Showing posts with label imajinasi. Show all posts
Showing posts with label imajinasi. Show all posts

8/2/13

Rumah Impian

Saya, kamu, semua orang tahu, masing-masing dari kita pasti harus pindah. Kita tidak mungkin tinggal di satu tempat yang sama sampai selamanya. Hidup itu dinamis. Ia bergerak. Pergerakan hidup mengantarkan kita kepada kematian. Mati pun juga bergerak. Kita tidak selamanya menetap di dalam tanah. Ada dunia bernama akhirat yang siap menampung kita. Hidup di akhirat juga tidak ada yang diam. Di surga ada sungai-sungai yang mengalir. Di neraka ada perpindahan gelombang suara teriak milik mereka yang gemar membantah Tuhan ketika di dunia. Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampai kita ujung-ujungnya berpindah ke neraka.

Kata pindah selalu melekat dengan asal perpindahan. Tidak akan disebut berpindah kalau tidak ada tempat berasal. Izinkan saya menyebutnya rumah. Sebelum kita menempati rumah di alam abadi kelak, memang kita menetap di rumah dunia. Banyak teman saya yang berkata, “Dunia itu semacam pitstop-nya Valentino Rossi pas lomba Moto GP. Dunia itu layaknya pom bensin dalam perjalanan mudik. Ibaratnya adalah tempat lo isi bahan bakar kendaraan biar nggak mogok, tempat lo makan karena di jalan tol Cikampek nggak ada warung pinggir jalan, juga tempat lo istirahat sebentar supaya mengemudi lo nggak bikin kecelakaan.”

Dunia cuman tempat singgah dalam perjalanan akbar manusia ke alam akhirat. Pertanyaannya: tempat singgah seperti apa yang memang benar mengantarkan kita kepada surga? Perbekalan apa saja yang harus kita siapkan agar tidak melenceng ke neraka? Patuhi diri kepada Islam. Itu jawaban mudahnya.

Sebenarnya saya tidak ingin menulis tentang hakikat hidup di dunia menuju akhirat. Ilmu saya masih cetek banget. Secetek kolam renang anak TK. Kamu pasti lebih paham. Tiga paragraf tadi hanya pengingat saya saja sih, karena apa yang mau saya tulis wajib bercermin pada pengantar barusan.

Apa yang mau saya tulis? Hhmm. Bukan sesuatu yang penting sih. Toh saya juga tidak tahu, apa yang tertulis nanti bakal terealisasikan atau tidak. Namun mungkin suatu saat nanti, ketika saya masih ingat blog ini dan membacanya lagi, saya bisa mesem-mesem sendiri karena punya keinginan aneh seperti ini.

Seperti apa? Seperti inilah ^^

Saya dan kamu tahu, kalau sudah matang nanti, kita tidak mungkin tinggal selamanya bersama orang tua. Kalau kata Mama, yang merujuk dari hadist yang saya tidak hapal, orang yang tidak menikah tidak termasuk umat Nabi Muhammad. Tahu arah tulisan ini akan kemana? Hehehe. Bukan bukan. Bukannya ngebet nikah. Cuman ya siapa sih yang tidak mau menikah? Harganya sebanding dengan setengah keimanan booo. Ini jual beli yang mahal dan sayang untuk dilewatkan.

Kalau kata Ayah, orang yang sudah menikah harus tinggal pisah dengan orang tuanya. Itu artinya ya harus punya rumah sendiri. Nah ini dia yang mau saya tulis. Sama seperti judulnya: Rumah Impian.

Perjalanan singkat dari Departemen ITSL menuju Perpustakaan kampus Kamis kemarin menggenapkan rumah impian yang mau saya tempati kelak. Haaa, apa hubungannya? Begini hubungannya. Anak IPB atau yah yang pernah ke IPB deh, pasti tahu ada jalan tercepat dari Fakultas Pertanian menuju Perpustakaan IPB. Yap, lewat kantin Fakultas Teknik Pertanian (Fateta). Saya sering melewati kantin ini. Hanya saja kalau sedang tidak ada teman berjalan dan tidak dikejar waktu, saya suka memutar lewat ITSL menuju perpustakaan.

Penting banget nggak sih ini?

Alasan utama saya lewat jalan memutar karena ada Arboretum Fakultas Kehutanan yang kece banget! Kalau ada yang bingung, arboretum itu seperti hutan kecil-kecilan gitu. Setiap lewat Aboretum Fahutan, saya ingat pembicaraan tidak penting saya kepada teman, “Gue pengen banget punya rumah di gunung.” Dan langsung ditimpali tatapan nyeleneh dari teman saya, “Ah elo mah, kebiasaan.” Hahaha, ada yang salah kah? Tentu tidak. Toh tiap orang punya seleranya masing-masing.

Dulu saya pernah mau punya rumah yang dindingnya terbuat dari kaca semua, jadi transparan gitu. Tidak perlu lampu karena bakal ada sinar matahari dan bulan sebagai penggantinya. Saya juga bisa semau saya melihat keindahan dunia kapan saja. Tidak perlu pakai tembok karena harga batu bata mahal katanya. Tapi ya malu juga sih kalau lagi asyik selonjoran di kursi dilihatin orang dari luar. Hehehe.

Dan selera saya tentang rumah berubah. Seperti apa? Seperti ini.

Saya pengen banget punya rumah kayu. Kecil aja, jangan besar-besar, malas bersih-bersihnya hehe. Setiap saya melangkah, lantainya berderit kayak rumah mau roboh. Ruangannya juga jangan banyak-banyak. Standar aja sih. Kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga. Ruang makan dan ruang tamu jadi satu dengan ruang keluarga. Biar semuanya tumplek blek di situ. Tapi yang penting harus ada perpustakaan dan kamar gelapnya.

Perpustakaan? Iya. Dari dulu tuh saya pengen banget punya ruangan khusus perpustakaan. Di rumah yang sekarang saya tempati, buku bejubel dimana-mana nggak karuan. Di atas lemari baju, tersusun di kasur, di rak album foto, di kolong tempat tidur, di koper bekas pindahan kostan, di meja komputer, tergeletak di lantai. Lemari khusus buku tidak sanggup menampung jumlah buku yang ada di rumah. Ruang baca juga dimana saja. Di kamar tidur, ruang tamu, dapur, bahkan beranda. Suatu saat nanti, bakal bersyukur sekali punya rumah yang ada perpustakaannya. Oh iya, perpustakaannya harus besar. Kalau bisa lebih luas dari ruangan lain. Saya penggemar buku. Pasti banyak buku yang akan menggenapi tiap sudut perpustakaan. Kalau bisa ada satu lemari khusus berisi buku-buku yang saya dan suami tulis. Selain itu, perpustakaan ini mau saya jadikan tempat sholat juga. Sholat itu enak banget kalau di tempat yang sunyi, salah satunya di perpustakaan kampus, dan insya Allah calon perpustakaan pribadi saya. Kayaknya bakal seru kalau setelah sholat berjamaah dengan keluarga baru kita membahas satu halaman tafsir tiap harinya. Kalau mau diskusi, tinggal ambil di lemari ^^

Satu ruangan lagi: kamar gelap. Apakah itu? Itu loh ruangan kedap cahaya tempat mencetak foto dari film kamera analog. Nah nantinya foto-foto jepretan saya akan saya tempel di dinding tiap ruangan. Rumah saya nantinya bisa jadi ruang pameran juga hehe.

Saya tidak peduli rumahnya harus bergaya Eropa atau India atau Papua. Sederhana saja deh. Jangan banyak ukiran dan perabot saja. Ribet bersihinnya. Yeeee, ini dari tadi malas banget sih bersih-bersih. Hahaha. Ngelesnya sih biar nggak banyak debu. Nanti jadi sarang penyakit.

Rumah yang mau saya tempati nanti kecil saja. Tapi halamannya luas banget, seluas-luasnya luas. Halaman depan ditanami rumput gajah juga berbagai tanaman obat dan sayur. Halaman belakangnya kalau bisa ada danaunya. Hahaha, ini mah harus nikah sama tukang sewa bebek air.

Kalau boleh, saya pengen banget punya rumah di Ranu Kumbolo. Setahu saya di sana ada bangunan tidak terpakai. Harusnya sih buat pos pemantau gitu. Nggak tahu deh kenapa sekarang kosong (apa sudah dirobohin? Nggak tahu. Belum pernah kesana. Kapan-kapan kalau diizinkan ke Semeru, harus di-cek nih). Nah, boleh lah ya itu bangunan jadi rumah saya aja. Pas banget kan dengan cita-cita saya punya rumah di gunung. Apalagi dikelilingi hutan. Wah, nggak perlu pindahin arboretum Fahutan tuh. Hahaha, ngarep banget ini. Kayaknya nggak mungkin deh. Ya udah sih, namanya juga impian. Mengkhayal dikit lah. Bang, pesen satu kavling di Ranu Kumbolo ya ^^

Terlepas dari khayalan tingkat tinggi yang lupa daratan ini, rumah kita di dunia haruslah tidak lepas dari hakikatnya sebagai pom bensin menuju rumah abadi di akhirat. Bakal keren banget kalau rumah kita tidak berhenti melatunkan ayat suci Al Qur’an. Tidak dengan suaranya saja, hawanya, dan segala perilaku yang dilakukan di dalam rumah ya sesuai dengan yang diajarkan di Al Qur’an. Apakah ini bakal sulit? Ya sulit kalau tidak dilakukan bersama-sama seisi rumah. Harus tercipta satu tim yang klop banget agar rumah kita nantinya jadi salah satu rumah di surga, atau segala aktifitas di rumah akan menambah langkah kita mendekati komplek di surga. Bagaimana meng-klop-kannya? Ya masing-masing penghuni selayaknya meng-klop-kan hatinya kepada Allah semata, insya Allah ^^

7/9/13

Tamu Musim Gugur


Daun Terakhir


Kami kenal sekali tandanya. Jemuran-jemuran lambat mengering. Tawa renyah bocah dengan bandana ungu tua menanti hari ekuinoks. Sambil berlari menuju rumahnya di perbatasan antara rumah kami dengan terminal bus, ia menanggalkan baju seragam kebesarannya. Pedagang asongan di pusat perpindahan pun ikut menyakinkan kami akan kedatangannya. Cesnut berbagai rasa terbungkus kertas warna-warni. Mulai dihargai sekian sen hingga sekian yen. Jengkerik menggelar orkestra pukul delapan malam. Bajing-bajing berisik berlarian di beranda rumah kami, mencuri biji-biji yang tidak pernah kami semai. Ya, tidak pernah lagi disemai sejak hari kelabu itu.

Tepatnya 23 September tahun lalu. Di hari berbahagia itu, ketika guru-guru mengumumkan hari libur, anak-anak bersorak kegirangan, tempat wisata ramai dikunjungi orang. Orang-orang ramai mengunjungi tempat wisata. Orang-orang hanya berlalu saja melalui rumah kami. Menengok barang seperdetik. Menggumamkan belas kasihan. Lalu berlalu ke tempat wisata. Sungguh, memang gulali lebih menggoda kemanusiaan dibanding lelaki yang terbujur kelu di beranda rumah kami. Lagi-lagi beranda. Ruangan tak berdinding itu adalah bab tersendiri yang sangat bersejarah pada lembaran buku keseharian kami.

Dengan suara terberatnya, ia akhirnya berkata “Pada hari pertama musim gugur nanti.”
“Hari ekuinoks, Kek? Kata Bu Guru, aku diajak jalan-jalan ke pusat kota. Asyik, Kek.  Kakek harus ikut! Aku mau main sama kakek. Layang-layang!”

Kami yang lebih tua dan mengenali tandanya menyuruh yang paling bungsu bermain bersama ayam di luar. Biarkan kami menyesap lanjutan kalimat Kakek Ahn.

“Pada hari pertama musim gugur nanti, yang indah harus berguguran untuk menciptakan keindahan lain. Mungkin juga waktuku untuk menggugurkan diri. Bersatu bersama yang merah-merah. Merasakan anomali tanah menuju musim dingin.” Gelombang suara yang tidak menyiratkan kesedihan itu melayang-layang bersama gerah angin musim kemarau hingga bertemu teduh musim gugur di persimpangan garis ekuator.

“Kakek harus berjuang. Ia hanya kanker di otak. Pasti bisa dilumpuhkan oleh hati yang tenang. Kakek yang bilang sendiri bahwa pikiran jahat akan kalah dengan hati yang bersih.”

“Kita tidak bisa menyangkal. Tanda-tandanya semakin jelas. Sebaiknya kita mulai menyewa ruangan di kuil atas. Kukira kakek terima saja bila jadi abu.”

“Sialan kamu! Memang sejak awal kamu ingin kakek cepat-cepat mati, kan? Taman seribu hektar itu, ambil saja semua, tapi jangan kakek. Enyah! Seharusnya wanita durhaka sepertimu yang mati lebih dulu, bukan kakek.”

“Lancang! Lagipula, kamu menunggu apa? Keajaiban? Peri-peri berpanah? Bah. Itulah mengapa aku tidak pernah setuju kamu menjadi pendongeng. Menghadapi realita saja kamu tidak realistis!”

“Kalian berdua hentikan,” keluh kakek setelah terbatuk empat kali. “Betul kata Lian-mu, Tan. Tidak ada keajaiban yang seharusnya kamu tunggu. Sejatinya, kakeklah yang menginginkan menggugur. Tidak ada alasan lagi untukku terombang-ambing angin pada cabangku yang renta.”

“Kami, Kek. Kamilah alasan kakek harus hidup.” Salah satu dari kami tidak sanggup menahan titik air di sudut mata. Kini titik itu memanjang, membentuk garis basah yang mengalir ke tengkuk.

Satu tetes tangisan mendarat di bukit urat lengan kakek. Dingin air mata itu sedingin air terjun yang selalu kakek kunjungi bersama kami di akhir musim panas. Dingin yang menyegarkan. Dingin air terjun yang bisa meleburkan perbedaan kutub kami, Lian dan Tan. Namun dingin kali itu adalah buah dari ketakutan dan bakal kehilangan yang memuncak.

“Kalian sudah tahu rasanya menjaga. Kamu sudah punya Xing, Tan. Kalian tidak perlu lagi kujaga.”

“Dengar itu, Tan? Sekarang sebaiknya kamu menelepon kuil. Kita butuh ruangan yang kecil saja. Tidak perlu mengundang orang banyak. Awal musim gugur orang-orang akan sibuk mengikuti festival, tidak akan ada yang datang melayat.”

“LIAN?!”

“Kamu tidak perlu menelepon kuil, Tan.”

“Tapi, Kek?”

“Kakek tidak mau dikremasi, menjadi abu, dimakan ikan laut. Tidak mau.” Kakek menggeleng.

Hari itu banyak sekali penolakan. Tentu saja tidak ada yang sanggup menerima kematian. Gila kali. “Lalu bagaimana? Dimasukkan ke dalam peti? Dipakaikan jas dan dasi?”

“Dibungkus kafan saja.”

Kami berdua sudah mengira bahwa kakek ingin dimakamkan secara Islam. Kami saling berpandangan. Masih tidak percaya bahwa kakek tidak memilih cara leluhur kami ketika kembali ke dewa. Masing-masing kami memancarkan padangan yang berbeda, marah atau sesal.

“Apalagi ini, Tan? Lihat. Kamu sudah mengacaukan semuanya. Keluarga kita. Terlebih, kepercayaan kakek. Ini semua karena dongengmu tentang Muhammad itu. Sialan!”

“Muhammad seorang Nabi, Lian. Itu bukan dongeng.”

“Dan kamu sudah membuat kakek ternoda di hari terakhirnya? Apa yang sudah kamu ceritakan? Dewa-dewa akan marah! Berhentilah menjadi pendongeng!”

“Dalam mendongeng aku tidak pernah menyalahkan dewa! Mana aku tahu kalau kakek jadi begini, Lian?! Berhenti menyalahkanku!”

“Tidak bisa kah kalian diam? Malu dilihat tamu di balik tirai itu.”

Kami menoleh ke jendela. Tidak ada siapa-siapa. Kakek mulai melantur. Ajalnya semakin dekat.

“Tapi, Kek, mengapa harus dikafan? Apa diformalin saja, ya?”

“Tenanglah, Tan. Ini bukan karena kamu. Tapi memang cerita-ceritamu itu, apalagi tentang Muhammad, menyadarkanku tentang hakikat hidup. Buat apa dimasukkan ke dalam peti, memakai jas, atau dasi mahal? Toh aku tidak ada kuasa menyeret-seret peti ke hadapan Tuhan. Lalu kalau kakek menjadi abu, hilang bersama angin, bagaimana kakek bertemu dengan Tuhan? Biarkan kakek yang awal ciptanya dari tanah ini kembali ke tanah. Biarkan kakek dikafan saja. Mudah kan? Kalian tidak perlu menghamburkan uang menyewa kuil atau membeli peti. Tuhan pasti menerima kakek apa adanya.”

“Dewa, Kek, bukan Tuhan.”

“Tuhan, Lian. Tuhan. Tuhan yang Esa. Satu. Tidak tiga. Tidak berkepala  singa. Tuhan yang Berdiri Sendiri. Yang Menciptakan aku, kamu, musim-musim. Tuhan yang Menggugurkan daun-daun di musim gugur pada seluruh penjuru dunia. Tuhan yang Berkuasa. Tuhan yang tidak perlu sesajian suci. Tuhan yang tidak perlu disarung. Tuhan yang tidak punya rasa lapar. Tuhan yang bukan manusia.”

Kakek melantur begitu tegasnya. Kami kalut bukan main sementara musim gugur bersiap mengetuk pintu rumah. “Sayang sekali, mengapa kakek baru sadar sekarang? Mengapa kamu baru cerita sebulan lalu, Tan? Apa Tuhan memaafkan aku? Apa kata Muhammad tentang orang-orang seperti kakek, Tan? Apa? Ceritakanlah, wahai anakku pencerita yang baik?”

“Tan tidak mau cerita, Kek. Tan takut dimarahi dewa.”

“Kakek rasa Tuhan akan memaafkan kakek. Kakek tidak mengharapkan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai menurut kisahmu, Tan. Kakek hanya tidak mau masuk neraka yang minumannya adalah nanah yang panas, juga menurut kisahmu, Tan.”

“Hentikan, Kek!” Tidak disangka kami berteriak bersamaan. Sebesar apapun perbedaan kami, kalau masalah kepercayaan, kami sama-sama penurut dewa yang taat. Tidak kuasa kami terus mendengar ocehan kakek.

Dan benar saja, lanturan kakek terhenti. Tidak lagi kami mendengar paraunya. Selama-lamanya. Musim gugur berhasil mendobrak pintu rumah kami. Menggugurkan satu-satunya harapan kami untuk tetap bersama. Setelah Papa, Mamak, lalu Kakek. Musim gugur dengan keindahannya merenggut keindahan hidup kami.

Belajar dari musim gugur yang sudah-sudah, kami memutuskan untuk tidak membukakan pintu pada apapun dan siapapun yang berkunjung ke rumah kami. Baik itu membagi kue dango atau sekedar menyedekahkan tawa renyah. Maaf kami tidak menerima satu tamu pun. Lian menyuruhku, yeah dengan gaya congak sok sulung seperti biasanya, membeli gembok kemarin. Lian tak peduli apakah gembok kami anti karat atau ada relief tengkoraknya. Yang ia pedulikan hanyalah gembok itu tidak bisa dibuka oleh siapapun. Aku setuju. Tiba-tiba rumah kami tidak beda dengan Azkaban di film fiksi favorit Xing.

Tapi, siapa tamu itu? Ia tidak memiliki kunci. Bahkan tidak tahu kode rahasia gembok kami. Namun dengan mudahnya ia duduk di kursi rotan kesukaan kakek di beranda. Wajahnya putih kemasaman tapi teduh. Bajing-bajing yang tadinya sibuk mencuri biji-biji kami spontan tidak bergerak barang sesenti pun. Helai daun pepaya menjadi enggan bergoyang. Entah tunduk entah takut. Entah.

Napasku juga berhenti mendadak. Tirai jendela tanpa partisi kami terbuka setengah, tidak sempat kututup saking gugupnya.

“Ada apa?” Lian berbisik di telingaku. Tidak sampai ia menengok, nada terakhirnya tercekat.

“Tutup. Tutup. TUTUP TAN! TUTUP!”

Aku gemetaran. Neuron dalam otakku memerintah menutup tirai. Saraf tulang belakang yang terhubung dalam jemari dinginku memerintahkan sebaliknya. Bukannya tertutup, tirai tempatku bersembunyi di belakangnya sontak tersibak. Lebar. Selebar-lebarnya. Hingga tidak ada seincipun dari rumah kami tertutup.

Rumah seketika terang.

“Li … Lian … Dia. Tamu itu. Setahun lalu. Kakek. Dua orang itu.”

“Hentikan. Kita harus pergi. Mana kuncinya? Sial! MANA KUNCINYA?!”

“Sama. Mereka. Sama. Lian. Sama. Tamu musim gugur itu. Sama. Yang membawa kakek. Sama.”

“Diam kau, Tan. Kemasi barang-barangmu. Kita pergi lewat pintu belakang. Bawa Xing. CEPAT!”

Ayo Tan. Pergi. Ke kamarmu. Ambil Xing. Pergi dari sini. Kali ini turuti Lian. Cepat!

“Muhammad. Kamu jelas-jelas paham benar tentang lelaki itu, Tan. Tapi kenapa hatimu seperti terkunci? Tidakkah dadamu bergetar ketika mengisahkan lelaki keturunan Arab itu kepada kakek? Tan. Kenapa? Pergilah ke Indonesia. Ke Lasem. Datangi penjuru negeri. Kamu tidak akan menihilkan cerita-ceritamu, hai pendongeng baik.”

3/10/13

Budaya Menggambar


Kuliah Perubahan Sosial pernah menjadi kuliah yang paling abstrak dan membosankan yang saya dan Arini ikuti. Di sela ocehan dosen menjelaskan berbagai teori sistem dunia, kami mengoceh tentang bahasan lain: kultur menggambar.

“Kenapa waktu kita kecil kita selalu menggambar dua gunung, di tengahnya ada matahari, di atas matahari ada garis-garis lurus sebagai arah sinar, di bawah gunung ada sawah kotak-kotak dan jalan. Terus di kasih burung kayak huruf M dan dua awan di dekat puncak gunung?” Saya mengenang sambil berbisik takut ketahuan mengobrol oleh dosen.

“Ih kalo Rini nggak gitu loh. Kalo Rini suka gambar pantai terus ada pohon kelapanya,” sanggah Arini sambil menggambar pantai di buku catatan kuliahnya.

Dari obrolan tidak penting itu kami mengetahui satu hal yang penting: lingkungan ataupun latar belakang budaya mempengaruhi objek yang kita gambar. Saya yang sedari kecil sudah dikenalkan gunung oleh Ayah dan setiap hari melihat dua gunung adidaya di Bogor akan menggambar gunung sebagai tugas sekolah TK. Arini yang hidup dan besar di daerah pesisir, ya pasti menggambar pantai dan pohon kelapa. Orang gunung akan menggambar gunung. Orang pantai akan menggambar pantai. Dan bentuknya pasti itu-itu saja. Hampir di setiap tugas anak-anak.

Nggak percaya? Adik-adik saya di Rumpin bisa memperkuat teori saya dan Arini.

Jum’at kemarin, kegiatan mengaji di Kampung Cibitung kurang tenaga pengajar. Ibu Neneng lagi kondangan di Jawa. Kakak-kakak yang mengajar hanya saya dan Kak Imam. Kakak-kakak yang biasa mengajar lagi sibuk, maklumlah masih mahasiswa aktif. Ada sih Kak Dina, tapi datangnya telat karena baru selesai praktikum. Lagipula, kedatangannya ke Rumpin bukan untuk mengajar, melainkan mau meneliti perubahan struktur masyarakat pasca konflik agraria di tahun kelam dulu. Meksipun dibantu Ibu Mimih, tetap saja banyak adik-adik yang tidak ‘kepegang’. Alhasil saya dan Kak Imam bolak-balik masuk keluar mushola untuk mengajar. Tujuh puluhan anak diajar dua orang bikin gempor juga -.-'

Ketika sedang mengajari yang kecil-kecil, yang besar-besar (apa sih ini besar kecil?) saya minta membuat kelompok lalu mereka menggambar ciptaan Allah SWT yang ada di sekitar mereka. Wah, mereka antusias sekali mencari-cari teman. Menurut saya hal ini penting bagi mereka supaya mereka bisa belajar bekerja sama, menyatukan berbagai pendapat untuk menciptakan karya yang bagus. Adik-adik berebutan minta kertas gambar yang saya bagikan. Ludeslah buku sketsa saya. Yang tidak kebagian kertas, saya minta teman yang lain membagi dua kertasnya. Yang punya inisiatif, mereka bertanya, “Kak, aku boleh pakai buku tulis, ya?” Aku tersenyum, “Boleh, kertas apapun yang penting kalian menggambar.” Ketika yang kecil-kecil selesai dengan tugas menulisnya, mereka juga minta ikutan menggambar. Yo wes, jadilah sore itu diadakan kelas menggambar. Ada yang menggambar berkelompok, ada juga yang sendiri-sendiri. Karena alat gambar di sekolah non-formal itu terbatas, mereka berbagi pensil warna dan krayon. Meskipun saya membawa alat gambar dari rumah, tetap saja kurang. Kelas menggambar sore itu juga mengajarkan pentingnya berbagi. Alhamdulillah.

“Kak, manusia ciptaan Allah, kan?” tanya adik kecil. Ia menatap saya lugu. Saya mengangguk imut tapi tidak berhasil. Hahaha.

“Kak, pohon bambu ciptaan Allah, kan?” Saya mengangguk lagi. “Ayo, apalagi coba ciptaan Allah yang ada disini?”

“Kak, aku mau gambar kambing aja.” Itu kata Rani, adik perempuan yang tingkahnya tomboy banget, kayak preman. Kerjaannya ngajak ribut. Lalu dia ngeloyor menuju rumah Ibu Mimih. Di depan rumah adiknya Ibu Neneng itu memang ada kandang kambing. Mungkin Rani ingin menggambar langsung di depan objek gambarnya. Bah, macam pelukis saja kau ^^

“Yang gambarnya bagus, nanti dikasih hadiah, deh,” seru saya. Kelas bersorak. Kak Imam berteriak, “Nih, kakak kasih hadiah.” Dia mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang masih dibungkus. Walah, saya yang dadakan mengadakan lomba gambar, dia sudah menyiapkan hadiahnya duluan. Bagus deh, adik-adik jadi makin semangat.

Di saat adik-adik menggambar, saya bisa istirahat sebentar. Kak Imam sibuk menelepon Kak Dina yang nyasar mencari sekolah kita. Dia cari pinjaman motor untuk menjemput Kak Dina. Hahaha berasa di pelosok banget.

Saya perhatikan sekilas, banyak adik-adik yang menggambar gunung. Hanya saja objek dan komposisinya lebih beragam. Mereka tidak hanya menggambar gunung. Gambar mereka bisa saya bilang lebih imajinatif dan kaya akan objek. Ada yang gambar pohon dengan berbagai bentuk, jalan yang bersimpang, lampu lalu lintas, rumah sekaligus pagarnya dengan sudut pandang yang tidak masuk akal. Bahkan ada yang menggambar sapi berwarna merah. Hahaha. Benar, kan teori saya dan Arini, kalau orang gunung akan menggambar gunung. Yap, teori kami berhasil dibuktikan. Yuhuu!

Sapi Merah karya Anis

Amsori mendatangi saya sambil senyam-senyum. “Nih, Kak udah beres.”

“Ha? Cepat banget.”

“Itu mah gambar yang dulu-dulu, Kak. Tadi Amsori sobek buku gambarnya,” timpal Rani dengan nada ejeknya yang khas. Ngejek banget dah ^^

Dengan satu koor tanpa konduktor, kelas ber-woo ria. “Wooo, curaaaang.”

Saya tertawa. “Ya sudah ya sudah. Nanti kakak tandain ya yang pakai gambar dulu-dulu. Nanti nilainya kakak kurangi.”

Amsori masa bodoh. Yang penting selesai. Huuuu.

“Eh, kamu kok gunungnya ada kuning-kuningnya gitu sih? Apa ini?” Saya bingung melihat gambarnya yang kaku. Amsori menggambar gunung pakai penggaris. Jadilah gunung yang ia punya lancip banget. Kalo Kak Imam yang notabene-nya doyan naik gunung, pasti kesakitan deh ngaso di atas puncak gunung buatan Amsori. Hahaha patut dicoba.
“Ih itu gunung emas, Kak,” ujarnya bangga. Ada gitu ya gunung emas? Yo wes, terserah imajinasi tuh bocah aja dah.

Gunung Emas karya Amsori
 
Lain lagi dengan gunung buatan Rohadi. Di puncak gunungnya ada bagian yang ia beri warna oranye. Waktu saya tanya itu maksudnya apa, dia menjawab, “Itu gunung berapi, Kak.” Hihihi. Kelima gunung yang ia gambar ada apinya. Wah, bencana besar tuh ^^

Gunung Berapi karya Rohadi

Pukul 3 sore lomba menggambar dadakan selesai. Beberapa adik sudah menyelesaikan gambarnya. Hasil gambar cowok-cowok saya kasih ke Kak Imam, biar dia yang memilih siapa juaranya. Toh hadiahnya sudah ada.

Setelah ribet banget menyuruh adik-adik duduk, saya mengumumkan juara gambar kategori laki-laki solo, alias menggambar sendiri, tidak berkelompok. Nama aslinya Yani. Saya bingung karena yang maju mengambil hadiah adalah laki-laki. Eh, benar deng adik itu namanya Yani. “Tapi sering dipanggil Hejo,” jelas Kak Imam. Yani malu-malu ke depan. Ia saya anggap si sulung karena umurnya paling tua di antara adik lainnya. Mungkin umur mempengaruhi kualitas gambar kali ya? Hehehe.

Juara kategori Laki-laki Solo karya Yani

“Kenapa dia juaranya, Kak?”

“Soalnya perspektifnya bla bla bla bla,” jelas Kak Imam. Aduh, nggak ngerti deh saya mah kalau udah bicara perspektif. Hahaha. Tapi memang gambar Yani cukup bercerita sih. Selamat ya, Yani. Hadiah dari Kak Imam dijaga baik-baik ya ^^


“Yang lain belum dinilai ya. Kira-kira mau hadiah apa?” Kelas riuh dengan berbagai permintaan hadiah. Rumah, kerudung, tas, mobil, juz amma, gelang. Apapun disebut. “Yang laki-laki dikasih boneka aja, Kak.” Satu suara dari geng MMC alias Malahpar Motor Celub berteriak disambut cekikikan teman-temannya. “Hei, masa laki-laki minta boneka?”

Hadiahnya sampai detik saya menulis ini masih belum dipikirkan. Hehehe. Atuh dah uangnya juga belum ada. Hohoho. Tapi juaranya sudah ada dong. Nah, di bawah ini gambar terbaik dari puluhan gambar terbaik adik-adik.


Juara kategori Perempuan Solo karya Anisa Putri

Gambar ini patut menjadi juara karena gambar pohonnya variatif. Bentuk bunganya juga lucu. Selamat ya Anisa yang suka sms-an sama saya. Hahaha. Tenang tenang, nggak ada konspirasi kok ^^

Juara kategori Laki-laki Kelompok karya Sanusi, Rian, Wahyu, dan Gendon

Ini gambar out of the box banget. Tidak ada yang menggambar gunung dan pantai seperti mereka. Salut deh. Tapi kenapa ikannya sendirian gitu?

Juara kategori Perempuan Kelompok karya Nurul Laela, Aida Indah Lestari, Siti Sulastri, dan Nur Pitriah

Gambar ini juara banget! Mataharinya beda dengan matahari-matahari yang digambar kebanyakan adik-adik. Matahari mereka tidak menyembul di antara dua gunung, tetapi dihalangi oleh awan. Menarik! Gambar pohonnya juga banyak. Bahkan ada gambar monyet dan jerapahnya. Wah, penuh dengan ciptaan Allah deh. Sepertinya mereka berhasil menyatukan berbagai ide dengan baik. Mantaaaap!


Menurut saya, semua gambar adik-adik kreatif. Bahkan ada yang menggambar gunung yang diberi tulisan Woles. Hehehe, gaul banget deh ini!

Gunung Woles karya Yoga

Selain gunung, ada berbagai gambar lagi yang dibuat. Ada yang gambar meniru buku bacaan. Bagus sih, tapi kata Kak Imam, “Kurang imajinatif, bukan karya sendiri.” Oke deh kakak. Lalu ada juga yang menggambar Hatake Kakashi mengenakan kemeja. Hihihi.

Gambar tiruan karya Tuki

Hatake Kakashi karya Enpi

Puluhan gambar lainnya

Di antara kertas gambar terselip satu kertas yang bikin saya terawa. Nih kayak foto di bawah. Hahaha. Tetap ya laki-laki itu mau hadiah boneka. Halaaaah~

Surat Kaleng err -.-'

Lagi asyik memilih juara gambar, saya menemukan satu gambar buatan adik saya. Gambarnya unik banget. Hei, dik, unik itu bahasa halusnya aneh, ya, hehehe. Saya bilang ia menggambar pohon ubur-ubur. Adik saya menyanggah, “Bukan, itu pohon Avatar biru-biru itu loh.” Ah ya saya ingat. Di film Avatar biru-biru (bukan Avatar the Legend of Aang yang botak ya) ada pohon sakral yang dikeliling ubur-ubur terbang. Nah, adik saya mencoba mengkombinasikan keduanya. Hm … boleh lah. Tapi kamu jangan minta hadiah, ya?

Pohon Avatar Biru-biru karya Faris

Eit, saya juga tidak mau ketinggalan. Sudah lama nih tidak menggambar. Ada cat air sisa di kamar. Coret-coret bentar deh mau menandingi gambar sapi merah. Saya menggambar burung merah. Hahaha, iya iya gambar saya polos banget, nggak ada embel-embelnya. Kalah deh sama gambarnya adik-adik di Rumpin. Kakinya aja bengkak sebelah -.-'

Burung Merah karya saya

Kelas menggambar dadakan Jum’at itu seru sekali. Gambar yang dibuat mengintrepetasikan kultur daerah si penggambar. Mau lah saya kapan-kapan ke Tembilahan (Indragiri Hilir, Riau) lalu meminta adik-adik di sana menggambar. Gambar pantai seperti apa ya yang akan mereka buat?