2/10/13

Seduh Peluh di Rumpin

Berdua, saya dan Anggun adalah wanita. Sama-sama pembosan. Sama-sama menyukai kopi. Suka lho ya, bukannya cinta. Kita tidak maniak banget terhadap minuman rakyat itu. Lambung kami rewel, sehingga butuh frekuensi dan dosis tertentu agar perut kami tetap sehat wal afiat.

Meskipun sama-sama penikmat kopi, kami memiliki efek dan takaran yang berbeda. Kopi bagi Anggun adalah teman begadang yang setia. Kopi itu minuman wajib dan penting untuk menghadapi ujian kuliah. Nah sedangkan bagi saya, kopi tidak ampuh menghilangkan rasa kantuk. Kafein tinggi tidak mampu menghalangi kebutuhan mata saya untuk merem. Tidur ya tidur aja. Untuk konteks takaran, kami berdua sama-sama tidak menyeimbangkan konsentrasi kopi dan gula dalam larutan kami. Anggun penikmat kopi manis. Wanita metropolis itu akan menambahkan gula agar kopi dirasa cukup untuk diminum. Kalau saya bukan penikmat kopi manis. Tapi ya tidak plain coffee juga. Dua sendok kopi dan setengah sendok gula bagi saya sudah cukup. Meskipun racikan kami berbeda, Anggun adalah teman ngopi yang asyik. Ihiw.

Saya lupa kapan kami berdeklarasi untuk melakukan “kopi keliling”. Sebenarnya tidak ada nama khusus, tapi ya mari kita sebut itu kopi keliling. Kopi keliling adalah permainan seru di mana setiap kami pergi ke suatu tempat, baik itu lagi jalan-jalan atau sekedar mampir istirahat, kami akan minum kopi. Aneh? Iya, freaky banget. Rasa kopi kan gitu-gitu aja. Memang. Tapi rasanya akan lebih dari gitu-gitu aja karena ada cerita dari setiap perjalanan dan jeda saat kami meneguknya. Halaaah~

Ada jeda nikmat di antara peluh ketika kami ngopi di Rumpin hari Jum’at kemarin. Rumpin bukan tempat yang mudah dituju, apalagi daerah sengketa ini jauh dari tempat tinggal kami. Sebelum ngopi, kami juga sempat bermain bersama anak-anak kecil di sana. Maka kopi lumayan menghilangkan peluh yang menjelma menjadi keringat.

“Sok dibikin aja sendiri. Ibu nggak tahu takarannya. Kalo Bapak, kan sukanya pahit,” ujar Ibu Neneng seraya menyuguhkan sebuah kaleng biskuit. Setelah membukanya, Ibu Neneng mengeluarkan bungkus Kapal Api ukuran jumbo dan gula mini market. Dua sendok kecil dan dua gelas kaca dibariskan.

Sambil menunggu air panas, Anggun mulai meracik kopinya. Ia memberi tahu cara kami menakar kopi kepada Ibu Neneng. Saya menunggu giliran, menangkap cahaya tipis, asyik memotret. Anggun pun mencoba Canon barunya (ciiieeee) ketika saya memasukkan dua sendok kopi di gelas saya.

Meracik dan Berkisah

“Ibu juga difoto, dong,”  celetuk Ibu Neneng. Kami tertawa. Anggun mengabadikan momen eksis ibu empat anak itu.

Anggun Memotret

Kopi sudah diseduh. Saatnya diteguk. Kata Anggun kopi kami tertukar. Ia menambahkan gula. Lalu teraduklah cerita-cerita dalam larutan kopi kami.

Kopi Ketiga

Peluh ternyata juga dirasakan oleh ibu-ibu Cibitung di bilangan Rumpin itu. Suami mereka kebanyakan bukan pekerja tetap. Ibu Neneng misalnya. Suaminya adalah kuli bangunan, sehingga baru bekerja apabila ada panggilan. Maka dari itu para istri harus bekerja untuk menambah pendapatan keluarga.

“Ibu-ibu di sini bekerja apa, Bu?” tanya Anggun.

Pekerjaan para istri Rumpin bermacam-macam. Ada yang menjadi pembantu di Perumnas, pembuat tusuk sate, pengrajin keranjang bambu, dan pengoyoh sawah.

“Ibu dimarahin Bapak pas ikut-ikutan bikin tusuk sate. Udah mah susah, dapatnya juga dikit.” Ibu Neneng tertawa mengingat kenekatannya mengiris-iris bambu.

Tidak mudah membuat tusuk sate katanya. Ukuran setiap tusuk harus sama dan ujungnya tidak boleh terlalu tumpul. Kalau tidak terbiasa, bisa-bisa malah jari kita yang teriris. Kata Ibu Neneng, setiap 400 tusuk sate yang dibuat akan dibayar Rp 2500 saja. Nanti ada semacam tengkulak yang mengambil dan menjual ke pasar. Kami yang mendengar cerita Ibu Neneng terbengong-bengong. Betapa sulitnya mendapatkan uang sedikit itu. Buat beli bakso aja tidak cukup kalau hanya bisa membuat 400 tusuk sate.

Seratus keranjang bambu yang dianyam ibu-ibu pengrajin akan dibayar Rp 15.000. Tidak mudah juga membuat keranjang. Harus rapi dan berbentuk. Kalau saya mencoba membuatnya, pasti mencong-mencong. Layaknya tusuk sate, nanti ada pengumpul keranjang yang akan menjual ke pasar.

“Yang enak itu kalau ngoyoh sawah. Setiap hari dapat makan,” lanjut Ibu Neneng. Beliau tidak menceritakan apa itu mengoyoh sawah. Kalau menurut saya sih ya merawat sawah, seperti mencabut rumput, memupuk, menebar pestisida, dan lainnya. Mungkin ya.

Kopi keliling kami yang ketiga tertambat di Rumpin. Rumpin sore itu tidak hujan seperti hari-hari sebelumnya. Ia sejuk dan menenangkan. Kopi terasa makin nikmat. Sisa kafein di mulut tidak terlalu asam. Yap. racikan kali ini pas.

No comments:

Post a Comment