9/1/12

Saya si Jerapah Abu-abu

Hai, siapa pun!

Satu, dua, tiga, atau empat. Mungkin lebih dari itu. Entahlah, saya tak pernah menghitungnya. Diantara semua angka yang ada di salah satu planet di galaksi Bima Sakti. Sejumlah yang tersebut. Sejak saya SD hingga kuliah. Diantara teman-teman saya, pernah menyebut saya “Jerapah”. Entah berapa orang.

Kenapa? Karena saya tinggi. Dan bukan rahasia lagi, jerapah adalah binatang yang tinggi. Satwa darat paling tinggi di dunia.

Terlepas dari itu, saya merasa ejekan itu ada benarnya juga.

Saya seorang jerapah dengan tanda kutip dua mengapitnya. Hihihi. Jerapah. Dengan leher jenjangnya, ia dapat memakan pucuk daun di pohon tertinggi. Sendiri. Tanpa bantuan apa dan siapa pun. Ia juga mudah menjangkau permukaan. Memanjakan lidahnya dengan belaian rumput segar. Atau sekadar berkenalan dengan serangga tanah. Semuanya berada dalam jangkauannya.

Tak jarang terlintas di pikiran saya, bahwa segalanya harus dalam jangkauan saya. Perlahan, sifat inilah yang menjengkelkan diri saya sendiri. Saya selalu mencari. Tidak pernah merasa telah menemukan. Membuat saya lelah. Namun tidak pernah mau berhenti.

Dan kadang, ibarat warna, saya ini abu-abu. Sulit mengontrol diri untuk menjadi putih. Tapi juga tidak mau menjadi hitam. Tapi kata Ayah, “Jadi orang jangan terlalu idealis.” Di matanya yang mulai menua, tidak salah berwarna abu-abu.

Saya si Jerapah berbulu abu-abu. Salam kenal, siapa saja!

1 comment:

  1. Blogger baru yaa?? Salam kenal, lanjutkan menulisnya.. ^^

    Mampir2 juga yaa
    http://forsum.wordpress.com/

    ReplyDelete