Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

11/6/13

Ketika Hujan Reda



“Hahahaha.”

Bara hampir saja tersedak teh manis hangat ketika perempuan di depannya menggoyangkan ujung kerudung hijau toskanya, kerudung yang sama dipakai ketika pertama kali mereka bertemu di Ranu Kumbolo. Bara menggeleng lalu kembali menyesap minuman favoritnya yang tertunda.

“Selalu saja begini.” Ya. Selalu saja begitu. Perempuan di hadapannya itu gemar melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Bertingkah aneh pada ruang dan waktu yang tidak semestinya. Seperti tadi. Sedang hening-heningnya, tiba-tiba tertawa. Membuat pasangan lain di warung kecil itu menoleh. “Kenapa, sih?” Bara akhirnya menyerah. Penasaran.

Perempuan itu menutup mulutnya. Kembali tertawa. Bara melotot dan memaksanya menerka sekeliling. Mata-mata menyipit. Bibir-bibir berbisik. “Kila. Lihat. Mereka menganggapmu aneh.”

Tawa Kila semakin menjadi. “Maaf maaf.” Kila berdeham. Bara menunggu jawaban.

“Aku … suka lucu aja sama hujan yang reda. Kamu perhatiin nggak tadi? Bumi seketika sunyi. Padahal sebelumnya berisik minta ampun saking derasnya. Lucu, kan?”

Bara terbengong sebelum akhirnya giliran ia yang tertawa. “Seharusnya kamu jadi penulis.” Lelaki itu mengacungkan sedotan ke ujung hidung mancung Kila.

“Ha? Kenapa ujungnya jadi ke penulis? Aku kan cuman menertawakan hujan.” Kila menepis sedotan itu. “Kamu kan penulisnya.”

“Kamu tuh,” Bara terdiam sebentar. Mencari kata yang pas untuk menggambarkan perempuan yang kini halal menjadi bagian hidupnya hampir sewindu ini. “Kamu tuh peka. Suka membaca. Bukan membaca buku ya. Itu sih abang-abang asongan juga bisa. Maksud aku, kamu suka membaca situasi, memperhatikan setiap gerak di sekitarmu, mengingat segala hal, mencari tahu yang membuatmu penasaran.”

Lubang hidung Kila kembang kempis. Matanya kedap-kedip mencari perlindungan. Otot rahangnya menegang, menahan senyum yang tidak mau Kila layangkan. Bara tahu, kalau mukanya bertambah aneh seperti itu, Kila sedang gugup. Gugup yang malu diungkapkan. Malu yang menyenangkan.

Bara persis tahu label ekspresi aneh Kila. Lelaki yang memilih memanjangkan sedikit janggutnya itu juga gemar membaca. Seperti yang Bara bilang sendiri, penulis harus rajin membaca. Khususnya membaca ekspresi. Seorang pejalan (ia paling malas kalau disebut penjelajah) seperti Bara telah mengenal berbagai ekspresi dari setiap orang yang ia temukan dalam setiap perjalanan. Bagaimana orang marah, menangis, tertawa, pura-pura tertawa, pura-pura marah, Bara paham betul, dan akan mudah memindahkan segala ekspresi ke dalam deretan kata-kata.

“Jam berapa daun trembessi menangkup saja kamu tahu. Sudahlah, kamu jadi penulis aja ya? Aku punya teman penerbitan kok.”

Hawa sejuk yang diterbangkan angin menelusup ke sela tenda warung yang terbuka. Melayangkan kenangan Bara dengan Kila sehari setelah hari penyatuan dua hati dan dua keluarga itu berlangsung. Ah. Hujan memang memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia meresonansikan ingatan masa lalu

***

Ketika itu Bara bertanya, “Mau kemana setelah ini?” Kila menjawab, “Aku mau tunjukkin kamu sesuatu yang magis!” Pasangan yang baru menikah mungkin akan pergi ke Bali atau tempat-tempat yang romantis, tapi Kila malah mengajak Bara ke kampus lamanya di bilangan Dramaga.

“Waktu aku kuliah dulu, aku suka banget lewat sini. Namanya Node Soekarno. Bukan karena namanya, tapi karena itu.” Kila menunjuk ke sebuah pohon tepat di depan Node Soekarno Fakultas Pertanian.

“Pohon apa itu?”

“Berbulan-bulan aku cari informasi, akhirnya aku tahu nama pohon itu. Trembessi. Orang Sunda menyebutnya Ki Hujan.”

Bara mendongakkan kepala. “Pohonnya gede banget.” Sebersit cahaya matahari menyelinap di antara jari-jari anak daun. Terang. Tapi tidak menyilaukan.

“Iya. Kayak pohon-pohon di Hutan Terlarang-nya Harry Potter. Raksasa. Dulu aku berkhayal kalau ada kurcaci yang tinggal di pohon itu. Hahaha. Nggak guna banget khayalanku. Tapi aku suka. Walaupun daunnya kecil, namun karena daunnya banyak dan dekat-dekat, bikin kita enak berteduh di bawah pohon trembessi. Adeeem.”

“Iya. Adeeem.” Bara mengangkat tangan, membiarkan sejuk merayapi tubuhnya. Tidak malu ikut bertingkah aneh seperti Kila. Minggu di ujung sore memang kampus tidak begitu ramai. Setidaknya tidak ada manusia lain yang tahu aku mulai ketularan anehnya Kila, bisik Bara dalam hati sambil sesekali tengok kanan-kiri, siapa tahu ada yang sedang menertawakan mereka.

“Jadi …” Kila memandang lekat lelaki tegap di sampingnya. “Walaupun daunku kecil, nggak melingkupi seluruh ruang yang panas, kalau kamu bisa melengkapi daunku, kita bisa saling meneduhkan. Nggak cuman meneduhkan kita, melindungi akar-akar kita dari panas yang berlebihan, tapi juga sekitar kita, rumput-rumput di sekeliling kita, orangtua kita, saudara-saudara kita.” Kila benar-benar memenjarakan pandangan Bara. “Aku harap kita bisa menjadi pohon yang meneduhkan.”

Bara tercekat. Perempuan ini selalu punya cara jitu membuatnya terbujur kaku. Tangan Bara membelai tudung kerudung Kila. Merasakan tiap jalur rajutan benang penutup kepala itu. Sebuah kain yang dulu sering diremehkan Bara. “Insya Allah, Kila.” Aku nggak salah pilih kamu. “Sekarang kita pulang?”

“Ntar dulu.” Kila mengecek jam di ponselnya. “Tunggu lima menit lagi.”

“Mau ngapain?”

“Kamera kamu keluarin.”

“Mau ngapain?”

“Video pencet yang ini kan? Ini buat zoom?”

“Iyaaaa. Mau ngapain sih?” Dengan tingkah aneh Kila, Bara harus terbiasa akan hal ini.

“Kamu lihat ke atas. Buruan lihat!” Kila berteriak kegirangan. “Magis banget, kan?”

Tangan Kila sibuk mengambil gambar sedangkan Bara mengikuti petunjuknya. Entah ada sihir apa, setiap pasang anak daun trembessi perlahan-lahan saling menangkup hingga akhirnya menutup sempurna. Kila hapal sekali keunikan pohon ini. Pada pukul lima sore daun-daun pohon trembessi akan menutup. Mereka akan membuka lagi pada pukul tujuh pagi ketika matahari mulai bersinar. Sebenarnya, tidak melulu pukul lima sore. Daun-daun juga akan menutup kalau langit mendung. Menutupnya daun dianggap orang Sunda sebagai pertanda akan turun hujan sehingga pohon bernama ilmiah Samanea saman ini disebut Ki Hujan.

“Aaah gila, magis banget!”

Kila menyenggol sikut Bara. “Gila?” Merengut. “Subhanallah dong subhanallah. Kuasa Allah kok dibilang gila?”

Bara terkekeh. “Eh iya subhanallah!”

***

“Yeee malah senyam-senyum sendiri.” Kila menghentikan kenangan Bara yang berlarut-larut. “Nggak mau ah. Nulis kan pakai mikir. Malas. Mikirin kamu aja aku udah mumet. Gimana kalau ditambah mikir buat nulis? Bisa-bisa kepala aku berasap, kayak kawah Candradimuka.”

“Yeee genit. Siapa suruh mikirin aku? Hahaha. Lagian menulis nggak harus mikir. Cukup duduk di depan laptop aja atau berhadapan dengan kertas, nanti tangan kamu juga gerak sendiri. Percaya deh.”

Kila menggeleng tegas. Bara mengibarkan tisu bekas di mejanya, tanda menyerah. Beradu argumen dengan orang keras kepala seperti Kila, kamu harus siap kecapekan sendiri mencari kalimat penyanggah. Kalau tidak mau capek, ya menyerah saja seperti Bara. Nanti juga Kila luluh sendiri. Bara tahu, akhir-akhir ini Kila juga sedang asyik menulis. Meskipun bukan menulis cerita perjalanan seperti Bara. Lelaki yang nyaman berkemeja dengan bagian lengan digulung hingga ke sikut itu menerka Kila sedang asyik menulis kegiatannya di Langgar Payung Pelangi.

Hujan memang sudah reda, tapi belum benar-benar berhenti. Langit masih memiliki sisa rintik yang terus saja disebar ke bumi. Dua payung milik Kila dan Bara terduduk kedinginan di luar warung. Mereka biarkan terbuka. Hujan di Bogor hari ini diramalkan tidak membuat badai. Mereka tidak perlu khawatir kalau payungnya terbang terbawa angin sehingga Bara tidak perlu repot menggulung payung. Apalagi ini masih pagi, hujan masih malu-malu. Dan mumpung masih pagi, Bara ingin berlama-lama di warung itu. Berlama-lama untuk menanyakan sesuatu yang ia timbun selama ini. Sebuah pertanyaan yang melatarbelakangi Bara bersusah payah mencari keberadaan Kila di Kota Hujan tersebut.

Segelas teh manis hangat baru tersaji di depannya. Asapnya yang mengulum ke wajah memberikan kehangatan tersendiri untuknya. “Kamu masih ingat ini?” Bara mengeluarkan secarik kertas dari saku kemejanya.

Lagi-lagi hidung Kila kembang kempis. “Kamu masih menyimpannya?”

“Gara-gara tulisan ini, aku hampir mati waktu turun dari Mahameru. Aku memang nggak begitu ngerti. Tapi kalimat-kalimat ini melengkapi kegundahan aku saat itu, bahwa apa yang kulakukan selama ini sia-sia. Aku bertebaran ke penjuru Indonesia, tapi …” Bara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Maaf.”

“Kenapa, Kila?”

Kila tertunduk.

“Kenapa kamu kasih aku kertas ini sedangkan menyebut namamu saja aku masih salah?”

“Nggak harus kenal dekat untuk menyampaikan kebaikan, toh?”

“Iya, kamu benar.”

“Lagipula, aku sebal aja sama kamu. Aku tuh iri sama orang yang bisa bepergian kemana-mana, melihat budaya luar, mencicipi peradaban, seperti kamu. Aku iri sama kamu. Aku pengen banget melakukan perjalanan. Kamu pasti tahu kan, banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari perjalanan.”

“Jangan Kila. Kalau kamu juga berjalan, berpindah, bepergian, aku akan kehilangan tempat pulang. Lalu kemana lagi aku harus kembali?”

Entah apakah ada kepiting rebus dalam pipi Kila, Bara yakin tidak. Namun tiba-tiba pipi istrinya itu memerah. “Tuh kan, kamu tuh yang cocok jadi penulis. Tukang gombal,” ejek Kila.

Bara melemparkan tisu bekasnya ke wajah Kila. “Yeee, aku serius kok dibilang lagi ngegombal.”

“Dekat-dekat ini aku sedang pengen banget ke suatu tempat. Aku sudah memastikan jadwal penelitianku kosong. Anak-anak di Langgar Payung Pelangi juga sedang fokus ujian.” Kila bersiap membayar sarapan mereka.

Bara mendengus. Dia tahu Kila akan mengatakan hal ini, tapi tidak menyangka akan secepat ini.

“Kerjamu bagaimana? Bisa cuti seminggu, kan?”

Bara membuntuti Kila keluar warung dengan diam. Tentu saja bisa. Sebulan juga boleh. Prestasi kerjanya selama ini memungkinkan Bara mengambil cuti kapanpun dan selama apapun ia mau. Malah pemimpin redaksi majalahnya meminta Bara pergi secepatnya, karena kemanapun Bara pergi, di situlah tulisan-tulisan perjalanan yang menarik akan dilahirkan. Bara menjelajah adalah sesuatu yang ditunggu orang banyak.

“Bulukumba. Tempat pengarung samudera lahir. Kapal pinisi yang baru kulihat pada lembar uang seribu. Apakah di sana sering hujan seperti di sini?” Kila menoleh dan melihat lelaki itu tidak semangat menggulung payung. Matahari mulai berani menebar benih cahaya. Sudah dipastikan hujan berhenti hari itu. “Aku tahu ini ide yang tidak menyenangkan buatmu.”

Bara memilih jalan duluan dari pada bersisian dengan Kila. Saat itu, berada di dekatnya hanya akan menambah rasa bersalahnya kepada Kila. Bara tahu Kila ingin sekali pergi ke tempat kelahirannya di Bira. Tempat dimana matahari sangat hangat. Ombak-ombak mengulum rendah. Semilir angin pantai pandai bercengkrama dengan helai nira, mengabarkan berita para nelayan menjaring ribuan ikan. Biru di seluruh lingkaran mata. Kila ingin sekali membuat istana pasir di Tanjung Bira. Dan hingga hari itu, Bara meyakinkan bahwa itu adalah satu-satunya keinginan Kila yang tidak bisa Bara wujudkan.

“Kalau diulur terus, kapan masalah ini akan selesai?”

Sebenarnya, ini bukan tentang Kila yang sangat ingin membuat istana pasir atau foto-foto di dalam dek pinisi yang baru didempul. Ini tentang sebuah perjalanan yang berat. Perjalanan maaf. Kila mengejar langkah Bara yang terburu.

“Untuk orang sepertiku, meminta maaf adalah sesuatu yang sulit, Kila. Apalagi meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanku.”


“Bagaimana kamu tahu rasanya kalau belum mencoba? Itu hanya ketakutanmu saja.” Kila mengambil lengan kiri Bara. Mengapitnya. Menggenggamnya erat-erat. “Seperti yang kamu bilang. Kekuatan sugesti. Jangan sampai ia mengalahkanmu.”

Bara melirik Kila. Merasa bangga memiliki pendamping yang sangat hafal kalimat yang ia tulis. Wanita yang selalu mengingatkannya bahwa menulis untuk diri sendiri lebih penting dari pada mengoceh hingga berbusa kepada orang lain.

“Kurasa …,” Bara melepas genggaman Kila. Kini giliran ia yang menguasai tangan Kila. “… ada penerbangan murah Juni nanti.”


Bila (dan) Lulu Bermimpi



Lulu percaya, semakin usiamu bertambah, semakin sulit kita menjawab apa itu bahagia. Namun sebagian besar orang yang ia tanya, “Apa yang membuatmu bahagia?” menjawab, “Jika mimpiku tercapai.” Semudah itu menjawab. Memang. Tapi ketika seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu bahagia?”, Lulu berusaha dengan mudahnya menjawab, “Jika mimpiku tercapai.” Tapi temannya bertanya lagi, “Apa mimpimu?” Waktu itu Lulu sedang menunggu kereta menuju Bogor. Dia lama terdiam memikirkan jawaban fundamental itu hingga akhirnya kereta yang mereka tunggu datang. Suara bising deru peluit kereta ia harap melupakannya akan pertanyaan yang sampai sekarang belum Lulu ketahui jawaban murninya.

D’oanya tidak terkabul. Di dalam kereta temannya bertanya lagi, “Jadi, apa mimpimu?” Lulu menyibukkan diri memperbaiki letak tas yang baru ia jahit kemarin. Tapi temannya terus saja bertanya. Sambil mendengus aku menjawab, “Mimpiku banyak. Tapi aku tidak tahu akan jadi apa dengan aku yang sekarang ini. Aku nggak tahu bakal jadi apa.” Selama perjalanan mereka tidak banyak bicara. Hal ini Lulu manfaatkan untuk merenung. Mungkin temannya juga melakukan hal yang sama.

Waktu Lulu ingusan dulu, ketika definisi bahagia adalah semudah Lulu bisa membeli gulali berbentuk bunga, mimpi atau cita-cita bukan sesuatu yang menyesakkan dada seperti sekarang ini. Zaman SD adalah zamannya berbagi biodata kepada teman-teman. Salah satu bagian biodata yang ia suka adalah cita-cita. Namun bagian ini ternyata cukup membingungkan mereka, “Hei, cita-cita yang kamu kasih ke aku kok beda sama cita-cita yang kamu tulis buat Vanda? Kamu tulis mau jadi dokter, tapi di Vanda kamu tulisnya pramugari. Sebenarnya cita-cita kamu apa?” Dengan senyum memamerkan gigi ompongnya, gampang sekali Lulu menjawab, “Semuanya. Aku mau jadi semuanya!” Lalu Lulu tertawa dan berjalan sok pahlawan menuju kantin sekolah. Lulu punya segudang cita-cita, kalau dituliskan semua bisa menghabiskan seluruh kertas biodata teman-temannya, makanya ia tulis berbeda pada tiap kertas yang Lulu bagikan. Tidak hanya dokter dan pramugari, Lulu juga ingin menjadi polisi wanita, diplomat, astronot, wartawan, presiden, peragawati, penulis, arkeolog, fotografer, bahkan ingin seperti Sherina Munaf. Ya, waktu kecil dulu, Lulu dengan mudahnya menyebut semua jenis pekerjaan sebagai cita-citaku. Kamu juga kan? Hahaha, tidak apa-apa. Bercita-citalah yang banyak, sebelum kamu terjun ke dalam lingkaran realita yang membatasi cita-citamu. Seperti Lulu sekarang ini.

Sekarang yang bagaimana? Sekarang dimana Lulu tidak tahu harus ngapain dengan gelarnya saat ini (semoga ini tidak termasuk kufur nikmat, semoga ini hanya suatu proses dimana ada yang harus ia pahami dan tidak perlu dipaksakan). Atau sekarang ketika Lulu tersadar bahwa menjadi semua cita-cita yang tersebar di kumpulan biodata teman-temannya adalah tidak mungkin. Atau sekarang ketika ia berada pada kenyataan, “Udah kamu kerja yang realistis aja. Sudah bagus dapat kerja di situ, masih minta yang lain. Tugas kamu sekarang cari duit yang banyak. Manusia butuh duit toh?” Sebenarnya tidak ada orang lain yang bilang seperti itu, Lulu sendiri yang membuat kalimat ini. ia terpenjara dengan kalimat yang ia buat sendiri. Masalahnya …

Jadi di sinilah Lulu. Takdir Tuhan memutuskan dia bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Sebuah sekolah yang ia kira adalah sekolah pelarian karena murid-murid yang belajar di sini adalah mereka yang dilarikan atau dikeluarkan oleh sekolah awal mereka karena berbagai masalah. Nilai rapot yang jelek, sudah 3 kali di-DO sekolah karena nakal, lambat mencerna pelajaran, tukang bolos sekolah, dan sebagainya. Lulu tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Sudah sedemikian banyak bukti menegaskan kalau sepertinya anak-anak itu tidak berniat sekolah, tapi orangtuanya tetap menginginkan anak mereka berpendidikan. Ya, disinilah Lulu (dan tentu guru-guru yang lain), menjadi sebuah lilin di pekatnya gelap.




Tapi lilin hanyalah sebuah lilin, ia mudah mati jika tertiup angin. Hari-harinya mengajar semakin tidak sesuai harapan. Nilai ujian tengah semester mereka mencengangkan dalam arti negatif. Anak-anak makin sulit diatur. Banyak yang tidak masuk sekolah dengan alasan sepele, batuk, pusing, dan alasan lainnya. Padahal jarak sekolah dengan tempat tinggal mereka hanya selemparan batu. Sering Lulu dan guru-guru lain menasehati pentingnya pendidikan, tapi seperti pepatah yang mengatakan anjing menggonggong kafilah berlalu. Buruknya, merekalah anjing itu.

Lulu adalah guru yang berputus asa? Silahkan, tampar saja Lulu. Mungkin memang itu yang ia butuhkan sekarang. Masalahnya ia berada pada titik terendahnya. Lulu hampir tidak punya harapan apa-apa pada mereka. Lulu bingung harus melakukan apa agar mereka senang belajar, atau setidaknya tahu hari ini akan belajar apa.

Hingga akhirnya datanglah hari itu. Jika hidup benar adalah roda, hari itu adalah masanya Lulu mengubah posisi, dari yang sangat dekat dengan tanah berlumpur hingga jauh dari bumi, mendekati matahari, menuju titik teratas, meski pelan sekali putarannya.

Namanya Sabila. Lulu memanggilnya Bila, mengikuti teman-temannya. Bila adalah murid baru di sekolah kami. Kepala sekolah memberitahu kalau para guru harus memberikan perhatian lebih kepadanya. Bila berkebutuhan khusus. Di bibir Luluu menyungging senyum, dalam hati dia merutuk, PR-nya semakin banyak. Sesuatu yang awalnya Lulu sayangkan, Bila datang pada lingkungan yang salah.

Siang itu pelajaran Sejarah selesai. Sementara anak-anak lain kegirangan ke luar kelas, Bila menahan Lulu untuk tetap tinggal. “Kak, bantu aku pelajaran Biologi.” Kira-kira seperti itulah yang ia dengar. Bila berbicara tidak terlalu lancar. Suaranya membulat-bulat. Lulu tidak tahu nama penyakitnya apa. Itulah kekurangan Bila yang pertama.

Bila minta dijelaskan lagi materi PR-nya untuk lusa. Sesuatu yang belum Lulu dapatkan dari murid yang lain. Bukannya membeda-bedakan, biarkan Lulu bercerita seadanya saja. Dari kalimat membulatnya itu, Lulu tersadar satu hal, apa yang ia kira selama ini adalah suatu kesalahan. Lilinnya mungkin mati, tapi Bila membawa lilin lain untuk menyalakan lilin Lulu. Bila lah sebuah gaya agar roda hidup Lulu kembali bergerak menuju titik lebih tinggi.

Di akhir penjelasan Lulu, Bila banyak bercerita, tentu dengan suara anehnya itu. Menurutnya, Bila juga kurang bisa mengontrol bicaranya. Kalimatnya lompat-lompat. Kadang bicara A belum selesai, ia mengganti ke B, lalu ke A lagi. Ini membuat Lulu sulit memahaminya. Selama berbicara, matanya juga melihat ke segala arah. Lulu pikir Bila sedang melihat apa, tapi begitulah cara Bila memandang. Bila punya cara yang unik dalam berkomunikasi.

“Aku sulit merangkum kak,” akunya. Benar. Lihat saja buku tulisnya. Tulisan-tulisannya itu bukan merangkum, tapi menyalin buku paket. Dalam menjawab pertanyaan juga begitu. Seharusnya hanya perlu dijawab satu kata, tapi dia menjawabnya satu paragraf. “Aku bingung,” katanya sambil tersenyum. Bingung bagi Bila bukan sesuatu yang salah, buktinya ia tidak takut mengakuinya. “Ini kakak garis bawahi yang sebaiknya kamu tulis ya. Nggak usah semuanya. Seperlunya saja.”

Lalu Bila bercerita film favoritnya. Perahu Kertas. Dia bisa berkali-kali memutar VCD-nya di rumah. Bahkan Bila bisa melantunkan soundtrack-nya. “Aku juga suka film Ayah Mengapa Aku Berbeda dan SLB.” Aku ragu Bila menyebut SLB atau SLD, pokoknya ada Simfoni-nya gitu, yang main Christian Bautista. “Dia jadi (Bila menyebutkan nama peran Christian yang Lulu sulit dengar). Pengajar anak-anak down syndrome gitu.” Oh, Lulu pernah nonton! Dan film favoritnya itu … Dari film-film kesukaannya, Bila seperti mencari seorang teman, atau yah seseorang yang meyakinkan bahwa dia tidak sendirian.

“Kalau jam istirahat ya aku seperti ini, seringnya main sama guru. Aku nggak suka main sama teman-teman. Apalagi sama perempuan. Aku nggak suka yang pink-pink gitu.”

“Wah, Bila tomboy dong.”

“Hehehe. Aku lebih asyik main ke ruang guru, atau jongkok saja di ruang TU, kalau tidak ya ke perpustakaan.”

Untuk apa Bila jongkok di TU? Lulu tidak menanyakannya. Biar dunia Bila saja yang menjawabnya. Mengenal orang berkebutuhan khusus bukan hal pertama baginya. Tapi bisa mengobrol sedekat ini, baru hari itu Lulu rasakan. Ternyata, Bila seru juga diajak ngobrol. Walau harus ekstra perhatian.

Bila bercerita banyak hal. Banyak sekali. Tentang buku Biologi yang dia suka karena banyak gambarnya. Tentang Matematika yang sangat dia benci. Tentang dia yang tidak mau dipanggil Tante karena kakaknya baru saja melahirkan. Tentang saudaranya yang lulusan akmil dan sekarang sedang tugas di Aceh. Tentang dia yang gampang tertidur kalau berada di dekat kakaknya yang main gitar sambil bernyanyi. Juga tentang satu hal yang sedang ia gemari dan sangat ia harapkan bisa tercapai di sekolah kami. “Aku pengen banget belajar gitar, biola, dan piano, biar kayak Kevin Aprilio. Tapi gitar harganya mahal kan, Kak? Yang asli bisa jutaan.”

Bila suka bernyanyi. Dan cita-citanya adalah, “Pengen manggung di sebuah festival musik.” Mengucapkan kalimat itu, tubuhnya bergoyang. Matanya sibuk membinarkan harapan. Lulu terka, jantungnya pasti berdegup kencang membayangkan ia bernyanyi di panggung megah dengan gitar kesayangannya. “Kemarin di Padang aku mau daftar Indonesian Idol, tapi aku harus pindah kesini. Biar saja umurku masih muda. Minimal kan 16 tahun. Aku suka banget menyanyi. Kalau mandi, aku bisa sampai dua jam. Nggak apa-apa lah umurku dinaik-naikin dikit. Aku baru 15. Hehehe.”

“Iya Pak kelapa sekolah juga cerita sama kakak kalau kamu suka bernyanyi dan main musik.”

“Oh iya? Terus bilang apa lagi kak? Aku pengen tahu orang-orang ngomongin aku kayak gimana?”

“Ya gitu. Katanya mau dicarikan guru yang bisa ngajarin gitar. Sebenarnya sih kakak punya teman yang jago banget main gitar, nyanyinya juga bagus. Dia suka manggung di kampus.”

“Aaaah, aku mau kak. Aku mau diajar kakak itu. Biarin aja kakaknya galak atau jutek, yang penting aku mau main gitar!”

“Iya sabar ya. Mudah-mudahan kakaknya bisa, soalnya dia juga mau kerja di Jakarta. Kamu berdoa aja.”

Bila menyadarkan Lulu bahwa mimpi itu tidak kenal realistis. Mimpi boleh terus dicapai setidak mampunya kamu. Mimpi tidak hanya milik anak-anak SD yang gemar berbagi biodata. Orang yang sudah besar juga boleh bermimpi. Sudah bekerja pun juga boleh bermimpi punya pekerjaan yang lain.

Tentang mimpi dan cita-cita. Sebenarnya, tidak hanya Bila. Murid lainnya juga punya mimpi yang besar dan ada caranya masing-masing untuk digapai. Misalnya Fadil. Dia pengen banget jadi pilot. Waktu Lulu minta menuliskan hal yang harus Fadil lakukan agar bisa menjadi pilot, dia menulis, “Makan wortel yang banyak.” Meskipun jawabannya mengundang gelak tawa, tapi masuk akal juga, pasalnya Fadil berkacamata. Kalau penglihatan pilot tidak jelas, nanti pesawatnya terbang tidak berarah. “Wortel ada vitamin A, kan kak? Vitamin A bagus buat mata, kan?” Lulu mengangguk membenarkan sehingga teman-teman berhenti tertawa.

Lambat laun, Lulu jadi menyalahkan diri sendiri. Sempat-sempatnya ia merasa jadi guru yang salah. Mungkin kehadiran Bila adalah tamparan Tuhan. Seharusnya menjadi posisinya sekarang ini tidak dijadikan beban. Sebagai guru, selayaknya Lulu memegang mimpi-mimpi anak muridnya dan mengingatkan kalau mereka lupa ketika malas belajar. Mereka punya mimpi yang besar. Cita-cita tambahan Lulu adalah ikut membantu mewujudkan cita-cita mereka. Yeah!!! ^^

Cita-cita tambahan? Iya dong. Dengan begininya Lulu, ia juga punya cita-cita. Mimpinya masih ada. Pertanyaannya adalah apakah dengan ingin tercapainya mimpi itu, Lulu ikhlas mengorbankan yang ada di sekitarnya? Yang ia tahu, setiap keputusan pasti membutuhkan pengorbanan. Ada yang harus dikorbankan. Sebenarnya Lulu bisa. Lingkungan juga membolehkan. Tapi, apa Lulu ikhlas? Apa Lulu tega? Apa itu egois? Apa jawabanMu Tuhan?

Fajar Memintal Senja



Jika tidak ada jika di dunia ini, semua akan terasa mudah. Tidak perlu ada yang berandai-andai tentang masa depan, yang entah apakah masa lalu menjadi bagiannya. Tidak perlu ada jika-jika pada masa lalu yang terlewati tanpa rasa yang manusia tidak tahu namanya apa. Jika saja ada yang tidak berjika di hari pertama manusia-manusia bertemu, semua tidak sesulit sekarang. Tapi jika tidak ada jika, manusia tidak akan memahami bahwa hidup sudah tertulis.

If

 Aku suka memanggilmu Senja. Aku suka setiap kali kamu mengelak, menjelaskan alasan-alasan, menumpahkan rasa malu, setiap kali aku memanggilmu Senja. “Kenapa?” Tanyamu. “Tidak apa-apa”, kataku. “Apakah pembidik cahaya sepertimu selalu membuat orang penasaran?” Bunyi tombol ranaku sepertinya tidak memberimu jawaban.

Di samping kapal terakhir, saat orang-orang menanggalkan rindu di pulau seberang dan membawa seamplop senyum untuk keluarga yang ditinggalkan, di pelabuhan bau pesing ini, aku menjawab, “Karena kamu oranye. Bukan merah apalagi kuning. Bukan hitam yang menyeramkan, atau putih yang sok suci. Bukan merah yang berani. Bukan pula kuning yang ragu-ragu. Senja itu oranye. Senja itu kamu.” – tetap seperti dulu karenaku itu.

Lalu kamu terdiam. Aku ikut-ikutan. Aku dan kamu tahu. Ada kalimat yang harusnya diucapkan
Namun terlalu malu untuk dikeluarkan. Ya, karena kita masing-masing tahu. Kita ungu. Malu-malu. Atau penuh ego?

Sudut pelabuhan tempat kita berdiri sepi. Tak ada suara yang mengusik. Sirene keberangkatan pun tertahan. Seolah tahu ada yang harusnya menahan. Tapi menahan apa? Kita sama-sama tak mau mengaku, kan?

“Senja.”

“Jangan memanggilku lagi”, katamu. Aku tertawa, sebuah marah yang bersembunyi.

“Kenapa, Senja?”

Kamu berdecak. Keras kepala, ya? Tapi kamu tidak marah, kali ini.

“Karena... senja itu.. di bumi... berada sangat jauh dengan fajar. Tidak sadarkah kau, senja tidak pernah bertemu dengan fajar? Mereka berada pada sisi yang berbeda. Penanda pagi dan malam. Peristiwa alam yang kontras dan bertolak belakang. Aku... tidak ingin... bertolak belakang denganmu, Fajar.”

“Jika memang begitu, kita harus mencari bumi, menghentikan perputarannya, bernegosiasi dengan bulan, dan menjadi matahari di derajat yang sama. Supaya tidak ada pagi dan malam, supaya selalu siang, agar hukum fajar dan senja tidak berlaku lagi di semesta, sehingga kita tidak bertolak belakang.”

Kamu mendesis. “Jikamu itu tidak realistis. Bagaimana bisa kita bertemu dengan bumi, rotasi, bulan, dan menjadi matahari di titik yang sama?”

Sekarang senja, Senja. Apakah kita bisa melihat senja yang sama, di tempat yang berbeda? Apakah awan-awan di sini juga terlukis di sana? Apakah angin sore ini ternikmati juga olehmu kelak? Apakah matahari sesakit dipenggal di sini, atau sama? Apakah kamu harus pergi?

Dan ketika roda kopermu memaksa berderit, menuntunmu dimakan mulut pintu kapal. Aku tidak bisa apa-apa. Kamu masuk dan menghilang. Tidak meninggalkan apa-apa.

Hitam di batas cakrawala menaklukan semesta. Senja hilang di tempat kita berdiri. Aku pun kehilangan Senja yang lain. Jangan salahkan aku kalau tidak bisa menahanmu. Karena kita sama-sama berjanji, untuk membiarkan kita hidup seperti apa yang takdir mau. Seperti apa yang tidak kita mau.