9/24/13

Pelabuhan Sunda Kalapa: another faces in Jakarta!

Sebutkan tempat wisata yang ada di Jakarta! Ancol. Monas. Masjid Istiqlal. Dufan. Kota Tua. Yeah, nama-nama itu pasti tidak asing lagi di telinga kita. Tapi kalau Pelabuhan Sunda Kalapa? Nah loh. Memang itu tempat wisata, Nis? Iya lah. Tapi karena memang jarang ada wisatawan yang mendatangi tempat ini, tidak banyak yang tahu kalau Pelabuhan Sunda Kelapa juga mubah disebut tempat wisata. Nah, karena jarang orang itu lah, ketika saya menapaki kaki di tempat melabuhnya kapal-kapal dagang antar pulau itu saya seperti punya pelabuhan sendiri.

Hm … tapi mungkin aneh juga sih kalau disebut tempat wisata. Kenapa? Pertama, tidak ada tempat parkir khusus bagi kendaraan pribadi. Jadi parkir di mana saja boleh. Namun jangan khawatir, tetap ada penjaga kendaraan yang akan memastikan keamanan kendaraan kita. Selain itu tidak ada retribusi atau biaya karcis masuk ke Pelabuhan Sunda Kalapa. Begitu saya sampai disana, mau lari-lari atau joget sekali pun nggak akan diminta uang tiket. Mungkin karena inilah orang merasa tidak ada yang spesial dengan pelabuhan ini. Ya layaknya terminal bus, cuman jadi tempat pemberhentian transportasi umum. Padahal kalau mau melangkah sebentar dan berbincang dengan warga sekitar, kontan saya bisa menyimpulkan kalau Pelabuhan Sunda Kalapa bisa menjadi alternatif destinasi wisata di Jakarta. Tempat ini keren bangeeeeettt ^^

Lanskap Pelabuhan Sunda Kalapa

Namanya juga pelabuhan, bising mesin kapal acap kali memanjakan gendang telinga kita. Oh iya, panasnnya udara pinggir laut memaksa Anda harus membawa payung. Lumayan boo panasnya. Tapi karena kemarin-kemarin saya dadakan mau ke sini dan sama sekali tidak ada pengetahuan tentang tempat ini, jadi ya persiapan seadanya: kamera dan uang. Eeeerrr.

Banyak objek menarik yang membuat rana kamera saja tidak berhenti menangkap cahaya. Kita boleh membawa sepeda atau sekedar jalan kaki menyusuri tiap bata pinggir pelabuhan. Kapal-kapal besar menepi. Pekerja sibuk membersihkan kapal, mendempul bagian kapal yang rusak, atau mengecat kembali badan kapal agar terkesan gagah menantang ombak samudera. Layar-layar digulung. Tiang penyangga diteliti kekuatannya. Jemuran-jemuran menggantung di jendela ruang khusus nahkoda. Sekelompok pelayar berbincang ringan ditemani kopi di sudut warkop yang berjejer. Seseorang asyik membaca koran, mengejar berita aktual di darat sementara ia sibuk menerka arah angin di lautan lepas.

'Parkiran' Kapal

Tenggelam dalam Berita Darat

“Mau keliling, Mbak?”

Seorang lelaki tambun dengan rokok yang ia semat di antara bibirnya menyapa. Saya mengangguk saja. Tak lama kemudian, saya mengekornya menjejak tangga yang bertengger di pinggir pelabuhan, menaiki sebuah perahu sampan, menjelajah sisi lain Pelabuhan Sunda Kapala. Yeeeeaaahh, kalau kalian berkunjung kesini, jangan lupa rasakan sensasi mengelilingi pelabuhan dari jalur laut. Sepertinya memang ada perahu kecil khusus wisatawan. Harga sewa perahu yang bisa dinaiki 3-5 orang ini hanya Rp 30.000 saja. Kalau patungan, murah bangeeeet.

Lelaki 50 tahunan itu menyalakan generator. Dengan sedikit goyangan, dan ini berhasil membuat saya ketakutan, perahu berlayar perlahan. Pemandangan pelabuhan dari laut menarik perhatian. Deretan kampung yang menyatu dengan laut dan hanya dibatasi oleh beton rendah. Perahu-perahu kecil bersandar. Tiang-tiang kapal menjulang. Truk-truk besar membongkar muatan.

Tiang Penyangga

Senyum Penjaga Kapal

Dari jendela-jendela tanpa tirai, saya dengan leluasa bisa melihat keadaan rumah-rumah di perkampungan pinggir pelabuhan. Anak-anak bermain lompat karet. Ada yang belajar. Menyetrika.  Ibu-ibu membawa cucian. Seorang nenek menggendong cucu. Ada yang melambaikan tangan kepada saya. Saya balas melambai. Senyum dan sapa mereka meneduhkan meskipun panas terik di atas kepala semakin menyengat.

Kampung Pasar Ikan

Angkutan Laut

Sambil sesekali mendayung, lelaki ubanan di hadapan saya bercerita panjang. Keputusan mengelilingi pelabuhan dengan kapal ternyata mengantarkan saya kepada suatu perjalanan akbar. “Perjalanan sejarah”, katanya. Perjalanan yang mengisahkan sejarah panjang Pelabuhan Sunda Kalapa dari zaman Kerajaan Pajajaran hingga zamannya Pak Beye. Deru mesin perahu yang kencang memaksa saya berusaha keras menangkap penjelasan Bapak Pendayung yang timbul-tenggelam.

“Dulu namanya Kalapa, Mbak, nggak ada Sunda-nya. Tapi ya karena pelabuhan ini milik Kerajaan Pajajaran alias Kerajaan Sunda, jadi dikenalnya Sunda Kalapa.”
“Wah, saya tahu tuh Kerajaan Pajajaran ibu kotanya Pakuan lho, Pak, sekarang namanya Bogor, tempat saya tinggal.” Ada gunanya juga nih saya belajar Basa Sunda belasan tahun ^^. Tapi yang saya hapal itu doang -_____-
“Oh, Mbak dari Bogor?”
“Iya Pak. Terus terus?”

Bapak Pendayung mengisap rokoknya dalam-dalam. Seolah mencari sejarah yang terlupa di antara serat tembakau dalam gulungannya. Asap rokoknya yang mengulum ke udara tidak begitu saja menghilang. Saya benci orang merokok, tapi saya tidak mungkin melarang bapak melakukan hal itu. Biarlah, sebagai bayaran lebih yang harus saya keluarkan demi mengetahui sejarah pelabuhan ini.

Bapak Pendayung

Pelabuhan Sunda Kalapa atau juga dikenal sebagai Pasar Ikan terletak di bilangan Penjaringan, Jakarta Utara. Dulunya pelabuhan ini merupakan pelabuhan penting Kerajaan Pajajaran sejak abad ke-12. Di antara berbagai pelabuhan Kerajaan Sunda lainnya, pelabuhan ini relatif lebih dekat dari pusat kerajaan dan termasuk pelabuhan lada yang sibuk, makanya disebut pelabuhan penting. Tepat di muara Sungai Ciliwung, pelabuhan ini berada.

Konon menurut Bapak Pendayung, perkampungan di pinggir pelabuhan yang saya lewati tadi merupakan cikal bakal berdirinya Jakarta. Kala itu, Kerajaan Pajajaran begitu gigih mempertahakan pelabuhan ini dari serangan musuh, khususnya dari Kerajaan Demak dan Kerajaan Cirebon. Untuk itu kerajaan Hindu ini meminta bantuan Portugis dengan memberikan loji (lokasi perkantoran dan perumahan yang dikelilingi oleh benteng pertahanan). Namun dua kerajaan Islam itu, khususnya pasukan yang dipimpin oleh Fatalehan berhasil mengusir Portugis dan menguasai daerah Sunda Kalapa. Maka pada tanggal ditaklukannya daerah tersebut yakni 22 Juni 1527 (disebut juga hari jadi kota Jakarta), bandar Sunda Kalapa diganti namanya dengan Jayakarta. Nah, mulai saat itulah nama Jakarta berasal. Namun sebelumnya berganti nama dulu menjadi Batavia oleh Belanda sebelum akhirnya diganti menjadi Jakarta oleh Jepang.

“Sama seperti pelabuhan lainnya di Indonesia, pelabuhan ini juga menjadi saksi bisu kemerdekaan Indonesia. Bapak memang hanya sebentar hidup di zaman penjajahan. Namun mengetahui sejarah pelabuhan ini dan merasakan lagi perjuangan negeri ini, membuat Bapak mengakui bahwa pelabuhan ini sangatlah besar sejarahnya.”

Saya menegak ludah. Zaman dulu sekali, di tempat saya berlayar terjadi pertempuran hebat demi mempertahankan kekuasaan dari penjajah. Sungguh, sebuah tempat berdarah lain yang pernah saya kunjungi selain situs-situs bersejarah yang pernah saya jelajahi bersama keluarga di Jawa dan Bali. Dan sebagai wisatawan sejarah, saya seperti tidak punya kekuatan apa-apa. Saya hanya mampu melihat-lihat. Merasa prihatin dengan pejuang dulu. Menikmati keindahan alam yang pernah terjajah dan berhasil dimerdekakan. Yeah, saya hanya seorang penikmat. Sedangkan menurut teman intelektual saya, negara ini pun meski sudah merdeka tapi tetap terjajah. Soft war. Atau meminjam kalimat Mama saya, “Kita sedang mengalami perang pemikiran.” Dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Miris kah?

Perahu saya berputar. Kami sudah sampai di ujung trayek. Saatnya kembali menuju tempat perahu ini memulai menderu.

“Sekarang tempat ini menjadi tempat melabuh kapal-kapal pengangkut kayu dari Kalimantan ke Jawa, atau sebaliknya. Walau namanya tidak setenar Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan ini juga turut andil dalam perekonomian kita. Cuman ya itu, Mbak …”

Lautan Sampah

Bapak Pendayung menggantungkan kalimatnya. Oh, ternyata beliau sedang membetulkan mesin bagian bawah yang tersangkut oleh botol plastik. Sepertinya saya tahu kalimat penyambungnya.

“Semuanya dari Ciliwung, ya Pak? Nggak ngerti juga saya bagaimana bagusinnya. Kalau Fatalehan masih hidup, mungkin kita bakal dimarahin. Pelabuhan sebegini pentingnya kok jorok.”

“Yah mau bagaimana lagi?” Sebagai generasi tua, saya memaklumi beliau yang sudah menyerah dengan kebersihan Sungai Ciliwung dari tumpukan sampah yang beribu ton beratnya. Harusnya sebagai anak muda, saya bisa bergerak untuk … yah … setidaknya nggak bikin Fatalehan marah lah. Tapi gimana ya?

Kapal Khusus Pembersih Sampah Laut

Gampang menjawabnya. Butuh campur tangan pemerintah, pihak swasta, organisasi perduli lingkungan, dan masyarakat yang serius mengurus kesehatan sungai. Klise. Sampai saat ini pun telah banyak agenda dan berbagai rencana kegiatan membersihkan Sungai Ciliwung dari hulu ke hilirnya. Kita patut mengapresiasi. Apalagi kalau bisa berkontribusi, pasti keren banget. Yeah, ini semua tanggung jawab kita. Pasalnya warga penghuni kampung pinggir Pelabuhan Sunda Kalapa memanfaatkan sebagian besar air laut yang tercemar sampah untuk kebutuhan hidup mereka. Yuk jaga kebersihan laut kita ^^

2 comments:

  1. yang paling atas keren foto nya, kaya di film apa gtu, *garuk2 idung, mikir.

    ReplyDelete