Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

7/21/13

Memetik Pucuk Kehidupan 1: Menegakkan Benang Basah(?)



Waktu saya kecil, ketika napas masih bau naga (sebutan orang rumah kalau baru bangun tidur) di hari Minggu, berangkatlah kami sekeluarga ke Gunung Mas di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor. Belum jam 7 pagi, kami biasanya sudah memesan sepiring besar pisang goreng (isinya 5, pas buat kami, ukurannya besar-besar, pas buat kantong kami hehe) dan satu teko teh hangat. Jauh-jauh dari Bojong ke Puncak cuman buat makan pisang dan ngeteh? Yeah, that's us. Sebenarnya gampang saja goreng pisang dan menyeduh teh. Namun suasana sejuk di Puncak lah yang tidak bisa kami dapatkan di rumah. Lagipula kami tidak perlu terjebak macet. Berangkat pagi sekali dari rumah benar-benar meyakinkan bahwa daerah Puncak masih milik orang Bogor, bukan orang Jakarta hahaha. Dan menjadi kebanggaan sendiri bagi saya bahwa selama Februari hingga Mei kemarin saya tidak menjadi penikmat agrowisata milik PT Perkebunan Nusantara VIII saja, tetapi juga peneliti sebagai mahasiswi tingkat akhir untuk menyelesaikan kuliah sarjana saya. Aamiin. Selain meneliti, yang paling berkesan adalah tiap dua (kadang tiga) hari selama tiga bulan saya merasakan hidup di lingkungan petani teh. Bahan minuman ini banyak diseduh manis. Setelah saya mengalami sendiri proses panjang dibelakangnya hingga terbungkus apik dalam berbagai kemasan, ia tidak semanis yang dicecap lidah.

Kepada saya dan Arini (teman satu penelitian selain Bang Ucok), kepala Gunung Mas yang baru berbincang, “Menjadi ketua di sini nggak gampang. Di satu sisi kita mau produksi teh kita tinggi. Pestisida disemprot besar-besaran karena serangan hama tidak ketulungan. Namun di sisi lain kita tahu teh kita nggak bisa menembus ekspor kalau ada pestisida. Tapi produksi kita kecil. Yaaaah, begini lah, bikin galau.” Di ujung kalimatnya ada tawa kami yang miris. Berlatar belakang pertanian, membuat kami merasa prihatin dengan kondisi kebun seluas 2551 hektar itu. Apalagi kalau masalah penting di kebun adalah hama dan penyakit. Waduh, bidang kami banget itu. Kami merasa terbebani dan bersalah karena sedikit sekali yang bisa kami lakukan.

Masalah utamanya adalah hama ulat jengkal Hyposidra talaca (Lepidoptera: Geometridae), kepik pengisap daun Helopeltis theivora (Hemiptera: Miridae), dan cacar daun teh yang disebabkan oleh cendawan Exobasidium vexans. Ulat jengkal bisa memakan habis daun teh, bahkan banyak pohon yang tersisa rantingnya saja, gundul segundul-gundulnya dilahap ulat ini. Laporan terakhir menunjukkan hama yang panjangnya kurang dari jari telunjuk itu mampu menurunkan 50% kuantitas produksi daun basah. Sedangkan kepik pengisap dan cacar daun menurunkan kualitas daun. Pucuk-pucuk teh yang terserang OPT ini tidak mungkin lolos seleksi untuk diolah lebih lanjut.

Tersisa Ranting
Ulat Jengkal

Gejala Helopeltis
 
Gejala Cacar Daun Teh

Selain ketiga OPT utama, kesehatan teh juga dibayang-bayangi oleh hadirnya berbagai OPT lain yang tentu menurunkan nilai teh pasca produksi. Hama Empoasca (Hemiptera: Cicadelidae), pengorok daun Liriomyza (Diptera: Agromyzidae), penggulung daun Homona dan Cydia (Lepidoptera: Totrycidae), akar merah, hawar daun, benalu, jamur upas, serta pengganggu lainnya.

Penggulung Daun

Gejala Pengorok Daun

Itu baru dari aspek pertanian secara langsung. Masalah lainnya adalah kurangnya tenaga kerja lapangan. Di kebun seluas itu, pekerja lapangan untuk penyemprotan pestisida dan pemupukan bisa dihitung jari, sehingga praktek pengendalian molor dan kerusakan besar telah terjadi. Belum ditambah cuaca yang tidak menentu. Pagi cerah namun siangnya hujan deras. Jadwal untuk menyemprot satu blok kebun tertunda. Perilaku cuaca ini juga berdampak pada kegiatan penelitian saya. Berangkat ambil sampel pagi cerah menyenangkan, pulang ke rumah basah kuyup menjengkelkan, haduh.

Kabut

Faktor penurun pemasukan perusahaan lainnya adalah ekonomi, khususnya pemasaran. Menurut salah satu pekerja, daya konsumsi teh di Indonesia saat ini termasuk rendah dibandingkan kopi. Maaf saya tidak mengecek statistikanya. Ini saya lakukan agar segala konten tulisan ini pure berasal dari penulis dan masyarakat saja. Lanjuuuuut. Padahal kopi dan teh adalah minuman wajib warung kecil. Apa yang salah? Menurut saya, mungkin angka konsumen tingkat bawah tidak berbeda tipis dengan penikmat kopi. Namun saya sangsi dengan jumlah konsumen tingkat atas. Tengok iklan-iklan, penikmat kopi banyak diiklankan secara eksklusif, seolah meyakinkan pembeli bahwa meminum kopi akan meningkatkan prestis Anda. Café-café kopi bertebaran dimana-mana. Lihatlah iklan teh. Kebanyakan menyajikan proses produksi di pabrik lalu dikemas dalam gelas plastik. Monoton. Tidak berkelas. Yah, mungkin banyak juga café yang menyajikan teh. Tapi apakah itu berasal dari Indonesia? Pamflet kedai teh yang saya dapat belakangan ini begitu bangga mempromosikan teh asli Jepang. Teh Indonesia jarang yang masuk ke mall-mall. Sedangkan kopi? Nama-nama Toraja dan Arabika masih Indonesia punya.

Bagaimana Gunung Mas menghadapi segala sesuatu yang mampu membuat rambut rontok itu? Gunung Mas mulai mengaplikasikan pestisida nabati dari campuran umbi gadung, sereh, EM4, dan tembakau. Pestisida non organik telah membuat hama kebal. Meskipun produksi menurun, penggunaan pestisida nabati diharapkan mampu mengembalikan harmonisasi alam. Perbanyakan virus Ht-NPV gencar dilakukan. Fasilitas laboratorium diperbaiki agar langkah itu semakin mudah. Tidak hanya pengendalian secara langsung. Pengendalian HPT Terpadu juga diimbangi dengan pengelolaan kebun yang baik. Tanaman bunga-bunga ditanam sebagai makanan musuh alami, seperti parasitoid. Konversi lahan hutan menjadi perkebunan tidak lagi digalakkan.

Karena biaya operasional produksi tidak sebanding dengan pendapatan, maka pabrik teh Gunung Mas tidak lagi aktif menggiling sejak setahun lalu. Teh yang telah dipetik seluruhnya diangkut ke pabrik teh milik PTPN VIII di Gedeh, Cianjur. Kini Gunung Mas hanya serius di bidang agrowisata. Vila-vila dibangun. Sarana dan prasarana wisata diperbaiki. Trek-trek sepeda dibersihkan dari rumput yang menyembunyikan arah jalan. Rumah produksi sinetron monggo kapan saja buka lapak untuk syuting. Promosi wisata edukasi keliling kebun dan pabrik banyak dikomunikasikan ke sekolah-sekolah. Dengan kaki agrowisata inilah, Gunung Mas tetap berdiri hingga saat ini. Mudah-mudahan kunjungan keluarga saya menggendutkan kantong kebun ya hehehe. Saya dan Arini menyimpulkan bahwa orang yang bisa menjadi ketua kebun Gunung Mas adalah orang hebat yang mampu memutar otak mencari celah agar kebun tidak tutup.

Kiki Farel syuting kyaaaaaa >,<

Pesepeda

Potensi agrowisata Gunung Mas memang cukup baik. Yang saya sayangkan adalah sistem pengelolaan agrowisata di bidang kebersihan. Tidak jarang kami menemukan tumpukan-tumpukan sampah kardus nasi dan gelas plastik di kebun-kebun. Pasti itu sampah milik rombongan yang berwisata. Beberapa juga sampah makan siang pemetik teh. Sayang sekali hijaunya kebun harus bercampur dengan kotornya sampah berserakan. Jarang kami melihat tempat sampah. Kalaupun ada tidak cukup menampung sampah yang ada. Perbaikan fasilitas kebersihan itu salah satu masukan kami ya Gunung Mas selain nanti hasil penelitian ^^

Go Green katanya -.-'
“Pengelolaan kebun juga sebenarnya tergantung petinggi-petinggi negara. Kalau menterinya berlatar belakang teknologi, maka teknologi kebun yang jadi proposal utama pembangunan kami. Penggunaan alat potong mesin, misalnya. Kalau menterinya berlatar belakang pertanian, ya kami juga concern di bidang pertanian. Kami sekarang sedang menanam jeruk, manggis, jambu, dan pohon buah lain. Mudah-mudahan ada pemasukan juga dari produksi buah," kira-kira begitu lanjut Kepala Gunung Mas. Lalu kami menambahkan, “Lagipula kebun yang tidak melulu teh juga bagus untuk pengendalian hayati, Pak. Musuh alami hama lebih suka di pertanaman polikultur daripada monokultur. Semoga ada dampak positifnya ya, Pak."

Bakal Kebun Jeruk

Namun yang disayangkan Pak Kepala adalah sistem pemerintahan Indonesia yang berganti tiap lima tahun sekali membuat pembangunan kebun layaknya menegakkan benang basah. “Belum program mentri A berjalan dengan baik, eh sudah ganti mentri. Kita jadi punya PR program mentri B. Lah wong yang A belum beres, duitnya juga kurang, ditambah yang B." Beliau geleng kepala. Ia adalah orang kesekian yang saya temui yang mengakui bahwa ada yang aneh dengan sistem pemerintahan kita. Setiap orde berganti, petinggi-petingginya banyak yang mementingkan program baru supaya bisa terlihat kerjanya. Saya setuju. “Tapi ya kita bisa apa lagi?”

Menyesap teh tidak sesederhana kita menyeduh dan menikmati harumnya. Teh itu wujud kekompleksan dan kerumitan pertanian Indonesia yang harus berhasil dilalui meski dengan merangkak agar bisa mengalir bebas di tenggorokkan kita.

6/30/13

Surga itu Roma: Ada Banyak Jalan Menujunya

Seorang calon mahasiswa (A) mempertanyakan idealisme orang yang sebentar lagi meninggalkan kemahasiswaannya (B). “Lo mau ikut Indonesia Mengajar?”

Yang ditanya dengan tegas mengangguk. “Memang kenapa?” tanyanya setelah melihat lawan bicaranya cengengesan meremehkan. Mungkin maksudnya bukan meremehkan, tapi ia tidak tahu lagi ekspresi apa itu: senyam-senyum menyembunyikan tawa.

Sebulanan ini B selalu mantengin televisi swasta baru yang menayangkan kegiatan Pengajar Muda yang tergabung dalam Indonesia Mengajar. Ia yang juga aktif mengajar walau tidak terikat dalam organisasi manapun itu belajar banyak tentang metode-metode pengajaran kreatif para Pengajar Muda. Selain itu, keteguhan para Pengajar Muda menghadapi segala kondisi yang tidak biasa juga menjadi oase bagi padang gurun yang selama ini harus ia lewati.

Tulisan ini dibuat bukan untuk promosi program televisi ataupun gerakan non-profit. Apabila ingin lebih kenal dengan Indonesia Mengajar, silahkan berkunjung ke sini. Mungkin ada yang mau menelurkan idealismenya disana.

Tidak ada habis-habisnya A mencecar, “Lo yakin anak-anak itu bakal memajukan bangsa?”

Kalau sudah mengeluarkan pertanyaan goal ini, jawaban yang keluar pasti terdengar biasa, “Yang penting itu proses, bukan hasil.” Klise? Memang. Tapi semoga itu termasuk jawaban orang-orang optimis, bahwa proses yang baik pasti memberikan hasil yang baik. Izinkan saya meminjam pepatah Jawa: Sopo nandur bakal ngundhuh. Seseorang akan menuai hasil sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

“Kayak lo nggak kenal anak zaman sekarang saja.”

Tentu saja kenal. Bahkan tanpa perlu kenalan. Media saat ini begitu telanjang menggambarkan wajah-wajah yang katanya penerus (kini sedang up date kata pengubah) bangsa. Wajah anak zaman sekarang itu sama. Meski tidak semua, tapi kebanyakan: sama. Beraninya play safe. Penganut ideologi hedonisme ulung. Hobi banget ngikut-ngikut. Dan menurut si A, inilah yang membuat bangsa kita hanya berlari di tempat, tidak maju-maju, bahkan mundur karena lelah sendiri (kilahnya sih mau istirahat, tapi kesenangan istirahat, soalnya dikipasin terus sama orang asing, ujung-ujungnya menjadi asing di negeri sendiri, edan!).

“Mereka yang di pelosok nggak terkontaminasi kayak kamu, Cak!

Menurut B, globalisasi telah mengontaminasi otak anak-anak kota. Perubahan ini memang telah masuk ke urat nadi negara, tapi nilai negatifnya bisa dihentikan dengan kearifan lokal yang masih mendarah daging dalam setiap perbuatan anak ndeso. Karena kearifan lokal ini bentuknya abstrak di kota-kota, maka desa harus menjadi tameng dan vitamin tubuh bangsa. Desa bisa mengembalikan kita yang kita. Segala yang besar ada karena ada yang kecil.

“Halah, dasar mahasiswa, sok idealis. Nanti kalo sudah kerja juga bakal kontam. Lo nggak bisa berbuat apa-apa karena terikat perusahaan yang memberi makan keluarga lo. Waktu mahasiswa aktif banget menyuarakan safe our forest, let’s go green, dan segala tetek bengek slogan-slogan semu yang lo koarkan di hidung publik sampai berbusa-busa. Tapi setelah harus kerja, dan karena memang cuman dapat kerja disitu, lo harus membuka hutan jadi kebun kelapa sawit atau karet, membunuh milyaran bakteri, makin memiskinkan orang miskin dengan memberi uang demi menggusur suku-suku pedalaman. Melakukan kejahatan halus itu atas nama memajukan perekonomian bangsa. Bangsa sopo? Bangsa rai’mu!” celetuk A sambil sesekali menyesap kopinya.

Kenapa obrolan ini menjadi jauh? Si B menilai bahwa A juga termasuk anak zaman sekarang: play safe. Meskipun rada-rada kritis, tapi yang dia lakukan ya hanya itu, duduk-duduk ayu sambil ngopi, mempertanyakan idealisme, menghancurkan benteng keteguhan dengan mengakarkan sifat ekstrimis: udah santai aja, hidup sudah ada Tuhan yang mengatur, yang penting lo jadi anak baik-baik aja. Ekstrim? Iya, menurut si B itu tuh ekstrim banget.

“Yang penting kita baik tanpa perlu orang lain menjadi baik? Hahaha, mungkin lawan kata idealis adalah egois ya, Cak?”

Mask
Sebetulnya si B juga pernah seperti si A, menertawai idealisme teman SMP-nya dulu. “Saya mau jadi guru TK, mengajarkan yang baik-baik kepada yang masih suci, biar kalau sudah gede nggak kotor kayak kita-kita.” Si B tertawa keras saat itu, sampai seluruh anak yang memilih menghabiskan jam istirahatnya di kelas melototi mereka. “Halah, jangan sok idealis kamu, Nai. Susah itu. Nanti kamu capek sendiri.”

Temannya menyudahi debat kusir mereka, “Kita hidup ujung-ujung mati. Kalau sudah mati, ya tinggal pasrah bakal hidup selamanya dimana, surga atau neraka. Siapa pula yang mau hidup di neraka? Kalau Surga itu Roma, ada banyak jalan baik menujunya. Salah satunya, mudah-mudahan, ya yang kata kamu idealis itu. Masing-masing kita punya perjuangan yang berbeda, tapi tujuannya sama toh?”

Si B mengatakan hal yang sama kepada si A karena malam semakin tua. Ia sudah mengantuk. Lebih baik ia tidur dan mengisi energi buat besok daripada berdebat kusir terus.

“Halah, bisanya ngeles aja lo,” ujar A sambil menguap.

6/16/13

Mendengar


Setiap manusia itu berbeda. Jalur sidik di jari mereka tidak sama. Definisi penting yang mereka anut tidak jarang saling dipertanyakan. Karena mereka manusia, punya kepentingan yang penting masing-masing. Kata manusia A, "Karena kita berbeda, maka kita harus bicara. Supaya kita sama-sama tahu, harus ada yang diungkapkan." Lalu kalau sudah tahu, kenapa?

Manusia bernama Senja akhirnya berbicara dengan Panca dalam edisi Firasat di Rectoverso, "Kalau mendengar saja cukup, kenapa harus dipaksakan bicara?"

Memang manusia perlu mulut untuk berbicara. Namun harus ada telinga juga hati untuk mendengarkan. Sayang, karena mendengarkan adalah kata kerja 'pasif', hanya pendengar yang tahu apa yang sebenarnya mau dikatakan tapi tertolak di kerongkongan.

Ketika beliau bertanya, "Buat apa, sih?" Seketika mata merahnya membulat juga menambahkan kata. Saya mendengarkan saja. Hanya pakai telinga. Ribuan pertanyaan tercipta. Namun itu milik hati yang memilih  mendengar. Dan sulit.

5/30/13

Si Roti Gambang

apa lo lihat-lihat?!


Semakin kosong waktu kita yang ada, semakin lengkap terlihat. Semakin lengkap kita, entah kenapa saya semakin merasa akan ada yang hilang. Ya, saya paham bahwa segala sesuatunya butuh pergerakan. Kamu pun butuh berpindah, tidak melulu tinggal di titik ini. Kamu harus beranjak ke titik berikutnya, untuk menyiapkan perjalanan ke titik yang lainnya lagi. Ketika Juli pun kian mendekat, kehilangan ini ternyata harus mencekat.

Sore pada pertengahan bulan Rajab indah, tapi ya seperti biasa. Gumpalan awan merah merefleksikan senja yang semakin tua. Sementara langit di kananmu mendung membawa berita hujan. Kita sama-sama tahu, langit itu biangnya paradoks, semua yang bertolak belakang bisa terhidangkan di bawah tudung saji kuasa Allah.

“Aku bakal kangen banget sama Bogor, nih, Kak,” ucapanmu terdengar sayup-sayup dari balik pintu.

“Halah, sok melankolis banget, sih,” ejek saya sambil melanjutkan menyapu yang sempat terhenti oleh kalimatmu yang tidak biasa.

Kamu duduk di kursi tua yang berkali-kali kita lem di tukang reparasi rotan. Everything, in this home, is getting older. Itu yang akhir-akhir ini saya ocehkan. Si gesit irit kita mulai terbatuk-batuk. Dulu bunyinya bruuum bruuum gagah. Sekarang tek tek tek kotek tek tek. Knalpot motor tua kita tidak sanggup lagi terlentang tegak. Ia patah tulang, jaraknya tidak sampai 10 cm dari aspal jalanan. Ayah tidak bosan mengingatkan, “Ayah ini sudah nggak bisa lagi minum kopi dan makan yang pedas-pedas, nanti ujung-ujungnya ke kamar mandi terus. Kok kayaknya gampang banget ya perut ini membersihkan diri?” Tuhan, apa waktu beliau sudah dekat? Jangan dulu dong, saya belum bisa kasih apa-apa.

Sekali lagi, segalanya mulai menua di rumah kita. Kamu juga, mulai tua. Kata Ayah, “Lihat, Kak, adikmu sudah segede ini.”

Kamu mendongakkan kepala, menantang langit, menebar rindu, mencuri-curi memori. Angin kadang menggoyangkan rambutmu yang menggondrong. Ponimu 15 cm panjangnya. Saya suka memain-mainkan rambutmu. Membelah tengah. Menyematkan kacamata bingkai persegi milik Mama. Membuatmu terlihat culun. Sudahlah, kamu jadi culun saja ya.

“Aku mau pelihara kumis, ah. Kan, keren, Kak. Laki!”

Jangan cepat tua dong, nanti nggak lucu lagi.

Menjadi saya, sering saya ingin ketawa sendiri. Ternyata menjadi kakak dari dua adik laki-laki itu seru. Apalagi mengikuti perkembangan kedewasaan mereka.

“Kak, aku minta lagu-lagu di laptop Kakak dong.”
“Lagu apa?”
“Apa aja. Efek Rumah Kaca. Payung Teduh. Dialog Dini Hari enak nggak, Kak? Sore?”
“Ah, mau jadi anak kuliahan, kamu? Mulai dengerin lagu indie nih ye. Ikut-ikut Kakak mulu.”

Dan siang tadi saya tertawa di boncenganmu karena akhir-akhir ini kamu manja sekali. Memang biasanya manja, tapi sekarang manja sekali. Kamu bertingkah kekanak-kanakan. Menelusup di tengah kemacetan Jalan Sholeh Iskandar jadi tidak membosankan. Bahkan mungkin berhasil menaikkan keimanan saya. Saya harus beristighfar berkali-kali karena hampir keserempet mobil. Haduh.

“Kita makan dulu, yuk?”
“Aku nggak bawa duit.”
“Aku yang bayarin.”
“Asiiiiik.”
“Beli dua porsi aja.”
“Iya.”
“Piringnya dua, Bang.”
“Jangan, Kak, satu aja. Kita makan sepiring berdua.”
“Nggak muat somay-nya.”
“Muat, kan, Bang?”
Abang tukang somay di hadapan kita terpaksa masuk ke dalam percakapan tidak penting, antara satu piring atau dua. “Piringnya gede, kok, Mbak.”
Kamu tersenyum menang. Maksa banget, sih nih bocah.

Ini bukan kali pertama kita menyempatkan waktu bersama. Kamu pasti tahu, kalau sudah begini, saya akan berbicara apa saja. Tidak bosan, kah mendengar yang itu-itu lagi? Apa kamu sengaja?

“Jadi mahasiswa itu nggak gampang,” mulai saya. Kunyahan somay-mu melambat, saya harus masuk di jeda yang kamu buat. “Kamu bakal menentukan jam berapa bangun tidur, dimana cari makan, menyiapkan baju, mencari ikat pinggang sendiri. Nanti hidupmu akan jauh berbeda dengan hidup di rumah. Nggak ada yang bisa ambilin handuk kamu karena kamu malas bawa handuk sebelum mandi. Nggak ada yang teriak-teriak bangunin Subuh. Nggak ada yang menyimpan piring bekas kamu makan di westafel. Nggak ada yang paksa kamu belajar malam-malam. Semuanya harus kamu sendiri yang kerjain. Belajar mandiri.”

Kamu menyeruput kopi dingin saya. Hei, minum punyamu sendiri -.-‘

“Kamu harus tangguh. Belajar yang rajin. Lawan kemalasan. Ingat, kan kata Kak Azima kemarin? Anak-anak tahun pertama banyak yang ngulang karena keasyikan main, nggak ada yang kontrol soalnya. Kakak juga mau kontrol kamu gimana? SMS? Kakak nggak percaya, hehehe.”

Saya terus saja berbusa wangi. “Yang penting mata kuliah yang kamu ambil saat itu harus lulus semester itu juga. Jangan ngulang. Biayanya mahal.”

“Tapi pasti lulus, kan?”

“Ya lulus, kalo kamu belajarnya rajin. Bukan kecerdasan yang bikin Kadek memperoleh nilai UN SMA tertinggi di Indonesia, tapi ketekunan.”

“Iye.” – tidak ada cemberut di mukamu. Hihihi tumben.

“Kalo sempat, naiklah ke gunung bareng teman-teman kamu.” – hahaha, yang ini tetep ya broooo. Usaha banget nih biar ada yang mau patungan beli tenda. Err.

Kamu menggeliat. “Yeee sih kakak, aku kan bukan kakak.”

“Oh iya, kamu kuliah jangan bisnis mulu. Keasyikan jualan waktu SMA ntar kebawa-bawa pas kuliah.”

“Kan lumayan buat nambah uang jajan. Nambah relasi juga. Lagian di Bandung banyak distro bagus.”

Lalu gantian kamu menceramahi saya tentang trik strategis berbisnis. Harus punya banyak teman. Link besar. Nggak perlu barang bagus yang penting lagi in dipakai anak muda. Harus berani pasang harga tinggi biar negonya nggak bikin rugi. Hahaha apa kata sampeyan dah!

Kamu jadi orang kesekian yang saya temui punya passion di bidang yang akhirnya tidak bisa kamu pelajari di bangku kuliah. Kamu terjun ke Teknik Telekomunikasi. Hei, sepertinya kamu harus berenang lebih deras dari arus air kalo masih teguh dengan impianmu. Cita-cita kita sama: punya warung kopi. Sederhana saja. Perpustakaan di sudut ruangan (kamu benci membaca, dan ini saya yang paksa). Jajaran hasil jepretan dan lukisan saya di dinding kayu. Kamu punya sense of coffee yang berlebihan, menurut saya, tapi wajib dimiliki buat orang yang mau bikin warkop modern.

“Minum kopi itu airnya harus segini biar kopinya menang. Pake gelas yang kecil. Aku lagi cobain rasa baru, nih.”

Chocochino. Dan saya tetap tidak suka kopi instan yang isinya gula doang.

“Yang ini rasanya beda, Kak,” bela kamu. Menurutku sama saja. Terlalu manis.

Percakapan makan siang kita terus mengalir. Kalo aku kuliah disini kerjanya ngapain? Kalo kerja itu kuliah apa? Mata kuliah yang aku ambil pasti nyambung ke mata kuliah berikutnya? Kuliah yang aku ambil bakal dipakai pas kerja nggak? Dan pertanyaan lainnya yang harus sabar saya jawab. Mudah-mudahan pengetahuan kamu tentang dunia perkuliahan nggak nol lagi ya?

“Tampomas banyak nggak, Kak, di Bandung?” – lagi-lagi kopi.

“Ya banyak lah. Kafe-kafe juga banyak.”

“Ngopi di kafe mah nggak nendang. Enakan ngopi di Tampomas. Angkringan malam-malam, menikmati suasana Bandung. Apalagi kalo habis hujan. Sedaaaap.”

“Kamu bisa ngopi sepuasnya deh. Tapi jangan lupa belajar. Jangan suka pulang larut malam. Nanti dikunciin ibu kos baru tahu rasa.”

Saya akui kamu punya selera yang tinggi. Tapi kalo kulinari, ndeso tenan! Hahaha. Bagus deh, makan tempe tahu terus mboten nopo-nopo lho yo.

“Tapi Kakak nggak tahu di Bandung ada roti gambang atau nggak?”

Kita tertawa. Roti dua ribuan itu selalu kamu tunggu tiap Minggu pagi di depan pagar rumah. Apakah Minggu yang akan datang kamu juga akan menanti tukang roti warna cokelat bertabur wijen itu di kostanmu? Saya senang kalo kecintaan kamu dengan roti gambang juga berdampak pada gaya hidupmu. Menjadi mahasiswa, maka mendesa lah, merakyat saja. Kamu bisa kuliah begini juga pakai bayaran pajak orang susah. Kamu kuliah itu supaya bisa menyejahterakan yang susah. Bersusah-susahlah, Dik, hitungan Tuhan akan literan keringat yang kamu kucurkan mudah-mudahan menghadirkan kebaikan-kebaikan.

Selamat memasuki dunia perkuliahan. Kamu harus kuat!

5/28/13

See You

Nowhere to Go
Saya ingin sekali pergi ke suatu tempat, dimana tidak ada orang di sana. Saya hanya sendirian saja. Jangan ada siapa-siapa.

Ya, tidak mungkin lah.

Kenapa? Tentu saja mungkin.

Tentu saja tidak mungkin. Memang dunia ini hanya ada kamu seorang?

Memang tidak. Tapi masa di dunia seluas ini tidak ada tempat kosong? Harusnya ada satu tempat yang saya hanya manusia seorang, sejauh apapun itu.

Kenapa harus sendirian?

Kamu tahu, kan saya bukan orang yang bisa lepas dengan orang lain?  Saya tidak mudah mengutarakan apa saja, bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Biar semua saya yang rasakan. Tidak dengan orang lain. Biar saya lepaskan semua kepada Tuhan.

Ya ya, saya tahu. Kamu memang begitu. Ramai bersama orang padahal jiwa minta sendiri. Maaf saya bertanya.

Saya mau sendirian saja mendaki hingga puncak gunung, tidak harus yang tertinggi. Atau sendirian merasa desau angin pantai, mendengar desis deru ombak. Sendirian saja. Dan, yeah, dengan Tuhan, yang selalu mengamati saya dari Arsy-nya yang tinggi di atas sana. Saya ingin berdua saja dengan Tuhan.

Kamu mau ngapain memang?

Saya mau sendirian saja ke tempat yang jauh, berbicara dengan Tuhan. Mengadu semuanya dari A sampai Z. Saya mau bilang kalau perahu saya ingin segera melabuh. Saya kira saya sudah menemukan dramaganya. Saya perlu angin dari Tuhan agar meniupkan layar saya kesana.


Tapi saya tidak tahu apakah pelabuhan ingin saya menjangkar kepadanya. Harapan kami jelas sama, tapi apakah masing-masing jelas kepada masing-masing yang lain? Saya tidak tahu. Kalau saya sih iya. Kalau dia, saya tidak tahu.

Makanya kamu memilih menghindar?

Mungkin menghindar. Saya tidak tahu pasti. Saya merasa waktunya belum sekarang. Tidak tahu kapan. Saya tahu kamu tahu, jika belum terikat syariat, tidak boleh kami tidak menjauh satu sama lain. Kekuatan Tuhan itu besar. Saya takut kenapa-kenapa kalau melanggar.

Tapi kamu manusia, bukan makhluk suci. Kenapa bila melanggar?

Toh kalau bisa dihindari, kenapa pelanggaran harus kita jalani? Ya, sebagai manusia ini tidak mudah. Saya pelan-pelan sedang menghindar.

Hm … Tapi kalau ternyata ia memang bukan pelabuhanmu, bagaimana?


Bagaimana?

Tidak tahu. Saya belum pernah merasakan yang sebesar ini. Saya terlalu yakin. Bukankah keyakinan itu baik?

Yakin atau napsu?


Sebelum kamu melabuh, selamilah kedalaman hatimu dulu. Apakah ia pelabuhan yang tepat?

Mana saya tahu. Saya rasa ia tepat. Tapi saya tidak tahu apakah memang dia? Makanya saya mau pergi ke sepi yang jauh. Ke tempat dimana tidak ada desakan orang-orang. Atau tidak ada perasaan bersalah saya kepada orang lain. Saya mau sendirian bertanya kepada Tuhan, “Apakah ia pelabuhan yang tepat? Dimanakah sebenarnya ia berada? Ia yang katanya sudah digariskan bahkan ketika saya belum bisa mengunyah.”

Lalu kalau Tuhan menjawab pertanyaan itu, apa kamu siap?

Jujur saja, saya belum siap menghadapi kenyataan apapun yang akan terjadi. Namun kenyataan yang selama ini mengambang, membuat saya capek. Mau tidak mau saya harus siap, meski saya belum siap. Selama berjalannya waktu, mudah-mudahan saya jadi siap.

Apa menghindar itu membuat capek?

Lebih tepatnya membuat saya tidak tahan. Kamu tahu, kan maksud saya? Ini sulit. Sekali.

Kalau begini saja kamu sudah menyerah, bagaimana nanti?

Kamu tidak tahu sih bagaimana menjadi saya?

Tentu saja saya tahu. Saya kan kamu. Kamunya saja yang selalu menolak.


Saya kira ini cara Tuhan mengujimu. Menguji kita, maksudku. Apakah kamu, eh kita, eh saya, eh siapa pun, saya pakai kamu saja ya?

Terserah.

Saya kira ini cara Tuhan menggiringmu dalam sebuah perjalanan. Bahkan semua ini mungkin perjalanan itu. Bagaimana kamu benar-benar teguh pada tujuanmu, yang menurutku, suci itu. Saya tahu kamu benar ingin melabuhkan diri. Tapi apakah kamu teguh kepadanya? Hei, selain perahu, bukannya kamu juga pendaki? Harusnya kamu paham bagaimana proses mencapai puncak, dong. Tanjakan terjal, batu licin, tertusuk duri, kehujanan, banjir keringat. Seharusnya ini mudah.

Hei, mendaki gunung itu tidak sesulit ini. Ketika mendaki gunung, saya dalam keadaan terdesak harus selalu melawan kesusahan karena saya juga harus pulang dengan selamat. Nah, kalau ini? Kenikmatan-kenikmatan yang ada malah melalaikan saya.

Makanya, Tuhan menguji keteguhanmu. Ternyata memang benar, kenikmatan itu ujian yang paling berat. Berjuang melawan kenikmatan dunia demi kenikmatan akhirat itu keren!

Dan sulit. Jangan lupa itu.

Mungkin juga ini cara Tuhan untuk membuatmu lebih siap. Kamu tahu, bukan berarti setelah melabuh, kamu bisa menjangkar dimana pun. Banyak batu-batu besar yang akan menyulitkan jangkarmu menancap. Setelah menjangkar pun, kamu akan dihadapi dengan kenyataan bahwa tidak kamu saja yang berlabuh, tapi juga kapal-kapal lain, ya walaupun kamu punya lisensi khusus. Toh dunia ini tidak hanya ada satu perahu dan pelabuhan saja. Akan banyak kapal yang berlabuh di pelabuhan. Datang. Pergi. Bahkan mungkin segera pergi, tapi mampu membuatmu sesak lagi. Akan banyak pelabuhan yang menawarkan peristirahatan untukmu, padahal kamu sudah punya pelabuhan khusus.

Tapi kan nanti kami akan terikat perjanjian. Itu tidak akan sesulit sekarang.

Lho. Mana kamu tahu? Memangnya kamu Tuhan yang bisa tahu akan bagaimana nanti? Bukan, toh? Jalan kamu masih panjang. Dan jalan yang sedang kamu tapaki ini, segala prosesnya, harus menjadi bekal untuk perjalanan selanjutnya.

Hei, sadarkah kamu pembicaraan ini terlalu jauh? Saya hanya ingin ke suatu tempat dimana saya bisa berbincang sepuasnya sendirian. Itu saja. Ada tidak? Dimana? Kenapa jadi ke pelabuhan?

Lho, bukankah kamu ingin mengadu tentang pelabuhan makanya butuh tempat menyendiri?

Iya. Dimana?

Bisa dimana saja, menurutku. Tidak harus jauh. Tidak di ketinggian gunung atau kedalaman laut. Tidak harus teriak-teriak. Tidak juga ditulis pada kertas yang dilarungkan ke riak-riak. Tuhan Melihatmu, kamu sendirian atau di keramaian pasar. Ia Mendengar ke kedalaman hatimu tanpa harus kamu ucapkan. Kamu hanya perlu menghadirkanNya dalam dirimu. Terbukalah. Mintalah ke Tuhanmu di mana saja dengan siapa saja kapan saja. Mintalah agar hatimu terbuka.


Pergulatan hatimu ini jangan membikin kamu lupa kalau Tuhan itu baik. Sembilan puluh sembilan nama baikNya jangan kamu sebut saja. Kenali, pahami, hidupkan dalam hidupmu. Sabarlah. Bersabarlah dalam menghindar agar tercipta ikatan yang terbaik. Bukankah Tuhan bersama orang-orang yang sabar? Bagaimana Tuhan menjawab nanti, itu adalah harga yang harus kamu terima. Maka jual belilah hanya kepada Tuhanmu dengan baik-baik.

Hei, terima kasih, ya. Malam ini bagus. Saya merasakan ketenangan. Percakapan kita bolehkah saya jadi pengingat bila saya lalai?

Hei, saya, kan kamu. Mari kita saling mengingatkan.


And see you at the top of nowhere to go.