatnya di kelas melototi mereka. “Halah, jangan sok idealis kamu, Nai. Susah itu. Nanti kamu capek sendiri.”

Temannya menyudahi debat kusir mereka, “Kita hidup ujung-ujung mati. Kalau sudah mati, ya tinggal pasrah bakal hidup selamanya dimana, surga atau neraka. Siapa pula yang mau hidup di neraka? Kalau Surga itu Roma, ada banyak jalan baik menujunya. Salah satunya, mudah-mudahan, ya yang kata kamu idealis itu. Masing-masing kita punya perjuangan yang berbeda, tapi tujuannya sama toh?”

Si B mengatakan hal yang sama kepada si A karena malam semakin tua. Ia sudah mengantuk. Lebih baik ia tidur dan mengisi energi buat besok daripada berdebat kusir terus.

“Halah, bisanya ngeles aja lo,” ujar A sambil menguap.

6/22/13

Dari Cipanas Putar Kemudi ke Cibodas



Ada satu kalimat yang saya suka dari Anggun Kamis, 19 Juni 2013 lalu. “Kalo lo ngajak Nisa pergi, siap-siap pake sepatu. Nanti dia tiba-tiba bakal ngajak lo kemana-mana dulu.” Hehehe, udah pengalaman ya, Nggun? Buktinya lusa lalu teman ngopi saya itu mengenakan sandal gunung barunya. Ciiiee. Namun sayangnya, teman berjalan saya yang lain, namanya Elok, pakai sepatu yang tidak comfortable buat diajak melipir kesana-kemari. Alhasil agak repot juga dibuatnya. Maaf ya neng ^^

Saya mengeles, “Pokoknya sebelum kalian kabur dari Bogor, gue mau ngajak kalian keliling Bogor dulu.” Cailaaah. Mumpung kita lagi keluar, makanya saja ajak mereka mlesiran dulu. Masalahnya susah kalau harus mencari waktu yang pas. Masih berstatus pelajar soalnya hehe.

Ketika elf melewati pertigaan Cibodas, saya mengusulkan, “Nanti pulangnya ke Cibodas dulu ya.”

Beberapa hari yang lalu Elok minta diantar ke Cipanas mengambil tanaman tomat untuk keperluan penelitiannya. Hayu lah. Cipanas doang mah saya tahu. Tapi setelah dia menyebutkan kata Agropolitan, Pegadaian, dan petunjuk lainnya, saya angkat tangan. Dimana itu? Mendekati Cipanas saya berkata, “Gue nggak tahu lho ini kita harus turun dimana?” Dua penumpang di bangku belakang elf putih terjungkal. Hahaha telat banget sih ini. Kenek dan sopir bingung mau turunin kita dimana. Penumpang lain ikutan bingung. Kita bertiga cengengesan. Saya memutuskan turun di Istana Presiden di Cipanas. Cuman itu yang saya tahu mengenai Cipanas. Hahaha kagak gaul emang.

Numpang ke toilet gratis dulu di warnet hasil lobian Anggun. Besok-besok harus bawa wanita berkacamata ini nih kalau butuh yang gratis-gratis. Kulit mukanya tebal. Kalau sudah kepepet, nggak ada tuh kata “Malu” dalam kamusnya. Elok tanya sana-sini ke tukang delman. Dari Istana Cipanas kami menaiki angkot kuning menuju kawasan Agropolitan Cianjur. Oh my God, ternyata tempat yang dituju ada di Ciajur, sedangkan kami sudah sampai ke Cipanas. Yo wes, mundur lagi kita. Di dalam angkot kami bertemu rombongan anak SMP yang akan pergi ke Cibodas. Mungkin kami bertemu mereka lagi kalau jadi berbelok dulu ke daerah wisata itu.

Agropolitan masih jauh di atas. Karena ojek yang ada tidak cukup untuk kami bertiga, akhirnya kami berjalan kaki. Langkah kami terus bergerak mengikuti jalan yang ada tanpa tahu harus melangkah kemana. Meskipun panas, udara di sana sangat sejuk. Mata pencaharian penduduk di lereng gunung itu kebanyakan petani. Dari petani sayur sampai petani tanaman hias. Kalau saya mengajak Mama kesana, pasti bawa belanjaan banyak banget, terutama tanaman hias. Jalan-jalan, eh salah, misi kami menemukan tanaman tomat kali itu berhasil melupakan kami akan rutinitas kampus di kota yang tidak ekologis. Hore kabuuur. Eh.

Setiap kali melihat kebun, kami bertanya, “Disini ada yang tanam tomat tidak?” Bahkan Elok bertanya ke anak kecil yang hanya bisa menatap polos. Mungkin dalam hatinya berkata, “Kakak ini ngapain sih jauh-jauh nyariin tomat? Di pasar juga ada.” Saya dan Anggun cekikikan melihat tingkah Elok yang ngebet banget ketemu tomat. Kebun ketiga yang kami tanya akhirnya memberi jawaban positif. Do’a Elok selama perjalanan terkabul.

Tiga anak kecil mengantar kami ke Pak Marta (yakin nih namanya Pak Marta?), pemilik kebun tomat yang diharapkan Elok. Ketiga bocah itu mengingatkan saya kepada film Catatan Akhir Sekolah. Tahu? Ituloh ketiga sahabat yang menamakan geng-nya dengan sebutan A3. Nah ketiga bocah ini juga punya julukan A3. Anggotanya ada Anes, Andi, dan A lain yang saya lupa namaya. Maaf ya, Dek ^^

A3
Elok senyam-senyum. Wanita yang passion-nya sedang tinggi terhadap gunung itu sumringah menemukan kebun tomat yang terserang penyakit layu akibat serangan bakteri Ralstonia solanacearum. Inilah seninya menjadi mahasiswi Proteksi Tanaman. Di kala petani sedih karena kebunnya sakit, kita malah kesenangan.

Serangan Layu Bakteri
Ketika kami sampai di kebunnya, ada dua ibu petani yang sedang memotong cabang. Ini adalah teknik pemeliharaan tanaman agar tomat yang dihasilkan berisi dan bisa masuk supermarket di Jakarta. Kebun tomat Pak Marta seketika ramai. Selain kami, Pak Marta, dan petani, ternyata istri dan anak-anaknya juga ikut ke kebun. Saya selalu suka cara orang desa menyambut orang luar. Kami jadi tidak merasa asing.

Gadis Kebun
 
Mejeng di Kebun
“Aku nggak nyangka bisa dapat sebanyak ini.” Elok panen tomat layu hampir satu kresek besar! Pak Marta dan keluarga baik sekali. Kita tidak perlu jauh-jauh ke Agropolitan yang entah ada dimana. Tidak perlu naik ojek yang mahalnya minta ampun. Meminjam kalimat Elok, “Allah itu Maha Adil.” Dan kalimat ini terus ia ucapkan sampai kami pulang ke Bogor. Alhamdulillah.

Setelah berterima kasih dan menolak dengan berat hati ajakan istri Pak Marta menikmati hidangan kampung, kami melanjutkan perjalanan menuju Cibodas. Namun sebelum pulang, kami disuguhkan tingkah polos anak-anak Pak Marta.

“Bu lihat.” Bocah lelaki menunjukkan kepada kami bunga yang mereka rangkai menjadi gelang.
“Wah lucu banget. Pinter ya. Apa nama bunganya?”
Bocah laki-laki itu berpikir sesaat, “Bunga putih.”
GUBRAK! Hahaha.

Gelang Bunga
Sesuai dengan arahan anak SMP, kami menaiki angkot kuning jurusan Cipanas-Rarahan-Cibodas. Kalau kalian ingin ke Cibodas dari Cipanas, harap hati-hati. Semua angkot berwarna kuning, namun jurusannya macam-macam. Ada angkot kuning yang bagian bawah angkot berwarna pink menuju Puncak, kuning polos semua ke Cibodas, dan angkot kuning-hitam menuju ke … lupa. Jadi kalau mau ke Cibodas naik angkot kuning semua. Ongkosnya Rp 2000 saja.

Sampai di sana kami makan siang dulu. Anggun mengajak saya ngopi. Dan ini menjadi kopi keliling kami yang keempat. Apa kelima? Keenam? Lupa lagi (lupa mulu nih kayak nenek-nenek). Dia memesan Torabika, saya Kapal Api. Minta Elok memotret kegiatan tidak penting kami. Anggun menjelaskan, “Kita kalau kemana-mana harus ngopi, Lok. Nanti mau kita bukuin udah pernah ngopi dimana aja. Sayang, kemarin ke Papandayan lupa difoto pas ngopi.” Saya senyam-senyum. Penting nggak sih kita nih? Bodo amat, ayo pose ^^

Ngopi di Cibodas

Hampir lima tahun saya tidak pernah ke Cibodas lagi. Alhamdulillah ya teman-teman saya mau diajak putar kemudi dulu tidak langsung pulang. Tiket masuk Kebun Raya Cibodas Rp 9500 per orang. Kalau pakai kendaraan ada tiket tambahan. Ada fasilitas kereta keliling kalau mau keliling kebun raya. Rp 5000 saja per orang. Saja? Hahaha. Bagi mahasiswa, lima ribu udah bisa beli makan. Jalan kaki sajalah kita. Lagi.

Setelah masuk ke dalam, mereka bertanya, “Mau kemana kita?”
“Lihat air terjun.”
“Lewat mana, Nis?”
“Nggak tahu.”
Hahaha, saya nih mau kemana-mana banyak tidak tahunya. Ya sudah kita jalan mengikuti pentujuk. Foto-foto dulu di danau teratai. Berjalan lagi. Bertemu rombongan ibu-ibu. Tanya dimana air terjun. Bertemu mobil kolbak. Numpang naik sampai ke parkiran air terjun. Gratisan mulu nih maunya. Alhamdulillah ya.

Di Atas Kolbak

Cibodas ramai sekali. Maklum musim liburan. Kebun Raya Cibodas menawarkan berbagai tempat wisata alam yang menarik. Di antaranya Taman Sakura, Taman Lumut, Air Terjun Ciismun, Air Terjun Cibogo, Jalan Auracia, dan lainnya. Walaupun belum pernah kesana, saya merekomendasikan Jalan Auracia untuk dikunjungi. Foto di peta wisata yang menunjukkan jalan tersebut bagus sekali. Kapan-kapan deh ya. Kami bertiga hanya melewati Jalan Air menuju Air Terjun Cobogo saja, karena ada destinasi lain yang tiba-tiba muncul di otak saya. Sebelum kami putar kemudi lagi, foto-foto dulu lah di KR Cibodas ^^

Kolam Air Dingin

Jalan Air

Curug Cibogo

Kami tidak berlama-lama di Kebun Raya Cibodas. Tujuan selanjutnya adalah Air Terjun Cibeureum yang ada di luar kawasan kebun raya. Menuju ke air terjun tersebut membutuhkan waktu dan energi yang banyak. Saya bertanya, “Yakin kan kita mau ke Cibeureum?” Karena mereka berdua yakin, saya percaya saja. Yang penting mau dulu, masalah susah atau tidak, urusan belakangan. Bisa lah diatur, kan ada Allah SWT yang melindungi. Meski di dalam rimba hutan sekalipun, pertolongan Allah dekat kawan ^^

Air terjun Cibeureum dapat dikunjungi setelah melakukan perjalanan masuk ke hutan mengikuti jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango via jalur Cibodas. Saya mengajak Anggun dan Elok ke sana sekaligus memperkenalkan medan yang akan mereka lalui kalau mau naik Pangrango lewat Cibodas. Hitung-hitung persiapan lah, biar tidak kaget. Kapan kita ke Pangrango? “Pas puasa,” ajak Anggun. Saya pikir-pikir dulu deh.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Tiket masuk ke Curug Cibeureum Rp 3000 saja. Kalau mau sekalian mendaki, harus ada izin Simaksi dulu. Bisa daftar online kesini atau datangi saja Resort Mandalawangi.

“Ke air terjun berapa, Pak?”
“Tiga ribu. Sendiri aja, mbak?”
“Bertiga Pak.”
“Perempuan semua?”
“Iya. Nggak boleh ya, Pak?”
“Boleh sih, tapi sudah biasa naik, mbak?”
“Iya. Rame nggak Pak di atas?”
“Rame kok.”
“Jauh nggak sih, Pak? Berapa lama naiknya?”
“Sejam lah.”

Masih dibayangi rasa khawatir petugas Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, saya memastikan bekal air kami cukup. Elok juga bawa snack, lumayan lah buat dikemil. Bismillahirrahmanirrahim, berangkatlah kami.

Waaaah ternyata jalannya semakin bagus dibandingkan 5 tahun lalu. Jalan tidak lagi ada becek karena semua jalan adalah tangga berbatu, sehingga tidak terlalu licin. Wah ini sih enak banget kalau ke Pangrango via Cibodas. Tidak sulit lah, kecuali agak capek karena pijakan kita keras menapak batu.

Jalan Tangga Berbatu

Saya memaklumi teman saya yang banyak berhentinya. Perjalanan ini sama saja dengan mendaki gunung. Masalahnya kami dadakan, tidak ada persiapan olahraga, alas kaki yang kami pakai juga tidak pas untuk mendaki. Crocs Elok membuat kami sering mencari pohon tumbang atau batu besar untuk istirahat. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk membasahi tenggorokkan  yang kering. Sayangnya, air minum saya tinggal sedikit. Hemat deh hemat.

Istirahat

Waktu itu pukul satu siang tidak ada orang yang mendaki selain kami bertiga. Yang ada hanya pengunjung yang turun. “Kayaknya kita salah jam naik ya? Sepi begini yang naik.” Hiiiiii. Tiap kali bertemu orang, ada saja yang bertanya, “Air terjun masih jauh ya?” Dan selalu “Masih jauh,” yang terjawab. Hehehe semangat teman-teman! Jangan tiba-tiba pengen turun ya. Nanti kalau mendaki kita bawa beban lho, perjalanan bakal jauh lebih berat dari sekarang. Mana senyumnya? ^^

Allah punya caraNya sendiri dan sangat pas untuk menghilangkan peluh kami. Cicit burung hutan, krik-krik getaran sayap jangkrik, hembusan angin dingin menyentuh wajah, suara riak air sungai, serta garis cahaya matahari yang membelah cabang pohon. Semua itu mampu menyalakan api semangat kami untuk terus melangkah. “Allah Maha Adil,” sebut Elok berkali-kali. Saya dan Anggun menyetujui. Inilah secuil bukti kekuasaan Allah sangat besar. Tidak ada satu makhluk di dunia-Nya yang luput dari campur tanganNya. Allah Maha Mengatur. PengaturanNya begitu sempurna. Subhanallah!

“Hilang semua racun di tubuh gue,” celetuk Anggun.
“Kalo udah begini, gue lupa kalo harus pulang,” Saya cengengesan mengingat dosen pembimbing skripsi saya ingin bertemu pas ketika saya sudah sampai Cibodas. Maaf Pak maaf.

Jalan batu yang melelahkan berganti dengan jembatan. Saya sempat bingung, “Perasaan dulu jembatannya nggak berbatu gini deh? Apa salah jalan? Tapi dari tadi tidak ada jalan lain.” Lima tahun ditinggal, ternyata Gunung Gede-Pangrango mengalami banyak perubahan positif. Jalan berganti dengan tangga berbatu, jembatan menyebrangi Rawa Gayonggong (1400 mdpl) tidak lagi disusun dengan kayu rusak tetapi oleh jembatan beraspal, pos-pos peristirahatan pun dindingnya banyak yang dicat sehingga terlihat rapi. Dulu? Boro-boro dicat, warna pos yang kusam membuat saya agak takut juga beristirahat di sana. Agak horor-horor gimana gitu hehe.

Jembatan

Alhamdulillah deh sekarang mah! Rasa syukur dan berterima kasih harusnya semakin membumbung tinggi. Perjalanan ke Pangrango akan lebih mudah insya Allah. Saya sampaikan terima kasih kepada orang-orang yang sudah susah payah membangun jembatan ini. Tidak mudah lho membawa bersak-sak pasir ke atas gunung. Walaupun mungkin ada beberapa pendaki yang merasa kehilangan sensasi mendaki karena fasilitas ini. Yaelah, dikasih emas minta perunggu. Hanya saja kebersihan fasilitas ini masih rentan oleh tangan-tangan jahil yang suka mencorat-coret. Coba itu anak alay dibaca peraturan mendakinya ya. Pada bisa baca, kan?

Tidak lama kemudian kami sampai di Persinggahan Panyangcangan. Di persimpangan ini jalan terbagi dua arah. Belok kanan menuju Curug Cibeureum. Belok kiri melanjutkan pendakian. Dari pos ini harus melangkah sejauh 2.8 km lagi menuju Air Panas, 8.5 km menuju Puncak Gede, dan 10.5 km menuju Puncak Pangrango. Saya yakin dalam hari Anggun dan Elok sudah tindak sabar mendaki kedua puncak itu.

“Mau sekalian ke puncak, neng?” ajak saya.
“Ya nggak sekarang juga kali, Nis.”

Jalan tangga batu akan berakhir di Air Panas, selanjutnya ya seperti jalan di gunung lainnya. Saya sih ayo saja kalau mereka mau melanjutkan ke Air Panas. Tapi mendaki hingga ke puncak? Aduh, terlalu ambisius. Mana kami tidak bawa apa-apa lagi? hehehe, besok-besok saya kesini lagi deh sampai puncak insya Allah.

Panyangcangan

Berjalan sebentar dari Panyangcangan sampailah kami di Curug Cibeureum. Ditambah istirahat berkali-kali dengan jalan santai, kami melewati 2.8 km dari Resort Mandalawangi ke Curug Cibeureum selama 1.5 jam. Air terjun ini berada di ketinggian 1625 mdpl. Curug ini memiliki tiga air terjun yang berada di lokasi berbeda dan memberikan kesejukan tersendiri.

Curug Satu

Curug Dua

Di Curug Tiga Cibeureum kami bertemu dengan sepasang suami istri dari Arab dan seorang pemandu wisata. Kami mengobrol sebentar dengan guide itu dengan harapan mau dimintai tolong memotret kami di bawah air terjun hehe. Jasa guide untuk orang asing, terutama orang Arab (pemandu itu menyebutnya Riyadh), dihargai Rp 300 000. Maaak, mahal amat. Bersyukurlah saya tidak menjadi orang asing di negeri jelemaan surga ini. Sebagai guide, dia bisa berbagai bahasa kecuali Bahasa Jepang. Waaah.

Curug Tiga

Ada yang tahu kenapa air terjun ini dinamai Cibeureum? Orang Sunda pasti tahu kalau Beureum berarti merah. Yap. Dinding air terjun ini banyak ditumbuhi oleh lumut berwarna merah (Spagnum gedeanum) yang menyebabkan warna air terlihat kemerah-merahan. Lumut ini endemik di Jawa Barat. Sehabis hujan, kita dapat mencium aroma tanah hutan hujan tropis dengan suara katak, salah satunya kata Leptophryne cruentata yang merupakan katak endemik dan masuk dalam daftar merah IUCN sebagai kategori terancam punah. Menjaga kelestarian Curug Cibeureum berarti menjaga hewan langka itu.

Fasilitas apa saja yang ada di sana? Ada tiga balai batu untuk duduk, toilet dua pintu, dan meja panjang rendah untuk sholat. Selain itu juga ada beberapa bangunan yang baru dibangun untuk warung. Sip lah.

Kami menghabiskan siang disana. Sebelum jam 4 kami turun karena kami mengejar magrib di Masjid At Ta’awun. Selama perjalanan turun kami banyak bertemu pendaki yang baru turun dari Gunung Pangrango maupun Gunung Gede. “Enak naik Pangrango lewat Gunung Putri cuman 6 jam. Kalo dari sini (Cibodas) 8 jam. Tapi kalau turun terserah enak lewat mana aja.” Oke deh, nanti diatur lah ya.

Gunung itu tempat kabur yang paling saya suka. Mendaki gunung itu meditasi yang melegakan. Sayang tidak semua orang di lingkungan saya sependapat. Apalagi alasan-alasan klise seperti, “Kamu kan perempuan.” Karena keadaan memaksa saya untuk tidak bisa naik gunung dekat-dekat ini, saya harus curi-curi kesempatan untuk bisa menikmatinya. Maka saya bersyukur dan berterima kasih kepada Anggun dan Elok yang mau saja saya ajak berbelok dulu trekking sebentar ke Curug Cibeureum. Meski pegal-pegal, kangen saya kepada gunung cukup terlampiaskan hari itu.

Dan karena belum disebut bepergian kalau tidak membawa buah tangan, apalagi Arini minta dibeliin oleh-oleh, akhirnya kami melipir ke jajaran warun. Disana banyak dijual berbagai asesoris khas gunung Gede-Pangarango, kaos anak, keripik tempe dan bayam, tanaman hias, dan lainnya. Kaktus mini dihargai Rp 5 000 saja. Kalau mau beli keripik, Rp 10 000 dapat 3 bungkus. Sok dipilih dipilih.

Penjual Kaktus Mini

Menuju Masjid At Ta’awun dari Cibodas bisa menumpang angkot kuning-pink dengan ongkos Rp 3000. Masjid yang menjadi destinasi penting di Puncak itu tidak kalah ramai. Menunggu adzan maghrib, kami makan dulu di warung seberang masjid. Kocek harus digali sangat dalam karena makan di tempat wisata tidak pernah murah. Mie rebus pakai telor dan secangkir tinggi bandrek susu menemani kami menikmati hawa sejuk kebun teh menjelang senja.

Masjid At Ta'awun

Puncak macet itu biasa kalau weekend. Puncak macet hari Kamis itu baru luar biasa. Kata supir angkot sih, “Puncak sudah beda banget dari dulu. Petani semakin sedikit karena lahan untuk bertanam sayur berubah menjadi lahan yang ditanami beton-beton untuk vila. Sekarang banyak yang jualan warung saja. Pertumbuhan jalan raya tidak sejalan dengan pertumbuhan mobil yang lewat. Mobil makin banyak, jalan tidak diperlebar. Ya macet sudah.”

Meski pulang harus berhadapan dengan ganasnya kemacetan Puncak, hari itu banyak berkah yang kami dapatkan. More than what we expected before. Alhamdulillah. Apalagi ditutup dengan matahari terbenam yang keren banget!

Full Sunset