1/17/14

Patilasan Omah'e Mbah Maridjan: Oksimoron dan Jati Diri



Langit kelabu di atas ubun-ubun kepala mengiringi rasa penasaran saya melalui kemacetan Kaliurang menuju lereng Gunung Merapi. Hari keempat awal tahun ini pada tengah hari langit seperti berat,  ingin menumpahkan uap air yang tertampung di awannya. Setelah 25 km ke arah Cangkringan terlewati, pemandangan yang memanjakan mata sungguh berbeda. Tidak ada lagi bangunan padat khas Kaliurang. Hanya pucuk-pucuk pohon yang sedang berkembang. Warna hijau memayungi dataran yang didominasi pasir. Sebuah kekontrasan yang hanya Allah SWT saja yang bisa menciptakan.

Sebelum letusan Gunung Merapi 2010 lalu, mungkin hanya sebagian orang yang pernah mendengar kata Kinahrejo. Namun setelah peristiwa alam yang dahsyat itu, Kinahrejo makin dibicarakan orang. Hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 3000 di gerbang masuk Kawasan Wisata Vulcano Tour, saya bisa melihat kekuasaan Allah SWT yang tiada duanya. Semacam tanda tangan tuhan yang menegaskan bahwa segala yang ada di Kinahrejo, bahkan satu semesta, berada dalam genggamanNya.

Dari gerbang masuk saja Kinahrejo sudah menyunggingkan senyum saya. Enam remaja berseragam biru muda menyambut saya dan wisatawan lainnya. Mereka terkoordinir dalam karang taruna, dan ternyata kumpulan anak muda ini juga membantu mengembangkan wisata Kinahrejo. Waaah, semangatnya patut ditiru! Rumah mereka yang telah rata bersama pasir tidak menyurutkan api dalam jiwa mereka.

Remaja karang taruna

Sepanjang jalan menuju parkiran Lava Tour ada beberapa bangunan vila yang berdampingan dengan rumah tidak berpenghuni. Memang sejak dibukanya Kinahrejo sebagai daerah wisata, vila dan rumah penginapan layaknya jamur di awal musim penghujan. Namun tetap saja aneh, jika saya menginap di vila itu, maka ketika terbangun dari tidur saya akan menyapa pintu-pintu rumah kosong yang menganga atau dinding yang menghitam.

Yang tertinggal

Sampai di parkiran saya disambut seorang bapak yang membawa brosur. “Monggo, mbak ayu, jalan-jalan di sekitar sini.” Pak Prayitno ini menawarkan paket wisata dengan ojek ataupun hardtop. Beliau dan pekerja wisata lainnya tergabung dalam STMJ Ceria: jasa antar wisata merapi. Saya mengeluarkan Rp 20.000 untuk menyewa ojek. Bila kalian ingin menaiki hardtop, kalian harus menyewa sebesar Rp 400.000, dan satu hardtop hanya bisa diisi 5 orang saja (sudah termasuk supir). Di sana juga banyak warung suvenir.

Pak Prayitno

Jajaran toko suvenir

“Mbak mau setir sendiri?” tanya Mbak Dewi, pemandu saya selama menilas Kinahrejo. Saya langsung menggeleng. Selain karena mendung yang menyembunyikan puncak Merapi, juga karena saya tidak bisa mengendarai motor. Dan untungnya saya tidak coba-coba belajar motor di lereng Merapi, jalannya yang menanjak lalu tiba-tiba menikung pasti hanya akan membuat saya menuntun motor, bukan menyetir motor.

Mbak Dewi

Saya tidak tahu akan diajak kemana oleh Mbak Dewi. “Terserah Mbak aja.” Maklum tidak menyiapkan itinerary apapun untuk kesini. Dan sepanjang perjalanan yang makin menanjak, kami banyak mengobrol. Tapi dalam hati was-was juga, takutnya mengganggu konsentrasi Mbak Dewi. Jempol gede buat gadis yang umurnya tidak jauh berbeda dengan saya ini. Dia adalah satu dari sedikit perempuan (saya lihat sih hanya 3) yang menawarkan jasa ojek disana.

“Mbak Dewi asli sini?”
“Iya. Tapi rumah sudah tidak disini. Sudah tidak ada apa-apa lagi.”
Kami baru saja melewati halaman rumah yang tertutup oleh pasir. Dan disana hanya ada bekas kayu dan papan yang bergelimpangan, pernah berdiri rumah penduduk disitu.
“Tapi disini sudah hijau ya. Bagus.”
“Ya kan sudah tiga tahun lalu Mbak kejadiannya.”
“Cepat juga ya.”
“Yang kita lewati ini tadinya banyak rumah warga dan kebun.”
Saya mengangguk melengos. Bagaimana tidak, sekarang yang saya lihat hanya pasir, alang-alang, dan bangunan runtuh. Rasanya seperti berjalan-jalan ke situs purbakala.

Hanya pasir

“Sebelum meletus, biasanya Mbak Dewi sekolah?”
“Iya, jaga warung juga. Sekarang ya begini aja.”
“Setidaknya ada penghasilan lah ya.”
“Iya Alhamdulillah.”
“Setiap hari rame kayak tadi, Mbak?”
“Kalau musim liburan dan akhir pekan saja yang ramai. Hari biasa ada sih yang datang, tapi tidak seramai pas libur.”
“Kalau pendakian Merapi lagi ditutup ya Mbak?”
“Iya, sudah 3 minggu ini.”
Walau sudah meletus hebat, Merapi masih menyisakan kekuatannya.

Mbak Dewi menghentikan laju motor. Tangannya menunjuk ke sebuah batu di persimpangan jalan. Saya mendekat dan membaca tulisan di batu tersebut. Monumen letusan Gunung Merapi 26 Oktober 2010. Pada batu itu tertulis 39 nama para suhada Merapi yang gugur pada saat erupsi 26 Oktober 2010  dengan Mas Panewu Surakso Hargo Mbah Maridjan sebagai nama pertama. Ada satu kalimat yang menyentuh, “Sak beja bejane wong lali isih beja wong kang iling lan waspada (sebijaksananya orang lupa, masih bijaksana orang yang ingat dan waspada).” Monumen ini mengingatkan kita semua untuk mencintai alam sekitar agar alam tidak murka.

Monumen letusan Gunung Merapi 2010

Di seberang monumen terdapat poster yang menjelaskan kronologi erupsi Merapi yang melanda Kinahrejo 2010 lalu. Begini tulisannya:

“Rabu 27 Oktober 2010, pukul 17.30-18.30 WIB. Kabut masih sangat tebal dan mulai gelap. Semakin sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di Merapi. Empat seismograf masih saja mencatat getaran yang sangat besar dan beberapa kali jarumnya sampai lepas. Ada 3 kali letusan serta luncuran awan panas dan kemungkinan eksplosif menyebar ke segala arah. Petugas pusat memerintahkan petugas pos di lereng Merapi meninggalkan pos di samping melakukan evakuasi paksa bagi warga. Bunyi sirene meraung-raung. Beberapa petugas terlihat terus berdoa dan bertakbir.

Setelah letusan Gunung Merapi yang melanda kawasan sekitar dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, dusun Kinahrejo luluh lantak diterjang ‘wedhus gembel’. Awan panas dengan suhu sekitar 600-1000 derajat celcius ini meluncur dari kawah Gunung Merapi dengan kecepatan sekitar 60km/jam dan menyapu dusun serta menewaskan sejumlah orang, termasuk Mbah Maridjan.”

“Waduh, Mbak, hujan. Gimana? Mau berteduh dulu?”
“Tidak usah, langsung jalan lagi aja. Kemana sekarang?”
Hujan yang membasahi kerudung saya hiraukan saja karena Mbak Dewi menjawab, “Patilasan rumah Mbah Maridjan. Pegangan Mbak, jalannya licin.”

Oksimoron disajikan Kinahrejo dengan poster yang sudah sobek bertuliskan “Selamat datang di rumah Almarhum Mbah Maridjan Kinahrejo.” Biasanya orang bertamu ke rumah yang masih hidup penghuninya. Kali itu saya datang ke rumah yang pemiliknya sudah meninggal. Tapi sudah meninggal pun, senyum di foto Mbah Maridjan masih mempersilahkan saya masuk. Meminjam kalimatnya Mas Bambang, Sementara sang tuan rumah telah tiada, ia justru menyambut tamu yang biasanya datang dengan suka cita.” Semua rasa bercampur aduk. Senang, sedih, dan takut karena bisa melihat sisa keganasan awan panas Gunung Merapi di rumah sang juru kunci.

Selamat datang

Merapi memiliki ikatan khusus dengan masyarakat Yogyakarta. Eksistensi gunung dengan ketinggian 2968 mdpl ini bagi masyarakat Yogyakarta tak lepas dari mitos adanya hubungan khusus antara ‘penunggu’ Merapi dengan lingkungan kraton Yogyakarta. Kondisi ini diperkuat dengan adanya utusan dari kraton Yogyakarta yang menjadi juru kunci Merapi.

Mbah Maridjan dititah oleh Sultan Hamengkubuwono IX yang kala itu memimpin Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai Abdi Dalem Surakso Hargo alias Penjaga Gunung Merapi untuk menjaga kelestarian dan ayem tentremnya Gunung Merapi. Juru kunci bertugas memberi informasi tentang gunung yang didaki, memberi tahu apa yang dilarang, dimana jalur pendakian, penyelamatan, dan lainnya. Selain bertugas menjaga gunung dengan terawangan berdasar pengalaman (‘ilmu titen’) dan menggabungkannya dengan firasat sebagai warga Merapi yang telah terasah sejak kecil. Tugas paling utama tentu saja memberi informasi kepada penduduk sekitar bila ada aktivitas Merapi yang dirasa membahayakan. Sebagai abdi dalem, kuncen juga melayani setiap kali keluarga kraton melalukan ritual di Merapi.

Rumah Mbah Maridjan terletak di Dusun Kinahrejo, Dukuh Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta. Hampir semua warga Kinahrejo patuh dengan nasihat beliau. Hingga seruan pemerintah untuk mengungsi pun diacuhkannya karena menurut Mbah Maridjan Gunung Merapi baik-baik saja. Masih ingat saya betapa layar televisi masih menyorot aktivitas warga bertani sementara Gunung Merapi dibelakang mereka batuk-batuk, siap menyemburkan dahaknya.

Berikut saya tuliskan saat-saat kritis yang terjadi di Kinahrejo. Yang menulis kisah ini adalah Agus Wiyarto dan diabadikan dalam sebuah poster besar di halaman rumah Mbah Maridjan.
26 Oktober 2010 jam 17.30 - Agus Wiyarto, H. Tutur Priyanto (relawan PMI) dan Yuniawan Wahyu Nugroho (Wartawan Vivanews) tiba di Kinahrejo untuk memberi tahu warga bahwa telah terjadi erupsi Gunung Merapi ke arah barat 7 km. Saat itu suasana Kinahrejo tampak ayem tentram tidak mengetahui adanya ancaman erupsi Gunung Merapi yang sudah terjadi sejak jam 17.02. Dengan segala upaya mereka bertiga meyakinkan warga untuk segera turun meninggalkan dusun Kinahrejo ke barak pengungsian.
Jam 18.15 - Sirene tanda bahaya berbunyi saat itu warga sedang menjalankan sholat Maghrib. Mobil Suzuki APV AB 1053 DB menjadi satu-satunya kendaraan yang dipakai untuk mengevakuasi warga Kinahrejo. Karena keterbatasan kendaraan evakuasi, masih banyak warga yang tidak terangkut.
Jam 18.40 - Setelah menurunkan warga di barak pengungsian Umbulharjo, Tutur Priyanto dan Yuniawan kembali naik menuju Kinahrejo untuk menyelamatkan lebih banyak lagi warga yang belum sempat terangkut.
Jam 18.50 - Tutur Priyanto dan Yuniawan gugur bersama terbakarnya mobil evakuasi ( di tempat ini) halaman rumah Mbah Maridjan diterjang awan panas dalam upaya menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa manusia.

Apa yang telah dilakukan Almarhum Tutur dan Yuniawan itu seperti mengabadikan pepeling Mbah Maridan: ajining menungsa iku gumantung ada ing tanggung jawabe marang kewajibane (kehormatan seseorang dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajibannya).

Saya cuman bisa bertanya, “Apa ini?”
Mbak Dewi sibuk memakirkan motornya. Saya meninggalkan dia dan berlari menghindari deras hujan menuju reruntuhan bangunan. Di depan bangunan itu terpasang kayu bertuliskan Omahku Tinggal Kenangan. Saya tidak yakin tempat itu bisa disebut rumah, karena tidak berdinding, berpintu, apalagi berjendela.

Omahku

Saya memasuki (sepertinya) bagian dapur. Yang tersisa hanya dandang, pengangas nasi, kompor, teko, tabung gas, dan peralatan dapur lainnya yang penyok, gosong, dan tertutup material vulkanik. Bahkan banyak benda yang tidak bisa saya terka bentuknya, hampir mirip dengan tumpukan abu saja. Mungkin dulu di dapur ini seorang anak pernah membuatkan kopi panas sepulang bapaknya menyawah.

Dapur

Berjalan ke ruangan sebelah yang hanya bersekat lemari lapuk, saya seperti masuk ke ruang santai. Ada beberapa kursi yang tersisa rangkanya saja, salon suara, dan toa. Lemari penyekat tadi ibarat saksi bisu kehidupan sebelum erupsi 2010 lalu. Terdapat piring perak dengan belasan uang koin di atasnya, gagang telepon, dan plakat kenang-kenangan dari mahasiswa Universitas 45 Surabaya yang pernah melaksanakan kuliah lapang di Kinahrejo pada 5 Desember 2003.

Ruang santai


Lemari


Telepon dan koin

Plakat

Masih di komplek patilasan sisa keganasan wedhus gembel Merapi, terpajang mobil APV dan motor yang digunakan untuk mengangkut pengungsi. Kedua kendaraan itu tidak berbeda nasibnya dengan benda lain yang ada di sana. Gosong. Berkarat. Tersisa rangka besinya saja. Tidak terbayang betapa panasnya asap yang menyembur dari kawah Merapi.

Dalam mobil APV

 
Rangka motor

Ruang gamelan


Terlintas di pikiran, “Ini baru asapnya saja sudah berdampak sebegini hancurnya. Bagaimana kekuatan  lava pijarnya? Pasti langsung menghabiskan tak bersisa semua kehidupan. Nah itu baru dari satu gunung. Bagaimana kalau semua gunung di Jawa disatukan? Di Al Qur’an disebutkan kalau ketika kiamat nanti gunung-gunung akan diangkat lalu beterbangan seperti kapas. Kapas? Gunung yang segede itu terbang seperti kapas? Nah lho, bagaimana kekuatan panas api neraka? Bagaimana kekuatan Allah SWT yang menciptakan ini semua? Saya bagaimana?”

Mbak Dewi memanggil saya untuk berjalan ke Kali Opak. Untuk menuju kali ini saya harus menuruni jalan pasir sekitar 10 meter. Banyak yang ke kali, namun tidak sedikit yang melihatnya dari bibir jurang karena turunannya yang curam dan licin. Kalau mau kesini, tetap waspada ya.

Agak aneh kalau harus menyebutnya kali, karena di tempat yang sangat luas itu sama sekali tidak saya temukan air. “Dulu orang-orang suka memancing di Kali Opak,” cerita Mbak Dewi. Tapi sekarang, apa yang mau dipancing? Wong yang ada hanya pasir dan batu. Mau mancing kerikil? Di seberang jauh dari Kali Opak terdapat Kali Gendol yang terkenal itu. Banyak wisawatan yang ber-offroad di sana. Saya tidak sempat kesana, karena cuaca tidak mendukung.

Kali Opak

Di Kali Opak ini terdapat Watu Tumpeng, sebuah batu yang ukurannya sangat dan paling besar di antara batu lain yang terlontar dari mulut Merapi. Banyak pengunjung berfoto ria di atas batu itu. Saya malah pelanga-pelongo, bingung kenapa disebut Watu Tumpeng? Memang sih bentuknya segitiga seperti tumpeng. Mungkin karena itu. Kata Mbak Dewi, tiga bulan setelah erupsi pasir di Kali Opak ini masih panas. Bahkan panasnya Watu Tumpeng masih terasa pada 2012.

Watu Tumpeng dari jauh


Kembali naik ke bibir jurang Kali Opak, saya melihat tumpukan tulang belulang. Katanya itu adalah sisa hewan ternak warga, seperti sapi dan kerbau. Sebenarnya ada balai di seberang lokasi tulang itu, tapi balainya baru mau dibangun. Balai ini digunakan pengunjung sebagai tempat berteduh dari hujan yang semakin deras. Yang unik di balai ini adalah ada pohon pisang yang tiba-tiba tumbuh di tengah balai. Fenomena pohon pisang ini juga saya lihat dari kumpulan foto pascaerupsi, bahwa banyak pohon pisang yang tumbuh di antara pasir padahal tidak ada yang sengaja menanamnya. Subahanallah ^^ Saya perhatikan, ada semacam kendi, bunga-bungaan, dan cangkang telur di dekat pohon itu. Sepertinya ada yang sengaja menaruhnya di sana. Saya tidak mau menuduh yang macam-macam, tapi memang warga Kinahrejo masih menjunjung tinggi adat nenek moyang mereka. Hmmm, sayang sekali, padahal Allah SWT sudah mengingatkan.

Tulang belulang


Persembahan

Membahas fasilitas wisata, menurut saya sudah baik. Ada toilet umum yang sudah diporselen dan masjid. Masjid ini juga punya sejarah sendiri. Sarana ibadah umat Islam yang ada sekarang berdiri di bekas Masjid Al Amin yang biasa digunakan warga Kinahrejo, dan tentunya Mbah Maridjan. Hanya saja bangunan masjid masih semi permanen. Atapnya ada yang bocor, sehingga kalau sholat saat hujan ada tetes air jatuh di kepala, mukena dan sajadah seadanya. Kalau kalian mau menyumbang rezeki silahkan menghubungi Takmir Al Amin di 085725933009.

Masjid Al Amin

Di dalam masjid ini terdapat lukisan yang dibuat oleh Ki Joko Wasis. Saya suka lukisan tersebut. Pelukis menggambar Mbah Maridjan sedang mengajari 5 anak menanam pohon sambil tersenyum. Ada pula seorang bapak membawa anak beserta kudanya yang memuat hasil tani. Padahal di belakang mereka berdiri Gunung Merapi dengan lahar muncul dari kawahnya. Yang keren adalah salah satu anak yang sedang diajari Mbah Maridjan menoleh ke arah Merapi sambil tersenyum, seolah merasa biasa saja melihat Gunung Merapi mau meletus. Ki Joko Wasis memilih warna gelap untuk melukis, saya taksir memiliki maksud tersendiri.

Lukisan Ki Joko Wasis

Ada dua warung yang kedua pemiliknya masih sedarah dengan Mbah Maridjan. Yang pertama adalah Warung Bu Mursani Asih yang merupakan putri Mbah Maridjan. Warung terletak di seberang rumah si mbah. Selain menjual makanan dan minuman, Bu Mursani juga menjual berbagai cinderamata seperti miniatur Gunung Merapi yang mengeluarkan lahar, kaos, dan buku kumpulan foto pascaerupsi Merapi. Untuk menambah penghuni lemari di rumah, saya membeli buku itu dengan Rp 30.000. Sambil menunggu hujan reda, saya menghangatkan diri di Warung Mbok Udi (adik Mbah Maridjan). Tapi yang berjualan disitu adalah sepupunya. Berbeda dengan Warung Bu Mursani, warung ini hanya menyediakan makanan dan minuman saja. Kedua warung ini juga termasuk bangunan semi permanen. Merapi diprediksi akan meletus lagi. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kini tidak boleh ada warga yang tinggal di Kinahrejo, makanya bangunan yang ada tidak permanen. Mbok Udi sendiri cerita, kalau sudah sore ia dan keluarganya akan kembali turun, ia hanya ke atas ketika ingin berjualan saja.

Mbak Dewi di Warung Bu Mursani

Sepupu Mbah Maridjan

Saya memesan kopi panas ketika hujan mulai mereda. Khawatir akan turun hujan yang lebih besar, saya membungkus kopi yang baru saja tertuang ke gelas. Mbak Dewi sudah menyalakan motornya. Dengan kalimat “Sehat-sehat ya, Bu,” saya meninggalkan sepupu Mbah Maridjan, segala kenangan yang masih berbekas di antara perabotan hangus, dan Merapi yang ulahnya tidak bisa dihentikan manusia.

Beberapa materi tulisan ini saya tahu dari poster yang berada di komplek sisa keganasan Merapi. Saya ucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman yang membuat poster itu. Para wisatawan, khususnya saya, jadi tahu kejadian yang sebenarnya dan bisa merasakan kembali detik-detik kelam itu. Mungkin bagi warga yang selamat dan kini berjualan di lokasi patilasan, poster-poster tersebut seakan mengungkap kembali kenangan pahit yang inginnya tidak diingat. Namun bagi wisatawan, justru kisah itulah yang menarik untuk dibaca. Kontradiktif memang.

Selama menilas, saya ingat tulisan Mas Iqbal yang berjudul Oksimoron Merapi: Geliat Wisata Bencana. Kalimat-kalimatnya begitu menohok, tapi judul ini adalah satu tulisannya yang jadi favorit saya. Begini ringkasnya: Wisata bencana diharapkan bisa merasukkan kepedihan mereka (korban letusan yang kini menjadi penggiat wisata Merapi) kepada masyarakat lain yang berkunjung. Sayangnya, kehendak itu hanya sebatas prasangka. Wisata bencana tak ubahnya menjadi arena hiburan. Pengunjung sangat bergembira bisa berfoto pada puing-puing kehancuran. Itulah oksimoron!

Apakah yang saya lakukan menambah realita oksimoron ini? Apakah ini salah? Saya mengabadikan sisa keganasan Merapi sementara di belakang saya ada Mbak Dewi, salah satu korban bencana. Waktu itu Mbak Dewi sedang mengendarai motor sehingga saya tidak bisa melihat ekspresinya ketika saya bertanya tentang kejadian hitam itu. Apakah itu memutar kembali kenangan pahitnya? Apa yang dirasakan Bu Mursani dan Mbok Udik melihat rumah saudaranya yang menyimpan harta kebersamaan puluhan tahun itu dipotret, menjadi objek kamera yang tidak boleh dilewatkan, menjadi mudah saja diumbar di media sedangkan mungkin saja hati mereka tidak tega?

Tapi, bukankah dengan begitu para wisatawan bisa membantu terpenuhinya kebutuhan ekonomi warga? Bagaimana pun keresahan atas oksimoron itu jangan sampai malah membuat warga Kinahrejo kehilangan semangat untuk terus memperjuangkan hidup. Yang berlalu biarlah tinggal di masa lalu. Yang ada sekarang harus diperjuangkan untuk masa depan. Semoga ini tidak sekedar klise.

Entah pada helaan napas ke berapa akhirnya saya melihat jalur Kali Koneng. Ketika Merapi meletus, sungai ini dipenuhi oleh material vulkanik. Sampai sekarang pun begitu. Banyak warga yang menambang pasir di sana. Selain dibukanya wisata patilasan Mbah Maridjan, letusan Merapi memberi berkah besar bagi para penambang pasir. Walaupun hanya dibayar Rp 3.000 per karung pasir, masih banyak pasir yang siap ditambang. Namun mereka tetap siaga karena bahaya lahar dingin sewaktu musim hujan bisa mengambil nyawa mereka.

Penambang pasir

Melihat Kali Koneng dari atas jembatan juga memukul jiwa. Penambang-penambang itu tampak kecil dan tak jauh beda dengan pasir-pasir yang mereka saring. Inikah wujud kita di mata tuhan? Bahwa manusia hanya sekecil pasir? Bagaimana kalau dibandingkan dengan luasan semesta? Dimana kah saya?

Kali Koneng: terlihatkah para penambang pasirnya?


Terima kasih kepada Allah SWT yang telah menciptakan Gunung Merapi.

Gunung Merapi

“Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dapat mengerti atau telinga yang dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata yang buta, melainkan yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (TQS Al Hajj: 46)

1/8/14

Mlaku-mlaku luwe nang Yogyakarta



Angkringan: Sebuah Perubahan Sosial

Mengawali bulan ini dengan wisata kuliner adalah kegiatan yang menyenangkan, bahkan mengenyangkan! Tapi tidak kenyang-kenyang banget sih, karena setelah makan, asupan saya terkuras dengan cepat. Kok bisa? Ya karena setelah makan, saya harus jalan kaki ke Kaliurang, lapar lagi deh. Haha. Maklum, tidak bawa kendaraan pribadi, dan di tempat saya menginap itu sulit transportasi umum.

Sepanjang Jalan Kaliurang hanya ada titik transit transjogja. Titik transit ini tidak bisa digunakan untuk menaikkan penumpang, jadi hanya bisa turun saja. Kalau mau naik transjogja ya harus ke halte dulu karena beli tiketnya di sana. Beda dengan transpakuan di Bogor, titik transit mana pun penumpang boleh naik dan turun karena bisa beli karcis di dalam bus. Awalnya agak bingung juga sih. Terpaksa harus jalan kaki kalau mau pergi kemana-mana. Taksi? Mahal booo, mending buat makan seminggu disini.

Niatnya mau mlaku-mlaku wareg (jalan-jalan kenyang), akhirnya jadi mlaku-mlaku luwe (jalan-jalan lapar). Tidak lama setelah makan, luwe maneh luwe maneh. Yo ora opo-opo lah, wareg ora wareg sing penting mangan ^^

Yogyakarta, selain terkenal sebagai Kota Pelajar (karena banyak sekali kampus), juga terkenal dengan Kota Seribu Angkringan. Gerobak dorong penyaji berbagai macam makanan itu memang menjamur di kota ini. Tiap tikungan jalan raya pasti ada angkringannya.

Konsep warung makan angkringan ini akhirnya merambah ke kota lainnya, salah satunya di Bogor. Di kampus saya juga ada angkringan jogja-nya. Kini banyak mahasiswa berkumpul disana. Ketika saya menceritakan hal ini kepada Ayah, ada satu fenomena sosial yang kami diskusikan. Obrolan berikut kami lakukan jauh sebelum saya main ke Yogyakarta.

“Tetap saja makna angkringan zaman sekarang beda dengan zaman ayah kuliah dulu.”

“Yeah, kakak tahu. Anak sekarang menganggap angkringan itu sebagai gaya hidup, bukan kebutuhan, ya kan?” Saya melanjutkan, tidak perlu menunggu persetujuan Ayah. “Orang langsung update facebook, twitter, upload foto di instagram. Merasa dirinya keren dengan merakyat, jadi ndeso makan di angkringan. Eh, iya nggak sih, Yah? Atau prasangka kakak aja?”

Ahaha, ini mah sayanya aja kali nih yang iri karena tidak punya akun twitter dan instagram. Kemarin juga update status facebook *nyodorin pipi* *minta ditampar* ^^

“Waktu ayah kuliah dulu, angkringan sudah kayak rumah, nggak bisa lagi kita makan kalau nggak disana. Kiriman dari bapak ayah kan terbatas.”

See? Mahasiswa zaman dulu tuh memang butuh angkringan, beda banget sama zaman sekarang. Mungkin memang butuh, tapi ditambah sebagai gaya-gayaan.

“Dan lihat juga tuh, karena zaman dulu belum ada internet, kita kalau ke angkringan ya ngobrol, dol-dol-an, ngalor ngidul sampai pagi. Sekarang? Memang sih ke angkringannya bareng-bareng, tapi setelah sudah sampai, pada sibuk sama hp-nya masing-masing, padahal di sebelah ada temennya bisa diajak ngobrol. Eh, nggak bisa ngobrol juga deng, wong temennya juga asyik hp-an sendiri. Akhirnya jadi sendiri bersama-sama. Sebenarnya nggak cuman di angkringan, di tempat lain juga sama, sekarang manusia cenderung gemar menjauhkan yang dekat, tapi yang jauh juga nggak dekat-dekat amat.”

“Mungkin sudah saatnya angkringan menyediakan jasa charge hp,” saya menyinggung.

Sudahlah. Dari pada heboh membicarakan orang lain (yang entah orangnya yang mana), lebih baik saya perkenalkan beberapa makanan yang saya makan selama tinggal sebentar di Yogyakarta. Lets krauk!

Bernostalgia di Soto Sulung Stasiun Tugu

Kalau ke Yogyakarta menumpang kereta dan berhenti di Stasiun Tugu, jangan buru-buru sampai ke tempat tujuan. Mampirlah dulu ke warung Soto Sulung di parkiran selatan Stasiun Tugu. Dari pintu keluar stasiun, ambil kiri, lihat jajaran toko. Nah di toko kedua dari ujung lah kuliner asli Madura ini berada. Madura? Iya. Walaupun soto ini khas Madura, tapi terkenal di seantero Yogyakarta. Bahkan orang luar Yogya sengaja berwisata kuliner disini, seperti saya.

Warung Soto Sulung Stasiun Tugu

Salah satu faktor yang membuat makanan ini terkenal, menurut saya, adalah cerita dari orang tua. Ayah saya memang kuliah di Yogyakarta. Kalau kiriman uang sedang hangat-hangatnya, ayah dan teman-temannya tancap gas ke Stasiun Tugu, nongkrong deh di warung Soto Sulung. Lalu ayah cerita kalau ada soto enak di Yogya. Penasaranlah saya. Main juga deh kesana. Dan ternyata kisah seperti ini tidak saya saja yang mengalami. Pegawai warung juga bilang kalau banyak orang yang membawa anak dan cucunya karena waktu jadi mahasiswa dulu sering makan disini. Hhhmmm… Harum nostalgia sering kali menempel di dinding warung yang berlumut.
 
Menunggu panas

Soto Sulung Stasiun Tugu ini sudah berdiri sejak 1968 oleh Almarhum Bapak Marjuddin. Kini yang memegang nama kuliner terkenal ini adalah anaknya, Bapak Ridwan. Soto Sulung ini sebenarnya flat saja. Tidak pakai bihun, toge, atau kol seperti yang biasa saya makan di Bogor. Bedanya Soto Sulung dengan soto biasa ya itu. Hanya ada daging sapi, jeroan, daun bawang, dan kuah bening. Kita bisa minta ditambah telur rebus. Tapi sepertinya telur bukan bahan utama soto ini, karena pelayannya tanya, “Nganggo endog ora? (pakai telur tidak?)”

Satu porsi soto campur

Yang unik dari hidangan ini adalah nasinya yang dijual terpisah, tidak langsung semangkok dengan sotonya. Kalau mau pakai nasi, ambil sendiri di meja. Kalau yang tersedia di meja hanya nampan dengan belasan bungkus koran, nah ambil itu. Memang nasinya dibungkus kecil-kecil dalam koran, sebelumnya juga dibungkus dengan daun pisang. Jadilah nasi panas beraroma daun pisang siap dilahap bersama daging empuk dan potongan telur. Tambahkan emping kalau suka. Uuuuuuhh, maknyoooos! Kurang asin? Minta saja garam yang ukurannya sebesar batu kerikil. Hahaha serius ini. Jangan kebablasan kasih garam, nanti dikira kebelet kawin eh.

Nasi bungkus

Kalau kata supir taksi saya sih, sebenarnya rasanya lebih maknyos yang dulu. Kalau beliau coba makan sekarang, berasa ada bumbu yang kurang. “Maklum, sudah bukan Pak Marjuddin yang meracik bumbunya, jadi ya beda rasanya. Walaupun resepnya turun menurun, beda tangan ya beda kelezatan. Kalau tangan kan kayak ada selera sendiri, gitu lho Mbak,” ceritanya. Aduh, mana tahu saya. Rasa sekarang saja sudah begitu enaknya, gimana kalau yang buatan asli tangan Pak Marjuddin? Baru turun dari kereta lagi lapar-laparnya, tidak peduli deh itu rasanya beda kayak zaman dulu atau tidak, yang penting makan ^^

“Satu lagi,” tambah bapak supir, “dulu itu warungnya sering nyalain musik jawa, suaranya sengaja dikerasin. Kalau sekarang tidak lagi, sayang saja.”

Sebelum lupa. Saya mau cerita sedikit tentang taksi di Jogja. Biasanya susah kalau tungguin taksi asli dari Stasiun Tugu. Apalagi kalau musim liburan begini. Jadilah yang bersedia menjadi taksi saya adalah bapak penyewa mobil APV. Alhamdulillah, lega boo hahaha. Ongkosnya memang Rp 80.000 sih, tapi ya mau bagaimana lagi? Tunggu taksi asli kosong? Nanti keburu malam. Kan mau jelajah kuliner lainnya ^^

Kalau saya bandingkan harga dengan review dari internet, ternyata sudah jauh berbeda. Lebih mahal bro. Hiks. Awal Januari 2014, harga soto daging Rp 12.000, soto campur Rp 8.000, telur Rp 5.000, nasi Rp 1.000, teh atau jeruk dingin dan panas Rp 2.000, es batu Rp 500, dan kopi susu Rp 3.000. Yang naik drastis ya harga sotonya, mungkin karena harga daging semakin melonjak. Hiks. Tapi tenang saja, Kawan. Kau lapar? Tidak sampai lima menit setelah pesan, semangkok soto sulung siap terhidang. Asapnya yang mengangkasakan aroma bumbu khas Madura, widiiiiih, membuat cacing berontak!

Daftar menu

Terakhir yang membuat saya kagum dengan warung makan ini adalah banyaknya asesoris atau kenang-kenangan dari berbagai universitas di Indonesia. Mulai dari jam dinding Universitas Jayabaya sampai Universitas Islam Indonesia. Sepertinya mahasiswa banyak yang melakukan praktik lapangan di warung ini. Mungkin meneliti bagaimana resepnya sebuah soto bisa terkenal lebih dari 45 tahun? Amazing!

Poster UII


Gudeg Yu Djum

Apa yang membedakan Gudeg Yu Djum dengan gudeg lainnya? Pertama, gudeg ini melegenda karena sudah lebih dari 40 tahun memanjakan lidah penikmat kuliner Yogyakarta. Kedua, gudeg ini termasuk gudeg kering. Ramuan daun jati memberikan warna coklat pada potongan nangka muda yang tidak dimasak basah. Sambal kreceknya pun kering. Tambahan tempe dadu membuat cita rasa gudeg semakin tinggi.

Ada berbagai macam lauk sebagai tambahan. Yang paling murah kalau ditambah telur pindang. Harnya Rp 10.000. Bisa juga ditambah ayam suwir, paha, dan dada ayam. Untuk porsi besar, ditambah ayam utuh juga boleh dicoba. Hanya saja harganya juga lebih mahal.

Gudeg Yu Djum menawarkan paket keluarga. Jadi kalian bisa beli untuk porsi lima orang dengan harga yang lebih hemat. Selain itu juga ada gudeg kendil. Biasanya orang-orang membeli gudeg kendil sebagai oleh-oleh. Gudeg dimasukkan ke dalam kendil (semacam guci tanah liat). Dengan pemanasan yang dianjurkan pelayan, gudeg kendil tahan hingga 3 hari. Harganya Rp 250.000. Monggo ^^

Salah satu cabang Gudeg Yu Djum yang saya datangi terletak di Jalan Kaliurang KM 5. Plang-nya ada di pinggir jalan. Tapi kalau mau ke warungnya harus masuk gang sekitar 30 meter. Karena dekat dengan kos-kosan, banyak pula mahasiswa yang makan disini. Cuci mata deh eh.

Sebenarnya ada sentra gudeg dekat Kaliurang, namanya Sentra Gudeg Sleman. Tepatnya di sepanjang Jalan Selokan Mataram, sebelahan sama UGM. Warung-warung gudeg di sini sudah buka jam 06.00 pagi. Kalau bingung mau sarapan apa, main-mainlah kesini. Dan karena tempat menginap saya tidak ada kendaraan umum, sekalian jogging deh. Lumayan 1 kilo mah ada. Pulang makan sudah lapar lagi -_-
 
Sentra gudeg Sleman

Ora Kecele Mangan SGPC

Jalan-jalan ke Yogyakarta pasti sering melihat spanduk bertuliskan SGPC. Itu adalah singkatan dari sego pecel, makanan lain khas Yogyakarta yang wajib dicoba. Mulai dari pukul 6 pagi, warung-warung kecil di pinggir jalan banyak menyajikan makanan yang cocok untuk sarapan ini. Pagi-pagi sudah makan pecel? Hahaha, siap-siap aja antri kamar mandi.

Sego berarti nasi dan pecel ya tetap saja pecel. Nasi campur pecel, yang terdiri dari toge, kacang panjang, dan daun pepaya, ditambah bumbu kacang. Pecel yang saya makan banyak sekali daun pepayanya sehingga ada rasa pahit sebagai pewarna rasa. Selain itu bisa ditambah lauk seperti telur ceplok, aneka tempe dan tahu. Hhmm ora kecele (kecewa) deh mangan SGPC ^^

Bakmi Godog Jawa

Bakmi godog alias bakmi rebus nikmat disantap pada malam hari, apalagi setelah Yogyakarta diguyur hujan. Hmm.. harum tanah basah bercampur aroma bakmi menggelitik bulu hidung! Khas bakmi jawa itu bentuk mie-nya bulat panjang dan tebal, tidak seperti mie biasa. Inilah yang membuat perut cepat kenyang haha. Kuah bakmi godog berwarna putih, hasil campuran bumbu tradisional jawa dengan telur bebek. Bakmi disajikan bersama suwiran ayam, telur bebek, kol, sawi, tomat, baun bawang, dan bawang goreng. Nyam nyam nyam.

Bakmi godog

Bakmi godog Jumpa Pers menambah daftar kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Warung tenda ini berada di pinggir Jalan Kaliurang KM 5. Yang menarik dari warung ini adalah bakmi godog-nya dimasak dengan tungku dan berbahan bakar arang. Tentu rasanya beda dengan yang lain. Mantap!

Tungku masak

Salak pondoh Sleman

Ada satu buah tradisional yang jempol banget di Kabupaten Sleman, DIY Yogyakarta. Namanya salak pondoh. Enaknya, kalau kita beli buah salak ini di warung-warung, pasti dibilangnya, “Baru dipetik itu, Mbak.” Jadi rasa manisnya masih fresh. Yang bikin seru itu karena di kulit buahnya masih ada duri-durinya. Ada sensasi tersendiri sebelum menikmati buah khas Sleman ini. Dan karena belinya langsung dari kota asalnya, harga per kilonya lebih murah. Oh iya, perbedaan rasa manis antara salak pondoh Sleman dengan daerah lain itu katanya karena sifat geografis seperti pH tanah yang berbeda. Hhmmm…

Yang menarik dari salak pondoh Sleman ini adalah sudah ada sertifikasi HAKI alias Hak Atas Kekayaan Intelektual yang diberikan langsung oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia kepada Komunitas Perlindungan Indikasi Geografis Salak Pondoh Sleman (KPIG-SPS) yang selama ini telah menanam salak pondoh.

Dengan adanya HAKI ini, maka siapapun yang hendak memproduksi atau mengeksploitasi produk salak pondoh untuk kepentingan bisnis harus mendapat izin dari Pemkab Sleman, selain itu setiap produk olahan yang menggunakan label salak pondoh maka bahan baku salaknya harus membeli dari petani Sleman. Waaaaah.

Wedang

Selesai makan, ada minuman hangat yang nikmat diteguk ketika hujan turun. Wedang! Di Yogyakarta ada berbagai macam wedang, seperti wedang secang, wedang uwuh, dan wedang pawuran. Menurut saya sih rasanya sama saja haha. Yang membedakan tiap-tiap wedang itu rempah-rempahnya. Rempah-rempah wedang pawuran, kata mas-mas penjual berblangkon, lebih lengkap dibandingkan wedang yang lain. Minuman tradisional ini asli dari Kraton Yogyakarta dan sangat disukai Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Wedang selalu disajikan untuk minuman sambutan selamat datang bagi tamu raja di Kraton Yogyakarta, khususnya adalah wedang secang.

Wedang

Wedang bisa kalian temukan di angkringan. Mengikuti perkembangan zaman, kini wedang sudah ada bentuk kemasannya. Jadi sudah dalam bentuk bubuk. Tinggal diseduh dengan air panas. Satu kotaknya mulai dari Rp 14.000 sampai Rp 17.000. Pilih saja wedang yang kamu suka ^^

Es Kencur Murni

Cuaca di Yogyakarta mirip di Bogor. Panas dingin tak menentu. Setelah panas-panasan berjalan kaki di sepanjang Malioboro hingga Pasar Beringhardjo, tenggorokkan saya terasa segar bila telah mencoba es kencur murni. Jamu tradisional ini cukup banyak dijual dengan gerobak dorong. Beli satu gelas mampu membangkitkan semangat jalan-jalan lagi hehe. Mau dijadikan oleh-oleh juga boleh, karena ada yang menjual dengan kemasan botol. Uenak tenan!

Es kencur dorong