Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

5/30/13

Si Roti Gambang

apa lo lihat-lihat?!


Semakin kosong waktu kita yang ada, semakin lengkap terlihat. Semakin lengkap kita, entah kenapa saya semakin merasa akan ada yang hilang. Ya, saya paham bahwa segala sesuatunya butuh pergerakan. Kamu pun butuh berpindah, tidak melulu tinggal di titik ini. Kamu harus beranjak ke titik berikutnya, untuk menyiapkan perjalanan ke titik yang lainnya lagi. Ketika Juli pun kian mendekat, kehilangan ini ternyata harus mencekat.

Sore pada pertengahan bulan Rajab indah, tapi ya seperti biasa. Gumpalan awan merah merefleksikan senja yang semakin tua. Sementara langit di kananmu mendung membawa berita hujan. Kita sama-sama tahu, langit itu biangnya paradoks, semua yang bertolak belakang bisa terhidangkan di bawah tudung saji kuasa Allah.

“Aku bakal kangen banget sama Bogor, nih, Kak,” ucapanmu terdengar sayup-sayup dari balik pintu.

“Halah, sok melankolis banget, sih,” ejek saya sambil melanjutkan menyapu yang sempat terhenti oleh kalimatmu yang tidak biasa.

Kamu duduk di kursi tua yang berkali-kali kita lem di tukang reparasi rotan. Everything, in this home, is getting older. Itu yang akhir-akhir ini saya ocehkan. Si gesit irit kita mulai terbatuk-batuk. Dulu bunyinya bruuum bruuum gagah. Sekarang tek tek tek kotek tek tek. Knalpot motor tua kita tidak sanggup lagi terlentang tegak. Ia patah tulang, jaraknya tidak sampai 10 cm dari aspal jalanan. Ayah tidak bosan mengingatkan, “Ayah ini sudah nggak bisa lagi minum kopi dan makan yang pedas-pedas, nanti ujung-ujungnya ke kamar mandi terus. Kok kayaknya gampang banget ya perut ini membersihkan diri?” Tuhan, apa waktu beliau sudah dekat? Jangan dulu dong, saya belum bisa kasih apa-apa.

Sekali lagi, segalanya mulai menua di rumah kita. Kamu juga, mulai tua. Kata Ayah, “Lihat, Kak, adikmu sudah segede ini.”

Kamu mendongakkan kepala, menantang langit, menebar rindu, mencuri-curi memori. Angin kadang menggoyangkan rambutmu yang menggondrong. Ponimu 15 cm panjangnya. Saya suka memain-mainkan rambutmu. Membelah tengah. Menyematkan kacamata bingkai persegi milik Mama. Membuatmu terlihat culun. Sudahlah, kamu jadi culun saja ya.

“Aku mau pelihara kumis, ah. Kan, keren, Kak. Laki!”

Jangan cepat tua dong, nanti nggak lucu lagi.

Menjadi saya, sering saya ingin ketawa sendiri. Ternyata menjadi kakak dari dua adik laki-laki itu seru. Apalagi mengikuti perkembangan kedewasaan mereka.

“Kak, aku minta lagu-lagu di laptop Kakak dong.”
“Lagu apa?”
“Apa aja. Efek Rumah Kaca. Payung Teduh. Dialog Dini Hari enak nggak, Kak? Sore?”
“Ah, mau jadi anak kuliahan, kamu? Mulai dengerin lagu indie nih ye. Ikut-ikut Kakak mulu.”

Dan siang tadi saya tertawa di boncenganmu karena akhir-akhir ini kamu manja sekali. Memang biasanya manja, tapi sekarang manja sekali. Kamu bertingkah kekanak-kanakan. Menelusup di tengah kemacetan Jalan Sholeh Iskandar jadi tidak membosankan. Bahkan mungkin berhasil menaikkan keimanan saya. Saya harus beristighfar berkali-kali karena hampir keserempet mobil. Haduh.

“Kita makan dulu, yuk?”
“Aku nggak bawa duit.”
“Aku yang bayarin.”
“Asiiiiik.”
“Beli dua porsi aja.”
“Iya.”
“Piringnya dua, Bang.”
“Jangan, Kak, satu aja. Kita makan sepiring berdua.”
“Nggak muat somay-nya.”
“Muat, kan, Bang?”
Abang tukang somay di hadapan kita terpaksa masuk ke dalam percakapan tidak penting, antara satu piring atau dua. “Piringnya gede, kok, Mbak.”
Kamu tersenyum menang. Maksa banget, sih nih bocah.

Ini bukan kali pertama kita menyempatkan waktu bersama. Kamu pasti tahu, kalau sudah begini, saya akan berbicara apa saja. Tidak bosan, kah mendengar yang itu-itu lagi? Apa kamu sengaja?

“Jadi mahasiswa itu nggak gampang,” mulai saya. Kunyahan somay-mu melambat, saya harus masuk di jeda yang kamu buat. “Kamu bakal menentukan jam berapa bangun tidur, dimana cari makan, menyiapkan baju, mencari ikat pinggang sendiri. Nanti hidupmu akan jauh berbeda dengan hidup di rumah. Nggak ada yang bisa ambilin handuk kamu karena kamu malas bawa handuk sebelum mandi. Nggak ada yang teriak-teriak bangunin Subuh. Nggak ada yang menyimpan piring bekas kamu makan di westafel. Nggak ada yang paksa kamu belajar malam-malam. Semuanya harus kamu sendiri yang kerjain. Belajar mandiri.”

Kamu menyeruput kopi dingin saya. Hei, minum punyamu sendiri -.-‘

“Kamu harus tangguh. Belajar yang rajin. Lawan kemalasan. Ingat, kan kata Kak Azima kemarin? Anak-anak tahun pertama banyak yang ngulang karena keasyikan main, nggak ada yang kontrol soalnya. Kakak juga mau kontrol kamu gimana? SMS? Kakak nggak percaya, hehehe.”

Saya terus saja berbusa wangi. “Yang penting mata kuliah yang kamu ambil saat itu harus lulus semester itu juga. Jangan ngulang. Biayanya mahal.”

“Tapi pasti lulus, kan?”

“Ya lulus, kalo kamu belajarnya rajin. Bukan kecerdasan yang bikin Kadek memperoleh nilai UN SMA tertinggi di Indonesia, tapi ketekunan.”

“Iye.” – tidak ada cemberut di mukamu. Hihihi tumben.

“Kalo sempat, naiklah ke gunung bareng teman-teman kamu.” – hahaha, yang ini tetep ya broooo. Usaha banget nih biar ada yang mau patungan beli tenda. Err.

Kamu menggeliat. “Yeee sih kakak, aku kan bukan kakak.”

“Oh iya, kamu kuliah jangan bisnis mulu. Keasyikan jualan waktu SMA ntar kebawa-bawa pas kuliah.”

“Kan lumayan buat nambah uang jajan. Nambah relasi juga. Lagian di Bandung banyak distro bagus.”

Lalu gantian kamu menceramahi saya tentang trik strategis berbisnis. Harus punya banyak teman. Link besar. Nggak perlu barang bagus yang penting lagi in dipakai anak muda. Harus berani pasang harga tinggi biar negonya nggak bikin rugi. Hahaha apa kata sampeyan dah!

Kamu jadi orang kesekian yang saya temui punya passion di bidang yang akhirnya tidak bisa kamu pelajari di bangku kuliah. Kamu terjun ke Teknik Telekomunikasi. Hei, sepertinya kamu harus berenang lebih deras dari arus air kalo masih teguh dengan impianmu. Cita-cita kita sama: punya warung kopi. Sederhana saja. Perpustakaan di sudut ruangan (kamu benci membaca, dan ini saya yang paksa). Jajaran hasil jepretan dan lukisan saya di dinding kayu. Kamu punya sense of coffee yang berlebihan, menurut saya, tapi wajib dimiliki buat orang yang mau bikin warkop modern.

“Minum kopi itu airnya harus segini biar kopinya menang. Pake gelas yang kecil. Aku lagi cobain rasa baru, nih.”

Chocochino. Dan saya tetap tidak suka kopi instan yang isinya gula doang.

“Yang ini rasanya beda, Kak,” bela kamu. Menurutku sama saja. Terlalu manis.

Percakapan makan siang kita terus mengalir. Kalo aku kuliah disini kerjanya ngapain? Kalo kerja itu kuliah apa? Mata kuliah yang aku ambil pasti nyambung ke mata kuliah berikutnya? Kuliah yang aku ambil bakal dipakai pas kerja nggak? Dan pertanyaan lainnya yang harus sabar saya jawab. Mudah-mudahan pengetahuan kamu tentang dunia perkuliahan nggak nol lagi ya?

“Tampomas banyak nggak, Kak, di Bandung?” – lagi-lagi kopi.

“Ya banyak lah. Kafe-kafe juga banyak.”

“Ngopi di kafe mah nggak nendang. Enakan ngopi di Tampomas. Angkringan malam-malam, menikmati suasana Bandung. Apalagi kalo habis hujan. Sedaaaap.”

“Kamu bisa ngopi sepuasnya deh. Tapi jangan lupa belajar. Jangan suka pulang larut malam. Nanti dikunciin ibu kos baru tahu rasa.”

Saya akui kamu punya selera yang tinggi. Tapi kalo kulinari, ndeso tenan! Hahaha. Bagus deh, makan tempe tahu terus mboten nopo-nopo lho yo.

“Tapi Kakak nggak tahu di Bandung ada roti gambang atau nggak?”

Kita tertawa. Roti dua ribuan itu selalu kamu tunggu tiap Minggu pagi di depan pagar rumah. Apakah Minggu yang akan datang kamu juga akan menanti tukang roti warna cokelat bertabur wijen itu di kostanmu? Saya senang kalo kecintaan kamu dengan roti gambang juga berdampak pada gaya hidupmu. Menjadi mahasiswa, maka mendesa lah, merakyat saja. Kamu bisa kuliah begini juga pakai bayaran pajak orang susah. Kamu kuliah itu supaya bisa menyejahterakan yang susah. Bersusah-susahlah, Dik, hitungan Tuhan akan literan keringat yang kamu kucurkan mudah-mudahan menghadirkan kebaikan-kebaikan.

Selamat memasuki dunia perkuliahan. Kamu harus kuat!

2/2/13

Memori Lama Lauw Bakery

Mama saya percaya, "Semakin tua seseorang, hal-hal yang pernah terjadi sewaktu mudanya pasti terserap kembali, tertarik kembali ke masa tuanya. Semacam memori yang mau diulang tanpa reka." Secara tidak langsung Ibu mengakui usianya semakin senja. Tidak apa-apa, Ma. Langit senja kan langit indah.

Lalu segala hal yang terjadi dan terceritakan olehnya memaksa saya untuk ikut meyakininya. Semacam bukti akan sebuah teori anyar.

Mulai dari teman lama beliau yang sudah 30 tahun hilang komunikasi, tiba-tiba meneleponnya. Mama lupa bertanya darimana temannya mendapatkan nomor ponselnya saking tidak percaya. "Dulu suaranya cempreng, Kak. Sekarang tetap aja begitu walau agak bergetar di ujungnya."

Pendukung teorinya yang lain adalah ketemunya foto-foto masa kecilnya yang sudah lama terselip di antara tumpukan buku-buku tua yang tersusun tidak rapih di rumah kami. Dulu Mama seorang penari tradisional, tari Jaipong sampai tari Bali pernah ia kuasai. Mama juga pernah melakoni Ramayana pada perhelatan wayang orang di TVRI. Sebuah foto usang melukiskan ketampanan Ramayana pada paras cantik Mama.

"Menari itu melatih kesabaran," ucap beliau lirih sambil memandangi kertas 3R yang dipenuhi warna coklat daun tua. Di akhir cerita pertunjukkannya, beliau menyesali tidak mewariskan bakat menari kepada saya. "Lihat saja sekarang, kamu kan keras kepala, nggak sabaran, hatinya kayak batu. Harusnya kamu belajar menari kayak Mama, Kak."

Bibir saya mengerucut. "Kakak bisa kok menari." Saya melenggak-lenggokkan kedua tangan saya yang masih pegal-pegal. Kata Mama tarian saya mirip belalang ranting keseleo. Err.

Hingga sebuah merk roti konvensional favoritnya semasa beliau belajar di taman kanak-kanak (TK). Lauw Bakery namanya.

"Ya Allah, Kak. Mbah Uti Depok selalu sangu-in Mama roti ini kalau mau berangkat sekolah. Mama kaget sekarang masih eksis. Kemarin Mama lihat gerobaknya masih sama kayak Mama TK dulu. Waaah." Mama terpesona oleh sebuah roti. Semacam kagum yang aneh.

Saya mengambil roti tawar yang tersaji cantik di meja jati kami. Roti itu berselimut mentega dan mesis ceres dengan pinggiran roti sengaja dibakar. Rasanya biasa aja, sih. Lebih enak roti-roti lain bahkan. Tapi mungkin karena terbawa suasana, saya mengunyah pelan-pelan roti gigitan kedua, mencoba mencari rasa yang tericip oleh Mama. Ada rasa yang berbeda. Rasa masa lalu, mungkin. Boleh dibilang nikmat. Pinggiran roti yang dibakar terasa pahit dan tercium bau arang. Maklum, masih panas. Baru keluar dari oven kayaknya.

"Rasanya masih sama kayak dulu," Mama mengingat dengan mudah.

Terhipnotis oleh gigitan kedua, saya menghabiskan roti pertama dan membuat roti kedua. Kali ini bertabur susu bubuk coklat kesukaan adik ketiga saya.

Saya pernah baca tulisan Dee berjudul Madre. Cerpen itu mengisahkan kehidupan Tansen (pemuda gimbal keturunan Tiong Hoa yang menjalani hidup serba tidak teratur) yang berubah sejak dikenalkan oleh Pak Hadi kepada Madre (sebuah warisan berupa biang roti) di toko roti pinggiran Kota Tua Jakarta, Tan De Baker.

Mungkin Lauw Bakery juga punya Madre yang lain sehingga rasanya tidak tergerus zaman seperti Tan De Baker. Lalu kemungkinan ini menjadi hipotesis saya dan Mama sebelum berpergian ke bilangan Fatmawati tempat Lauw Bakery berdiri tegap meski sudah renta.

Bolehlah saya kenalkan Lauw Bakery yang berhasil memutar ulang memori Mama dan merasuknya ke ingatan saya.

Lauw Bakery sudah berdiri sejak tahun 1960an. Tepatnya ketika Mama saya lahir. Perusahaan ini memproduksi roti dengan cara konvensional dan masih tetap bertahan seperti itu hingga sekarang. Katanya sih untuk mempertahankan cita rasa yang sudah dikenal baik oleh para pecinta roti Lauw, termasuk Mama. Kalau Ronico Yuswardi bilang, "Roti yang kami buat masih mempertahankan resep dan juga tampilan yang sama seperti Lauw di tahun-tahun sebelumnya. Karena kami sadar bahwa itulah identitas yang harus kami tunjukkan kepada masyarakat Jakarta yang gemar makan roti.” Lelaki yang akrab disapa Nico ini merupakan penerus generasi kedua Lauw Bakery.

Berdiri pertama kali di Jl. R.S. Fatmawati No. 42A, Jakarta, kini roti Lauw sudah menjelajah ke seantero Jakarta. Tempat produksi dan gerai-gerainya menjamur di Pulo Gadung, Pondok Aren, Boplo, dan Bintaro. Sampai sekarang sudah ada 300 gerobak yang membantu roti Lauw membentangkan sayapnya ke Jabotabek.

Lauw Bakery memproduksi berbagai macam roti. Roti gambang layaknya tanda tangan khas nama lama ini. Selain itu, Lauw Bakery juga menciptakan roti buaya yang banyak berenang di pernikahan orang-orang Betawi, roti tawar, roti abon, roti daging, dan roti bergaya Taiwan lainnya. Baca-baca di internet, katanya Lauw Bakery mau mengeluarkan produk baru sejenis bread crumb bernama Panko. Wah, adik kecil, tumbuhlah besar dan bisa melalang buana ke kota saya ya. Mau banget saya memakan Panko.

Mama terakhir ke toko Lauw Bakery di Fatmawati waktu reunian tahun kapan tahu. Sudah lama banget. Kata beliau, bentuk tokonya masih sama. Bedanya cuman ada tambahan kusen kaca sebagai pembatas antara dunia fantasi roti Lauw dengan kesemrawutan Fatmawati. Mama mengajak saya mampir ke dunia fantasi itu pada reunian berikutnya. Kapan itu, Ma? Saya mau banget jadi telinga perjuangan eksistensi sebuah toko roti.


11/16/12

em a ma en man je a ja

Gue kagak ngarti dah. Apakah cowok terlahir sangat manja? Atau kedua adik cowok gue aja? Buktinya? NIH! Hehehe, lagi mau curhat aja sih. Maaf nyampah. Lain kali nggak nge-post sampah ini lagi deh. Tapi, apapun yang mereka lakukan, gue tetap melabeli post ini 'keluarga'. Ecieeeehh~

Kerjaan adik gue di kaca kamar gue. Aargh. Oke, saatnya panasin kompor.